"(Yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka peliharalah
kami dari siksa neraka.
(QS. Aali
‘Imraan, 3:191)
By Harun Yahya
Translated By:
Mustapha Ahmad
Edited By:
Abdassamad Clarke
A catalog record
of this book is available from the British Library
ISBN 1 84200 00 9
8
Printed and bound
by:
Secil Ofset in
İstanbul
Address: Yüzyıl
Mahallesi MAS-SIT Matbaacılar Sitesi
4. Cadde No:77
Bağcılar- İstanbul / TURKEY
Pendahuluan
Pernahkah anda
memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah
diciptakan dari sebuah ketiadaan?
Pernahkan anda
berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh
dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?
Pernahkan anda
memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda,
mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita
tidak mampu melihatnya?
Pernahkan anda
berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon
dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus
daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?
Pernahkan anda
berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda
sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata
dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan
segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?
Pernahkan anda
berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi
semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan,
kesehatan dan kekuatan anda?
Pernahkan anda
memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan
datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?
Jika demikian,
pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan
dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka
jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di
akhirat?
Manusia adalah
makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka
tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan
pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.
Sebenarnya,
setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri
tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut,
fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai
terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah
kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang.
Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta
menggunakan akalnya semaksimal mungkin.
Buku ini ditulis
dengan tujuan mengajak manusia "berpikir sebagaimana mestinya" dan
mengarahkan mereka untuk "berpikir sebagaimana mestinya". Seseorang
yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah
kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui
tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah
telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan
dalam Al-Qur'an:
"Dan Kami
tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan
bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)
"Maka apakah
kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja),
dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu’minuun,
23:115)
Oleh karena itu,
yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap
orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang
ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai
selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui
kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung
jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah
terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa pada hari penghisaban, tiap
manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:
"Dan pada
hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan
tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, "Alangkah
baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini."
(QS. Al-Fajr, 89:23-24)
Padahal Allah
telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk
kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita
renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai
bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh
manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan
merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:
"Dan mengapa
mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan
langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan
yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara
manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum,
30: 8)
Berpikir Secara
Mendalam
Banyak yang
beranggapan bahwa untuk "berpikir secara mendalam", seseorang perlu
memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah
ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh,
mereka telah menganggap "berpikir secara mendalam" sebagai sesuatu
yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini
hanyalah untuk kalangan "filosof".
Padahal,
sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk
berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur'an
diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan: "Ini adalah
sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29). Yang ditekankan
di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat
tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.
Sebaliknya,
orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus
hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti
"ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan,
tidak menghiraukan, dalam kecerobohan". Kelalaian manusia yang tidak
berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan
penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup
yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan
dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam
golongan orang-orang yang lalai:
"Dan
sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 205)
"Dan berilah
mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah
diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman." (QS.
Maryam, 19: 39)
Dalam Al-Qur'an,
Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung
dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada
Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para
pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar
mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para
pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah
orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena
tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa
disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana
digambarkan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah:
"Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu
mengetahui?"
Mereka akan
menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
ingat?"
Katakanlah:
"Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang
besar?"
Mereka akan
menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
bertakwa?"
Katakanlah:
"Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang
Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika
kamu mengetahui?"
Mereka akan
menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka
dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"
"Sebenarnya
Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar
orang-orang yang berdusta." (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)
Berpikir dapat
membebaskan seseorang daribelenggu sihir
Dalam ayat di
atas, Allah bertanya kepada manusia, "…maka dari jalan manakah kamu ditipu
(disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan
mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak
digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan
menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan
di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang
salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana
sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami
peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu
melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang
menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang
melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga
seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.
Pengaruh sihir
yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:
Dibawah permukaan
bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi
sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah
sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti
bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah
telapak kaki kita!
Setiap orang
mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu
yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan
para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di
koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di
universitas tidak juga memikirkannya.
Ijinkanlah kami
mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang
telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya.
Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan
muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri
terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari
permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari
kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi
tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang
sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini
memiliki potensi bahaya yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut,
misalnya: meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di
dalamnya. Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan
kemudian menabraknya.
Mustahil orang
ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh
dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula
bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya
senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia
lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang
sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki
bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan
yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa
manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala
makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan
kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan
tanpa cacat yang diciptakan-Nya.
Contoh di atas
hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang
hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang
mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana "kondisi lalai" dapat
mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.
Manusia
mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya,
masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan
dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian.
Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara
turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada
yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik
tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan
tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh
hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan
kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin
berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa
mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan
sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak
berpikir tentang kematian.
Namun, cepat atau
lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau
tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah
kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka,
tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena
hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya
alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah
sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan
merenung.
Orang-orang yang
tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang
mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata
kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah
kepada kita dalam Al-Qur'an :
"Sesungguhnya
kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu
tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat
tajam." (QS. Qaaf, 50: 22)
Dalam ayat di
atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi
penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika
mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.
Perlu digaris
bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk
dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal
ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah
bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan
mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui
kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang
merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat
mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang
hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan
dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.
Seseorang dapat
berpikir kapanpun dan dimanapun
Berpikir tidaklah
memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir
sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja
di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun
ketika sedang makan siang.
Misalnya: di saat
sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika
menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal.
Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang
disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara
mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang
ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis,
bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat
sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan
teringat bahwa:
Allah telah
menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan
yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran
Allah.
Menyaksikan
manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka
masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika
pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini
terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki
dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau
sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan,
tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja,
menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi
tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari
sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh
berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul
atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang
suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari
orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang
akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika kita semua suatu
hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku
seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan
mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah
mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka
di dunia tak akan pernah berakhir?"
Orang yang
memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan
mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.
Sebagian besar
manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi
setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang anda pikirkan saat
ini?", maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu
yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak
manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga "berpikir" hal-hal
yang "bermakna", "penuh hikmah" dan "penting"
setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil
pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.
Dalam Al-Qur'an,
Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan
secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna
dari apa yang mereka pikirkan.
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).
Ayat di atas
menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang
berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah
dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.
Berpikir dengan
ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah
Agar sebuah
perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah
kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif. Misalnya:
seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari
dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya
dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa
iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah.
Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk
rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna. Dengan
melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan akan
memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan orang
tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada Allah
agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa
seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk
mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir
yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.
Keberhasilan
dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses
berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh
kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia
renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya
selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah
berfirman dalam Al-Qur'an :
"Dia lah
yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu
rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang
kembali (kepada Allah)." (QS. Ghaafir, 40: 13).
Tentang Apakah
Manusia Biasanya Berpikir?
Dalam bab
terdahulu telah disebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak berpikir sebagaimana
seharusnya mereka berpikir dan tidak mengembangkan sarana dan potensi berpikir
mereka. Namun ada satu hal lagi yang penting untuk dijelaskan di sini. Tidak
dapat dipungkiri bahwa hal-hal tertentu selalu terlintas dalam benak manusia
setiap saat sepanjang hidupnya. Hampir tidak ada masa, kecuali ketika tidur,
dimana pikiran manusia benar-benar kosong. Sayangnya, sebagian besar dari
pikiran-pikiran ini tidak berguna, "sia-sia" dan "tidak
perlu", sehingga tidak akan bermanfaat di akherat kelak, tidak menuntun ke
arah yang benar dan tidak mendatangkan kebaikan kepadanya.
Andaikata
seseorang berusaha untuk mengingat apa-apa yang telah dipikirkannya pada suatu
hari, lalu mencatat dan memeriksanya dengan seksama di penghujung hari
tersebut, ia akan melihat betapa sia-sianya kebanyakan dari apa yang telah ia
pikirkan. Andaikata ia menemukan sebagian dari padanya bermanfaat, maka boleh
jadi ia tertipu. Sebab secara keseluruhan, pikiran-pikiran yang menurutnya
benar adakalanya ternyata tidak akan mendatangkan keuntungan sedikitpun di
akhirat.
Seperti halnya
membuang waktu dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia dalam kehidupan
sehari-hari, manusia adakalanya pula menghabiskan waktunya secara sia-sia
dengan terbawa oleh pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Dalam ayat:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman…yaitu…(dan)
orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna" (QS. Al-Mukminun, 23 :1&3) Allah mengajak manusia agar
bersungguh-sungguh dalam masalah ini. Sudah pasti bahwa perintah Allah di ayat
tersebut juga berlaku dalam hal berpikir. Sebab pikiran-pikiran yang tidak
terkendali akan terus-menerus mengalir dalam benak seseorang. Seseorang dengan
sadar mengalihkan pikirannya dari satu hal ke hal lain. Ketika sedang dalam
perjalanan pulang ke rumah, seseorang memikirkan rencana untuk berbelanja.
Mendadak kemudian ia berpikir tentang hal lain, yakni apa-apa yang pernah
dikatakan temannya satu atau dua tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terkontrol
dan tidak berguna ini dapat berlangsung terus-menerus sepanjang hari. Padahal,
yang kuasa mengontrol pikiran-pikiran tersebut adalah dirinya sendiri. Setiap
orang memiliki kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang dapat memperbaiki
keadaan dirinya; meningkatkan keimanan, kemampuan berpikir, perilaku; serta
memperbaiki keadaan sekelilingnya.
Dalam bab ini
akan diuraikan beberapa hal yang pada umumnya cenderung dipikirkan oleh mereka
yang berada dalam kelalaian. Alasan mengapa masalah tersebut dijelaskan secara
panjang lebar adalah agar orang-orang yang lalai, dan yang membaca buku ini,
segera menyadari bahwa ketika di kemudian hari peristiwa yang sebagaimana
disebutkan di buku ini terlintas dalam benak mereka ketika dalam perjalanan ke
tempat kerja atau ke sekolah; atau ketika sedang melakukan pekerjaan yang
rutin, mereka tidak lagi berpikir tentang hal-hal yang sia-sia. Sebaliknya
mereka akan mampu mengendalikan pikiran-pikiran mereka dan berpikir segala
sesuatu yang benar-benar berguna bagi diri mereka.
Khayalan yang
tidak bermanfaat
Ketidakmampuan
dalam mengendalikan pikiran ke arah yang baik akan mengakibatkan seseorang
seringkali merasa khawatir atau mengalami peristiwa-peristiwa yang sebenarnya
belum terjadi seolah-olah telah terjadi dalam benaknya, dan terseret dalam
kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan.
Misalnya, orang
tua yang mempunyai anak yang tengah belajar untuk menghadapi ujian kadangkala
membuat sebuah skenario sebelum ujian tersebut berlangsung dalam benaknya:
"Apa yang akan terjadi jika anaknya tidak lulus ujian? Jika anak
laki-lakinya tidak memperoleh pekerjaan yang layak di masa depan, mendapatkan
penghasilan yang cukup, maka ia tidak dapat menikah. Kalaulah ia menikah, bagaimana
ia dapat membiayai pernikahannya? Jika ia tidak lulus ujian, semua uang yang
dikeluarkan untuk persiapan ujian tersebut akan terbuang percuma. Tambahan
lagi, ia akan terhina di mata orang-orang. Apalagi jika anak laki-laki teman
dekatnya ternyata lulus sedang anaknya sendiri gagal…"
Khayalan-khayalan
tersebut terus berkembang, padahal anaknya belum melaksanakan ujian. Seseorang
yang jauh dari agama akan mudah terbawa oleh khayalan sia-sia yang serupa
sepanjang hidupnya. Hal ini tentu ada sebabnya. Al-Qur'an menyebutkan bahwa
yang menyebabkan manusia terbelenggu oleh khayalan atau angan-angan kosong
adalah dikarenakan mereka membiarkan telinga mereka dibisiki oleh syaitan:
"Dan aku
(syaitan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan
kosong pada mereka ..." (QS. An-Nisaa’, 4: 119)
Sebagaimana
termaktub dalam ayat di atas, mereka yang terbawa oleh khayalan kosong, akan
melupakan Allah, tidak berpikir, dan senantiasa menerima bisikan-bisikan
syaitan. Dengan kata lain, jika seseorang yang tertipu oleh kehidupan dunia
tidak menggunakan kekuatan tekad mereka, tidak bertindak secara sadar dan
berusaha meninggalkan kondisi yang demikian, ia akan berada dalam kendali
syaitan secara penuh. Satu diantara pekerjaan syaitan yang patut diketahui
adalah senantiasa menimbulkan keragu-raguan dan khayalan-khayalan kosong dalam
diri manusia. Oleh karena itu, segala khayalan, perasaan putus asa dan
kekhawatiran seperti: "apa yang akan saya perbuat jika akan terjadi yang
demikian" terbentuk dalam benak seseorang akibat bisikan-bisikan syaitan.
Allah telah
memberikan jalan keluar dari keadaan yang buruk ini. Dalam Al-Qur'an, ketika
niatan-niatan jahat syaitan melingkupi manusia, mereka dianjurkan untuk minta
perlindungan kepada Allah dan mengingat-Nya:
"Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka
ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan
dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)" (QS.
Al-A’raaf, 7: 201-202)
Sebagaimana
disebutkan dalam ayat tersebut, mereka yang berpikir akan dapat mengetahui mana
yang benar, sebaliknya mereka yang tidak berpikir akan menuju ke arah mana saja
syaitan menyeret mereka.
Yang terpenting
adalah mengetahui bahwa khayalan-khayalan semacam ini tidak akan mendatangkan
manfaat kepada manusia. Bahkan sebaliknya, menghambat mereka dari memikirkan
tentang kebenaran, hal-hal yang penting; dan mencegah kebersihan akal dari
segala hal yang sia-sia. Manusia mampu berpikir secara benar jika akalnya telah
bebas dari pikiran yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Dengan demikian, mereka
"menghindarkan diri dari apapun yang tidak bermanfaat" sebagaiman
Allah perintahkan dalam Al-Qur'an.
Faktor-faktor
Apakah Yang Menyebabkan Manusia Tidak Mau
Berpikir?
Ada banyak sebab
yang menghalangi manusia untuk berpikir. Satu, atau beberapa, atau semua sebab
ini dapat mencegah seseorang untuk berpikir dan memahami kebenaran. Oleh karena
itu, perlu kiranya setiap orang mencari faktor-faktor yang menyebabkan mereka berada
dalam kondisi yang kurang baik tersebut, dan berusaha melepaskan diri darinya.
Jika tidak dilakukan, ia tidak akan mampu mengetahui realitas yang sebenarnya
dari kehidupan dunia yang pada akhirnya menghantarkannya kepada kerugian besar
di akhirat.
Dalam Al-Qur'an
Allah memberitakan keadaan orang-orang yang terbiasa berpikir dangkal:
"Mereka
hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang
(kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada
di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang
ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar
akan pertemuan dengan Tuhannya". (QS. Ar-Ruum, 30: 7-8)
Kelumpuhan mental
akibat mengikuti kebanyakan orang
Satu sebab yang
membuat kebanyakan orang tersesat adalah keyakinannya bahwa apa yang dilakukan
"sebagian besar" manusia adalah benar. Manusia biasanya lebih
cenderung menerima apa yang diajarkan oleh orang-orang disekitarnya, daripada
berpikir untuk mencari sendiri kebenaran dari apa yang diajarkan tersebut. Ia
melihat bahwa hal-hal yang pada mulanya kelihatannya janggal seringkali
dianggap biasa oleh kebanyakan orang, atau bahkan tidak terlalu dipedulikan.
Maka setelah beberapa lama, ia kemudian menjadi terbiasa juga dengan hal-hal
tersebut.
Sebagai contoh:
sebagian besar dari teman-teman di sekitarnya tidak berpikir bahwa suatu hari
mereka akan mati. Mereka bahkan tidak membiarkan satu orang pun berbicara
mengenai masalah ini untuk mengingatkan tentang kematian. Seseorang yang berada
dalam lingkungan yang demikian akan berkata,"Karena semua orang seperti
itu, maka tidak ada salahnya jika saya berperilaku sama seperti mereka."
Lalu orang tersebut menjalani hidupnya tanpa mengingat kematian sama sekali.
Sebaliknya, jika orang-orang di sekitarnya bertingkah laku sebagai orang yang
takut kepada Allah dan beramal secara sungguh-sungguh untuk hari akhir, sangat
mungkin orang ini akan juga berubah sikap.
Sebagai contoh
tambahan: ratusan berita tentang bencana alam, ketidakadilan, ketidakjujuran,
kedzaliman, bunuh diri, pembunuhan, pencurian, penggelapan uang diberitakan di
TV dan majalah-majalah. Ribuan orang yang membutuhkan bantuan disebutkan setiap
hari. Tetapi banyak dari mereka yang membaca berita-berita tersebut,
membolak-balik halaman surat kabar atau menekan tombol TV dengan tenangnya.
Pada umumnya, manusia tidak memikirkan mengapa berita-berita semacam ini
demikian banyak; apa yang harus dilakukan dan persiapan-persiapan apa yang
harus dilakukan untuk mencegah terjadinya peristiwa yang sedemikian
mengenaskan; serta apa yang dapat mereka lakukan untuk mengatasi masalah
tersebut. Kebanyakan manusia menuding orang atau pihak lain bertanggung jawab
atas kejadian-kejadian tersebut. Dengan seenaknya mereka melontarkan kata-kata
seperti "apakah menjadi tanggung jawab saya untuk menyelamatkan dunia
ini?"
Kemalasan mental
Kemalasan adalah
sebuah faktor yang menghalangi kebanyakan manusia dari berpikir.
Akibat kemalasan
mental, manusia melakukan segala sesuatu sebagaimana yang pernah mereka
saksikan dan terbiasa mereka lakukan. Untuk memberikan sebuah contoh dari
kehidupan sehari-hari: cara yang digunakan para ibu rumah tangga dalam membersihkan
rumah adalah sebagaimana yang telah mereka lihat dari ibu-ibu mereka dahulu.
Pada umumnya tidak ada yang berpikir, "Bagaimana membersihkan rumah dengan
cara yang lebih praktis dan hasil yang lebih bersih" dengan kata lain,
berusaha menemukan cara baru. Demikian juga, ketika ada yang perlu diperbaiki,
manusia biasanya menggunakan cara yang telah diajarkan ketika mereka masih
kanak-kanak. Umumnya mereka enggan berusaha menemukan cara baru yang mungkin
lebih praktis dan berdaya guna. Cara berbicara orang-orang ini juga sama. Cara
bagaimana seorang akuntan berbicara, misalnya, sama seperti akuntan-akuntan
yang lain yang pernah ia lihat selama hidupnya. Para dokter, banker,
penjual…..dan orang-orang dari latar belakang apapun mempunyai cara bicara yang
khas. Mereka tidak berusaha mencari yang paling tepat, paling baik dan paling
menguntungkan dengan berpikir. Mereka sekedar meniru dari apa yang telah mereka
lihat.
Cara pemecahan
masalah yang dipakai juga menunjukkan kemalasan dalam berpikir. Sebagai contoh:
dalam menangani masalah sampah, seorang manajer sebuah gedung menerapkan metode
yang sama sebagaimana yang telah dipakai oleh manajer sebelumnya. Atau seorang
walikota berusaha mencari jalan keluar tentang masalah jalan raya dengan meniru
cara yang digunakan oleh walikota-walikota sebelumnya. Dalam banyak hal, ia
tidak dapat mencari pemecahan yang baru dikarenakan tidak mau berpikir.
Sudah pasti,
contoh-contoh di atas dapat berakibat fatal bagi kehidupan manusia jika tidak
ditangani secara benar. Padahal masih banyak masalah yang lebih penting dari
itu semua. Bahkan jika tidak dipikirkan, akan mendatangkan kerugian yang besar
dan kekal bagi manusia. Penyebab kerugian tersebut adalah kegagalan seseorang
dalam berpikir tentang tujuan keberadaannya di dunia; ketidakpedulian akan
kematian sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari; dan kepastian akan
hari penghisaban setelah mati. Dalam Al-Qur'an, Allah mengajak manusia untuk
merenungkan fakta yang sangat penting ini:
"Mereka
itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka
apa yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di akhirat menjadi
orang-orang yang paling merugi. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka
itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Perbandingan
kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang
buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua
golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran
(daripada perbandingan itu)?" (QS. Huud, 11: 21-24)
"Maka apakah
(Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)
? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl, 16: 17)
Anggapan bahwa
berpikir secara mendalam tidaklah baik
Ada sebuah
kepercayaan yang kuat dalam masyarakat bahwa berpikir secara mendalam tidaklah
baik. Mereka saling mengingatkan satu sama lain dengan mengatakan "jangan
terlalu banyak berpikir, anda akan kehilangan akal". Sungguh ini tidak
lain hanyalah omong kosong yang didengung-dengungkan oleh mereka yang jauh dari
agama. Yang seharusnya dihindari bukanlah tidak berpikir, akan tetapi
memikirkan keburukan; atau terjerumus dalam keragu-raguan, khayalan-khayalan
atau angan-angan kosong.
Mereka yang tidak
memiliki keimanan yang kuat kepada Allah dan hari akhir, tidak berpikir
mengenai hal-hal yang baik dan bermanfaat, akan tetapi hal-hal yang negatif.
Sehingga hasil yang tidak bermanfaatlah yang pada akhirnya muncul dari
perenungan mereka. Mereka berpikir, misalnya, bahwa hidup di dunia adalah
sementara, dan bahwa mereka suatu hari akan mati, akan tetapi hal ini
menjadikan mereka putus harapan. Sebab secara sadar mereka tahu bahwa menjalani
kehidupan tanpa mengikuti perintah Allah hanya akan menyengsarakan mereka di
akhirat. Sebagian dari mereka bersikap pesimistik karena berkeyakinan bahwa
mereka akan lenyap sama sekali setelah mati.
Orang yang bijak,
yang beriman kepada Allah dan hari kemudian memiliki pola pikir yang sama
sekali berbeda ketika mengetahui bahwa hidup di dunia hanyalah sementara.
Pertama-tama, kesadarannya akan kehidupan dunia yang sementara mendorongnya
untuk memulai sebuah perjuangan atau kerja keras yang sungguh-sungguh untuk
kehidupannya yang hakiki dan abadi di akhirat. Karena tahu bahwa hidup ini
cepat atau lambat akan berakhir, ia tidak terlenakan oleh ambisi syahwat dan
kepentingan dunia. Ia terlihat sangat tenang. Tak satupun peristiwa yang
menimpanya dalam kehidupan yang sementara ini membuatnya marah. Dengan ceria ia
selalu berpikir tentang harapan untuk meraih kehidupan yang abadi dan
menyenangkan di akhirat. Ia juga sangat menikmati keberkahan dan keindahan
dunia. Allah telah menciptakan kehidupan dunia dengan tidak sempurna dan penuh
kekurangan sebagai ujian bagi manusia. Ia berpikir bahwa jika dalam kehidupan
di dunia yang tidak sempurna dan cacat ini terdapat demikian banyak kenikmatan
untuk manusia, maka sudah pasti kehidupan surga amat tak terbayangkan lagi
keindahannya. Ia mendambakan untuk melihat keindahan yang hakiki di akhirat. Dan
ia memahami semua hal tersebut setelah berpikir secara mendalam.
Berlepas diri
dari tanggung jawab melaksanakan apa yang
diperoleh dari berpikir
Kebanyakan
manusia beranggapan bahwa mereka dapat mengelak dari berbagai macam tanggung
jawab dengan menghindarkan diri dari berpikir, dan mengalihkan akalnya untuk
memikirkan hal-hal yang lain. Dengan melakukan yang demikian di dunia, mereka
berhasil melepaskan diri mereka sendiri dari beragam masalah. Satu diantara
banyak hal yang sangat menipu manusia adalah anggapan bahwa mereka akan dapat
membebaskan diri dari kewajiban mereka kepada Allah dengan cara tidak berpikir.
Inilah sebab utama yang membuat mereka tidak berpikir tentang kematian dan
kehidupan setelahnya. Jika seseorang berpikir bahwa ia suatu hari akan mati dan
selalu ingat bahwa ada kehidupan abadi setelah mati, maka ia wajib bekerja
keras untuk kehidupannya setelah mati. Tetapi ia telah menipu dirinya sendiri
ketika berkeyakinan bahwa kewajiban tersebut akan lepas dengan sendirinya
ketika ia tidak berpikir tentang keberadaan akhirat. Ini adalah kekeliruan yang
sangat besar, dan jika seseorang tidak mendapatkan kebenaran di dunia dengan
berpikir, maka setelah kematiannya ia baru akan menyadari bahwa tidak ada jalan
keluar baginya untuk meloloskan diri.
"Dan
datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari
daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman."
(QS. Qaaf, 50: 19-20)
Tidak berpikir
akibat terlenakan oleh kehidupan
sehari-hari
Kebanyakan
manusia menghabiskan keseluruhan hidup mereka dalam
"ketergesa-gesaan". Ketika mencapai umur tertentu, mereka harus
bekerja dan menanggung hidup diri mereka dan keluarga mereka. Mereka menganggap
hal ini sebagai sebuah "perjuangan hidup". Dan, karena harus bekerja
keras, jungkir balik dalam pekerjaan, mereka mengatakan tidak mempunyai waktu
lagi untuk hal-hal yang lain, termasuk berpikir. Akhirnya mereka pun terbawa
larut oleh arus ke arah mana saja kehidupan mereka ini membawa mereka. Dengan demikian,
mereka menjadi tidak peka lagi dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di
sekitar.
Namun, tidak
sepatutnya manusia memiliki tujuan hidup hanya sekedar menghabiskan waktu;
bergegas pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang terpenting di sini adalah
kemampuan melihat kenyataan sesungguhnya dari kehidupan dunia ini untuk
kemudian menempuh jalan hidup yang sebenarnya. Tidak ada satu orang pun yang
mempunyai tujuan akhir mendapatkan uang, bekerja, belajar di universitas atau
membeli rumah. Sudah barang tentu manusia perlu melakukan ini semua dalam
hidupnya, namun yang mesti senantiasa ada dalam benaknya ketika melakukan
segala hal tersebut yaitu kesadaran akan keberadaan manusia di dunia sebagai
hamba Allah, untuk bekerja demi mencari ridha, kasih sayang dan surga Allah.
Segala perbuatan dan pekerjaan selain untuk tujuan tersebut hanyalah berfungsi
sebagai "sarana" untuk membantu manusia dalam meraih tujuan yang
sebenarnya. Menempatkan sarana sebagai tujuan utama adalah sebuah kekeliruan
yang amat besar yang didengung-dengungkan syaitan kepada manusia.
Seseorang yang
hidup tanpa berpikir akan mudah sekali menjadikan sarana tersebut sebagai
tujuan. Kita dapat menyebutkan contoh-contoh lain yang serupa dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya: tidak dapat diragukan bahwa bekerja dan menghasilkan
berbagai hal yang bermanfaat untuk masyarakat adalah perbuatan baik. Seseorang
yang beriman kepada Allah akan melakukan pekerjaan tersebut dengan bersemangat
sambil mengharapkan balasan Allah di dunia dan di akhirat. Sebaliknya jika
seseorang melakukan hal yang sama tanpa mengingat Allah dan hanya mengharapkan
imbalan dunia, seperti mendapatkan jabatan tinggi agar dihormati oleh
masyarakat, maka ia telah melakukan kekeliruan. Ia telah melakukan sesuatu yang
sebenarnya dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuannya, yakni
mencari ridha Allah. Ketika menemukan realitas yang sebenarnya di akhirat, ia
merasa sangat menyesal karena telah melakukan hal yang demikian. Dalam sebuah
ayat, Allah merujuk ke mereka yang terpedaya oleh kehidupan dunia sebagaimana
berikut:
"(Keadaan
kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti keadaan orang-orang
sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan
anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu
telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati
bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka
mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di
akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. At-Taubah, 9:
69).
Melihat segala
sesuatu dengan "penglihatan yang biasa",
sekedar melihat tanpa perenungan
Ketika melihat
beberapa hal yang baru untuk pertama kalinya, manusia mungkin menemukan
berbagai hal yang luar biasa yang mendorong mereka berkeinginan untuk
mengetahui lebih jauh apa yang sedang mereka lihat tersebut. Namun setelah
sekian lama, mereka mulai terbiasa dengan hal-hal ini dan tidak lagi merasa
takjub. Terutama sebuah benda ataupun kejadian yang mereka temui setiap hari
sudah menjadi sesuatu yang "biasa" saja bagi mereka.
Sebagai contoh,
beberapa orang calon dokter merasakan adanya pengaruh terhadap dirinya ketika
pertama kali melihat jenazah. Saat pertama kali satu di antara para pasien
mereka meninggal dapat membuat mereka termenung lama. Padahal beberapa menit
yang lalu jasad tak bernyawa ini masih hidup, tertawa, memikirkan
rencana-rencana, berbicara, menikmati hidup dengan wajah yang ceria. Orang yang
tadinya hidup serta melihat dengan mata yang ceria, berbicara tentang rencana
masa depan, menikmati sarapan di pagi hari mendadak terbaring tanpa ruh. Ketika
pertama kali mayat tersebut diletakkan di depan para dokter tersebut untuk
diautopsi, mereka berpikir segala hal yang mereka lihat padanya. Tubuhnya
membusuk demikian cepat, bau yang menusuk hidung pun tercium, rambut yang
tadinya terlihat indah menjadi demikian kusut hingga tak seorang pun sudi
menyentuhnya. Kesemua ini termasuk apa yang ada di benak mereka. Lalu mereka pun
berpikir: bahan pembentuk semua manusia adalah sama dan jasad mereka akan
mengalami akhir yang serupa, yakni mereka pun akan menjadi seperti mayat yang
mereka saksikan.
Namun, setelah
berulang-ulang melihat beberapa mayat dan mendapati beberapa pasiennya
meninggal dunia, orang-orang ini pada akhirnya menjadi terbiasa. Mereka lalu
memperlakukan mayat-mayat, atau bahkan para pasien mereka sebagaimana barang
atau benda.
Sungguh, ini
tidak berlaku terhadap dokter saja. Terhadap kebanyakan manusia, hal yang sama
dapat terjadi dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh, ketika seseorang yang
biasa hidup dalam kesusahan dikaruniai kehidupan yang serba berkecukupan, ia
akan sadar bahwa semua yang ia miliki adalah sebuah kenikmatan untuknya. Tempat
tidurnya menjadi lebih nyaman, tempat tinggalnya menghadap ke arah pemandangan
yang indah, ia dapat membeli apapun yang diinginkannya, menghangatkan rumahnya
di musim dingin sekehendaknya, dengan mudahnya pergi dari satu tempat ke tempat
yang lain dengan kendaraan, dan banyak hal lain yang kesemuanya adalah
kenikmatan baginya. Ketika membandingkan dengan keadaan yang sebelumnya, ia
akan merasa bersyukur dan bahagia. Akan tetapi, bagi orang yang telah memiliki
kesemua ini sejak lahir mungkin tak pernah terlalu memikirkan tentang nilai
dari semua kenikmatan tersebut. Jadi, penilaian terhadap segala kenikmatan ini
tidak mungkin dilakukannya tanpa ia mau berpikir secara mendalam.
Lain halnya bagi
seseorang yang mau merenung, tidaklah menjadi persoalan apakah ia mendapatkan
segala kenikmatan tersebut sejak lahir atau di kemudian hari. Sebab ia tidak
pernah melihat apa yang dimilikinya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Ia
paham bahwa segala yang ia punyai adalah ciptaan Allah. Sekehendak-Nya, Allah
berkuasa mengambil semua kenikmatan yang ada darinya. Sebagai contoh,
orang-orang mukmin ketika menaiki hewan tunggangan, yakni kendaraan, mereka
akan berdoa:
"Supaya kamu
duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah
duduk di atasnya; dan supaya kamu mengatakan:"Maha Suci Tuhan yang telah
menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu
menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (QS.
Az-Zukhruf, 43: 13-14)
Di ayat lain,
dikisahkan bahwa ketika orang-orang yang beriman memasuki kebun-kebun atau
taman-taman mereka, mereka mengingat Allah seraya berkata, "Atas kehendak
Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah"
(QS. Al-Kahfi, 18: 39). Ini adalah sebuah isyarat bahwa setiap saat ketika
memasuki taman-taman mereka, muncul dalam benak mereka: Allah lah yang
menciptakan dan memelihara taman ini. Sebaliknya, seseorang yang tidak berpikir
mungkin takjub ketika pertama kali melihat sebuah taman yang indah, tetapi
kemudian taman tersebut menjadi sebuah tempat yang biasa-biasa saja baginya.
Kekagumannya atas keindahan tersebut telah sirna. Sebagian orang sama sekali
tidak menyadari nikmat tersebut dikarenakan tidak berpikir. Mereka menganggap
segala kenikmatan yang ada sebagai hal yang "biasa" atau
"lumrah" dan sebagai "sesuatu yang memang seharusnya sudah
demikian". Inilah yang menjadikan mereka tidak dapat merasakan kenikmatan
dari keindahan taman tersebut.
Kesimpulan: wajib
atas manusia untuk menghilangkan segala penyebab
yang menghalangi mereka dari berpikir
Sebagaimana telah
dikatakan sebelumnya, fakta bahwa kebanyakan manusia tidak berpikir dan hidup
dalam keadaan lalai dari kebenaran tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk
tidak berpikir. Setiap manusia mempunyai kebebasan terhadap dirinya sendiri,
dan ia akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Allah. Mesti
senantiasa diingat bahwa Allah menguji manusia dalam hidupnya di dunia. Sikap
orang-orang selain dirinya yang sering kali acuh, tidak mau berpikir, bernalar
ataupun memahami kebenaran adalah bagian dari ujian untuknya. Seseorang yang
berpikir dengan ikhlas tidak akan berkata,"Kebanyakan manusia tidak
berpikir, dan tidak menyadari akan hal ini, lalu mengapa saya sendirian yang
mesti berpikir?" Tetapi, ia akan menerima dan menjalani ujian tersebut
dengan memikirkan tentang kelalaian orang-orang terebut, dan memohon
perlindungan Allah agar tidak menjadikannya termasuk dalam golongan mereka.
Sudah jelas bahwa keadaan mereka bukanlah alasan baginya untuk tidak berpikir.
Dalam Al-Qur'an, Allah memberitakan di banyak ayat bahwa kebanyakan manusia
berada dalam kelalaian dan tidak beriman:
"Dan
sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat
menginginkannya." (QS. Yuusuf, 12: 103)
"Alif laam
miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan
kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia
tidak beriman (kepadanya)." (QS. Ar-Ra’d, 13: 1)
"Mereka
bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah
tidak akan akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan
(pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah,
akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui," (QS. An-Nahl, 16: 38)
"Dan
sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka
mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau
kecuali mengingkari (ni'mat)." (QS. Al-Furqaan, 25: 50)
Di lain ayat,
Allah menceritakan kesudahan dari mereka yang tersesat akibat mengikuti
kebanyakan manusia; dan tidak mematuhi perintah Allah akibat melalaikan tujuan
penciptaan mereka:
"Dan mereka
berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya
kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami
kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup
untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada
kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi
orang-orang yang dzalim seorang penolongpun." (QS. Faathir, 35:37)
Berdasarkan dalil
di atas, setiap manusia hendaknya membuang segala sesuatu yang mencegah mereka
dari berpikir untuk kemudian secara ikhlas dan jujur memikirkan dengan seksama
setiap ciptaan ataupun kejadian yang Allah ciptakan, serta mengambil pelajaran
dan peringatan dari apa yang ia pikirkan.
Dalam bab
berikutnya, kami akan menguraikan tentang berbagai hal yang dapat dipikirkan
dan direnungkan oleh manusia, yakni beberapa peristiwa dan ciptaan Allah yang
dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan kami adalah untuk memberikan
petunjuk tentang masalah ini kepada para pembaca agar mereka mampu menjalani
sisa hidupnya sebagai manusia yang "berpikir dan mengambil peringatan dari
apa yang mereka pikirkan".
Hal-hal Yang
Hendaknya Dipikirkan
Sejak awal, kami
telah menekankan pentingnya berpikir, manfaat-manfaatnya bagi manusia dan
sarana yang membedakan manusia dari makhluk lain. Kami telah menyebutkan pula
sebab-sebab yang menghalangi manusia dari berpikir. Semua ini mempunyai tujuan
utama mendorong manusia untuk berpikir dan membantu mereka mengetahui tujuan
penciptaan dirinya; serta agar manusia mengagungkan ilmu dan kekuasaan Allah
yang tak terbatas.
Di
halaman-halaman berikutnya, kami akan mencoba menjelaskan bagaimana orang yang
beriman kepada Allah berpikir tentang segala sesuatu yang dijumpainya sepanjang
hari dan mendapatkan pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang ia saksikan;
bagaimana ia seharusnya bersyukur dan menjadi semakin dekat kepada Allah
setelah menyaksikan keindahan dan ilmu Allah di segala sesuatu.
Sudah pasti apa
yang disebutkan di sini hanya mencakup sebagian kecil dari kapasitas berpikir
seorang manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk setiap saat (dan bukan setiap
jam, menit atau detik, tapi satuan waktu yang lebih kecil dari itu, yakni
setiap saat) dalam hidupnya. Ruang lingkup berpikir manusia sedemikian luasnya
sehingga tidak mungkin untuk dibatasi. Oleh karena itu, uraian di bawah ini
bertujuan untuk sekedar membukakan pintu bagi mereka yang belum menggunakan
sarana berpikir mereka sebagaimana mestinya.
Perlu diingat
bahwa hanya mereka yang berpikir secara mendalam lah yang mampu memahami dan
berada pada posisi lebih baik dibandingkan makhluk lain. Mereka yang tidak
dapat melihat keajaiban dari peristiwa-peristiwa di sekitarnya dan tidak dapat
memanfaatkan akal mereka untuk bepikir adalah sebagaimana diceritakan dalam
firman Allah berikut:
"Dan
perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti
penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan
seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak
mengerti." (QS. Al-Baqarah, 2: 171)
"… Mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 179)
"Atau apakah
kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu
tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
jalannya (dari binatang ternak itu)." (QS. Al-Furqaan, 25: 44)
Hanya mereka yang
mau berpikir yang mampu melihat dan kemudian memahami tanda-tanda kebesaran
Allah, serta keajaiban dari obyek dan peristiwa-peristiwa yang Allah ciptakan.
Mereka mampu mengambil sebuah kesimpulan berharga dari setiap hal, besar
ataupun kecil, yang mereka saksikan di sekeliling mereka.
Ketika seseorang
bangun dari tidurnya di pagi hari…
Tidak diperlukan
kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir. Bahkan bagi orang yang
baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali hal-hal yang
dapat mendorongnya berpikir.
Terpampang sebuah
hari yang panjang dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari pembaringannya
di pagi hari. Sebuah hari dimana rasa capai atau kantuk seakan telah sirna. Ia
siap untuk memulai harinya. Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah
firman Allah:
"Dialah yang
menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia
menjadikan siang untuk bangun berusaha." (QS. Al-Furqaan, 25: 47)
Setelah membasuh
muka dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga dan berada dalam kesadarannya
secara penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir tentang berbagai persoalan yang
bermanfaat untuknya. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan dari
sekedar memikirkan makanan apa yang dipunyainya untuk sarapan pagi atau pukul
berapa ia harus berangkat dari rumah. Dan pertama kali ia harus memikirkan
tentang hal yang lebih penting ini.
Pertama-tama,
bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah sebuah keajaiban yang luar biasa.
Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali sewaktu tidur, namun di
keesokan harinya ia kembali lagi kepada kesadaran dan kepribadiannya.
Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas, berbicara dan melihat. Padahal di saat
ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan kembali seperti
sediakala di pagi harinya. Tidak pula ia mengalami musibah apapun malam itu.
Misalnya, kealpaan tetangga yang tinggal di sebelah rumah dapat menyebabkan
kebocoran gas yang dapat meledak dan membangunkannya malam itu. Sebuah bencana
alam yang dapat merenggut nyawanya dapat saja terjadi di daerah tempat
tinggalnya.
Ia mungkin saja
mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai contoh, bisa saja ia bangun tidur
dengan rasa sakit yang luar biasa pada ginjal atau kepalanya. Namun tak satupun
ini terjadi dan ia bangun tidur dalam keadaan selamat dan sehat. Memikirkan
yang demikian mendorongnya untuk berterima kasih kepada Allah atas kasih sayang
dan penjagaan yang diberikan-Nya.
Memulai hari yang
baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa Allah kembali memberikan
seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya untuk mendapatkan
keberuntungan yang lebih baik di akhirat.
Ingat akan semua
ini, maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan waktu di hari itu dengan
cara yang diridhai Allah. Sebelum segala sesuatu yang lain, seseorang pertama
kali hendaknya merencanakan dan sibuk memikirkan hal-hal semacam ini. Titik
awal dalam mendapatkan keridhaan Allah adalah dengan memohon kepada Allah agar
memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi Sulaiman adalah tauladan
yang baik bagi orang-orang yang beriman:
"Ya Tuhanku
berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan
amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang saleh" (QS. An-Naml, 27 : 19)
Bagaimana
kelemahan manusia mendorong
seseorang untuk
berpikir?
Tubuh manusia
yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat mendorong manusia
untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan menggosok gigi. Sadar
akan hal ini, ia pun merenungkan tentang kelemahan-kelemahannya yang lain.
Keharusannya untuk mandi setiap hari, penampilannya yang akan terlihat
mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh kulit ari, dan ketidakmampuannya
menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya adalah bukti-bukti tentang
kelemahan dirinya.
Bagi orang yang
telah berusia lanjut, bayangan dirinya di dalam cermin dapat memunculkan
beragam pikiran dalam benaknya. Ketika menginjak usia dua dekade dari masa
hidupnya, tanda-tanda proses penuaan telah terlihat di wajahya. Di usia yang
ketigapuluhan, lipatan-lipatan kulit mulai kelihatan di bawah kelopak mata dan
di sekitar mulutnya, kulitnya tidak lagi mulus sebagaimana sebelumnya,
perubahan bentuk fisik terlihat di sebagian besar tubuhnya. Ketika memasuki
usia yang semakin senja, rambutnya memutih dan tangannya menjadi rapuh.
Bagi orang yang
berpikir tentang hal ini, usia senja adalah peristiwa yang paling nyata yang
menunjukkan sifat fana dari kehidupan dunia dan mencegahnya dari kecintaan dan
kerakusan akan dunia. Orang yang memasuki usia tua memahami bahwa detik-detik
menuju kematian telah dekat. Jasadnya mengalami proses penuaan dan sedang dalam
proses meninggalkan dunia ini. Tubuhnya sedikit demi sedikit mulai melemah
kendatipun ruhnya tidaklah berubah menjadi tua. Sebagian besar manusia sangat
terpukau oleh ketampanan atau merasa rendah dikarenakan keburukan wajah mereka
semasa masih muda. Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah tampan ataupun
cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah tidak menarik
merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti nyata yang
menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau keburukan penampilan
seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika yang dinilai dan dibalas
oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang diperlihatkan seseorang
kepada Allah.
Setiap saat
ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa satu-satunya Zat
Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala ketidaksempurnaan
adalah Allah, dan iapun mengagungkan kebesaran Allah. Allah menciptakan setiap
kelemahan manusia dengan sebuah tujuan ataupun makna. Termasuk dalam tujuan ini
adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada kehidupan dunia, dan tidak
terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam kehidupan dunia. Seseorang
yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan mendambakan agar Allah
menciptakan dirinya di akhirat kelak bebas dari segala kelemahan.
Segala kelemahan
manusia mengingatkan akan satu hal yang menarik untuk direnungkan: tanaman
mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah yang hitam ternyata memiliki bau yang
demikian harum. Sebaliknya, bau yang sangat tidak sedap muncul dari orang yang
tidak merawat tubuhnya. Khususnya bagi mereka yang sombong dan membanggakan
diri, ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka pikirkan dan ambil pelajaran
darinya.
Bagaimana
beberapa karakteristik tubuh manusia
membuat anda
berpikir?
Ketika melihat
diri sendiri di dalam cermin, seseorang berpikir tentang berbagai hal yang
sebelumnya tak pernah muncul dalam benaknya. Sebagai contoh: bulu mata, alis,
tulang belulang dan gigi-giginya tidak tumbuh memanjang terus menerus. Dengan
kata lain, di bagian tubuh dimana pertumbuhan anggota badan yang terus menerus
akan menjadi sesuatu yang menyusahkan dan menghalangi pandangannya, maka
anggota tubuh tersebut berhenti tumbuh. Sebaliknya, rambut yang kelihatan indah
jika tumbuh memanjang, tidak berhenti tumbuh. Disamping itu, ada keseimbangan
yang sempurna dalam pertumbuhan tulang-belulang. Misalnya tulang anggota bagian
atas tidak akan tumbuh memanjang begitu saja sehingga menyebabkan badan
kelihatan lebih pendek. Semua tulang ini berhenti pada saat tertentu
seakan-akan tiap-tiap tulang tersebut tahu seberapa panjang mereka harus
tumbuh.
Sudah barang
tentu, semua yang telah disebutkan di sini terjadi akibat dari reaksi-reaksi
fisika dan kimia yang terjadi dalam tubuh. Orang yang merenungkan hal ini akan
juga bertanya-tanya bagaimana reaksi-reaksi ini terjadi. Siapa yang memasukkan
hormon-hormon dan enzim-enzim yang bertanggung jawab atas pertumbuhan ke dalam
tubuh sesuai dengan dosis yang dibutuhkan? Dan siapakah yang mengontrol kadar
dan waktu sekresi dari hormon dan enzim tersebut?
Tidak dapat
dipungkiri bahwa mustahil untuk mengatakan bahwa ini semua terjadi secara
kebetulan. Tidaklah mungkin sel-sel atau atom-atom pembentuk manusia yang tidak
mempunyai kesadaran tersebut melakukan hal yang demikian dengan sendirinya. Ini
adalah bukti bahwa fenomena tersebut terjadi karena kekuasaan Allah yang
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Ketika dalam
perjalanan…
Setelah bangun
tidur dan bersiap-siap di pagi hari, orang-orang kemudian berangkat ke kantor,
sekolah atau melakukan pekerjaan mereka di luar rumah. Bagi orang yang beriman,
keberangkatan ini adalah awal dari melakukan amal kebaikan yang mendatangkan
ridha Allah. Ketika meninggalkan rumah dan bepergian ke luar, seseorang akan
menjumpai banyak hal yang dapat ia pikirkan, misalnya ribuan manusia,
kendaraan, pohon, besar dan kecil, dan beragam hal yang terdapat di banyak
tempat. Dalam hal ini, pandangan orang yang beriman sudah jelas, yakni bahwa ia
berusaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin manfaat dari yang ia jumpai di
sekelilingnya. Ia memikirkan tentang sebab-sebab dari peristiwa-peristiwa yang
ada. Karena apa yang sedang ia saksikan terjadi dengan pengetahuan dan kehendak
Allah, maka pasti ada sebuah makna di balik peristiwa atau pemandanga itu.
Karena Allah lah yang memampukannya untuk pergi ke luar rumah serta meletakkan
semua pemandangan ini di depan matanya, maka sudah pasti dari
pemandangan-pemandangan tersebut ada yang mesti dilihat dan dipikirkan. Sejak
bangun tidur, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya umur satu hari lagi
di dunia yang dapat digunakannya sebagai modal untuk mendapatkan pahala dari
Allah. Kini, ia tengah memulai perjalanan yang dapat mendatangkan pahala
baginya. Menyadari hal ini, ia teringat akan firman Allah: "Dan Kami
jadikan siang untuk mencari penghidupan", (QS. An-Naba’, 78 :11).
Berpedomankan ayat tersebut, ia membuat rencana tentang bagaimana menghabiskan
waktunya di siang hari dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak hanya
bermanfaat untuk orang lain akan tetapi juga mendatangkan ridha Allah.
Ketika berada
dalam mobilnya atau di atas kendaraan apapun dengan pola pikir yang demikian,
ia pun kembali bersyukur kepada Allah. Tidak menjadi masalah, betapapun jauhnya
jarak perjalanan yang harus ia tempuh, ia masih memiliki sarana untuk pergi ke
sana. Untuk memudahkan manusia, Allah telah menciptakan beragam sarana
transportasi untuk membantu manusia dalam melakukan perjalanan. Bahkan kemajuan
teknologi saat sekarang telah menyediakan sarana transportasi baru berupa
mobil, kereta api, pesawat terbang, kapal laut, helikopter, bus…Ketika
merenungkan hal ini, seseorang akan kembali teringat: Allah lah yang telah
menciptakan teknologi untuk membantu manusia.
Setiap hari, para
ilmuwan membuat penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi baru yang dapat memudahkan
hidup kita. Mereka menghasilkan ini semua melalui sarana yang diciptakan Allah
di bumi. Seseorang yang memikirkan tentang masalah tersebut akan menikmati
perjalanannya sambil bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang diberikan
kepadanya.
Dalam perjalanan
menuju tempat tujuan, ia menyaksikan tumpukan sampah dengan bau yang tak sedap,
tempat-tempat kumuh di sepanjang jalan. Hal ini menimbulkan beragam pikiran
dalam benaknya:
Ketika masih
berada di dunia, Allah telah memberikan informasi kepada kita yang membantu
kita memperoleh gambaran tentang surga dan neraka; atau mengira-ngira keadaan
kedua tempat ini dengan menggunakan perbandingan. Tumpukan sampah, bau yang
tidak sedap dan daerah-daerah kumuh dapat menimbulkan stres atau tekanan dalam
jiwa seseorang. Tak seorangpun ingin tinggal di tempat tersebut. Keadaan ini
mengingatkan seseorang tentang neraka dan ayat-ayat yang mengisahkan neraka. Di
banyak ayat-ayat Al-Qur'an Allah telah menceritakan segala sesuatu yang tidak
menyenangkan, gelap serta menjijikkan tentang neraka:
Dan golongan
kiri, siapakah golongan kiri itu?
Dalam (siksaan)
angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang
hitam.
Tidak sejuk dan
tidak menyenangkan. (QS. Al-Waaqi’ah, 56:41-44)
"Dan apabila
mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu,
mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka):
"Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah
kebinasaan yang banyak" (QS. Al-Furqaan, 25:13-14)
Dengan memikirkan
ayat-ayat di atas, orang tersebut berdoa agar Allah menjauhkannya dari siksa
neraka dan mengampuni segala kesalahannya.
Sebaliknya,
seseorang yang tidak menggunakan cara berpikir yang demikian akan menghabiskan
waktunya dengan menggerutu, kesal dan selalu mencari kambing hitam dari setiap
permasalahan. Ia marah sekali kepada orang-orang yang menumpuk sampah tersebut
dan pihak pemerintahan daerah setempat yang terlambat untuk mengumpulkan dan
membuangnya. Sepanjang hari pikirannya disibukkan dengan hal-hal seperti: jalan
raya yang penuh dengan lubang; orang-orang yang menyebabkan lalu lintas macet;
badannya yang basah kuyup kehujanan akibat ulah badan meteorologi yang salah
dalam memperkirakan cuaca; cemoohan kasar dari bossnya, dan lain sebagainya.
Namun, pikiran yang sia-sia ini tidaklah bermanfaat dalam kehidupan akhiratnya
nanti. Seseorang mungkin berhenti sejenak kemudian berpikir apakah ia
seharusnya menghiraukan banyak hal. Sungguh, banyak orang mengatakan bahwa
alasan utama yang mencegah mereka dari berpikir adalah segala kesibukan yang
mengharuskan mereka bekerja keras terus-menerus di dunia. Mereka berdalih bahwa
mereka tidak mampu berpikir karena sibuk dengan masalah pangan, perumahan dan
kesehatan. Akan tetapi ini hanyalah sekedar alasan untuk mengelak. Tanggung
jawab dan kondisi tersebut tidak ada hubungannya dengan berpikir sebagaimana
yang dikehendaki di sini. Seseorang yang berusaha untuk berpikir dalam rangka
mencari ridha Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Ia akan melihat
bahwa, seiring dengan bergantinya hari, beragam persoalan yang biasanya menjadi
masalah baginya satu demi satu terselesaikan; hingga ia dapat meluangkan waktu
untuk berpikir dan berpikir lagi. Hanya orang-orang yang beriman sajalah yang
sadar, paham dan mengalami hal yang demikian.
Bagaimana dunia
yang berwarna-warni mendorong
seseorang
berpikir?
Masih dalam
perjalanannya, ia terus berusaha melihat keajaiban dari ayat-ayat ataupun
ciptaan Allah di sekitarnya, dan memuji Allah ketika memikirkan ini semua.
Ketika melihat ke luar melalui jendela mobilnya, ia menyaksikan dunia yang
penuh dengan beragam warna. Lalu ia pun berpikir: "Bagaimana segala
sesuatu akan terlihat seandainya dunia ini tidak berwarna?"
Lihatlah gambar-gambar
di bawah dan anda pun mulai berpikir. Apakah kenikmatan yang kita rasakan dari
memandang laut, pegunungan atau bunga yang tidak berwarna sebanding dengan
sebagaimana yang anda lihat sekarang? Apakah pemandangan langit, buah,
kupu-kupu, pakaian dan wajah-wajah manusia sebagaimana yang terlihat oleh anda
sekarang memberikan kepuasan? Adalah nikmat dari Tuhan bahwa kita hidup di
sebuah dunia yang cerah ceria dan memiliki beragam warna. Setiap warna yang
kita lihat di alam, keseimbangan yang sempurna dari warna-warna makhluk hidup,
semuanya adalah tanda-tanda tentang karya cipta dan seni khas Allah yang tak
tertandingi. Beragam warna dari bunga atau burung; dan keharmonisan atau corak
yang anggun antara warna-warna yang ada; bahwa tak satupun warna di alam ini
yang mengganggu penglihatan kita; warna lautan, langit, pohon-pohon yang
demikian serasi sehingga menimbulkan kedamaian dan tidak melelahkan mata kita,
semua ini menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah. Dengan merenungkan beberapa
fenomena tersebut, seseorang akan paham bahwa setiap sesuatu yang ia lihat di
sekelilingnya adalah hasil dari ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas dan
absolut. Setelah sadar akan segala nikmat yang Allah anugerahkan ini, ia pun
menjadi hamba yang takut kepada Allah dan memohon perlindungan kepada-Nya agar
tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak bersyukur. Dalam
Al-Qur'an, Allah mengisahkan fenomena warna-warna, dan berfirman bahwa hanya
mereka yang memiliki pengetahuan, yakni mereka yang menyelami lebih jauh dengan
berpikir dan menarik kesimpulan serta pelajaran dari fenomena ini lah yang
memiliki rasa takut kepada Allah:
"Tidakkah
kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan
dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara
gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya
dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia,
binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam
warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun." (QS. Faathir, 35: 27-28).
Bagaimana sebuah
mobil jenazah yang melintas di
jalan mendorong seseorang
untuk berpikir?
Seseorang yang
sedang bergegas menuju ke suatu tempat secara tiba-tiba berpapasan dengan mobil
jenazah. Sungguh ini adalah kesempatan yang baik untuk berhenti sejenak dan
menenangkan diri. Pemandangan yang ia temui mengingatkannya akan kematian.
Suatu hari ia juga akan berada di mobil jenazah itu. Tiada keraguan tentang
terhadapnya, tak peduli seberapa besar usaha untuk menghindarinya, cepat atau
lambat kematian pasti akan datang menghampirinya. Tak peduli apakah ia sedang
berada di tempat tidurnya, ketika dalam perjalanan, atau ketika berlibur, ia
pasti akan meninggalkan dunia ini. Kematian adalah kenyataan yang tidak dapat
dihindari.
Di saat yang
demikian, seorang mukmin teringat akan ayat Allah berikut:
"Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu
dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang
saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi
di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di
dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu)
yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya." (QS. Al-Ankabuut, 29:
57-59).
Keyakinan
seseorang bahwa jasadnya akan juga dimasukkan dalam peti mati, ditimbun tanah
oleh kerabatnya, namanya akan diukir diatas kuburan, akan menghilangkan
kecintaannya kepada dunia. Seseorang yang dengan ikhlas dan secara sadar
berpikir tentang hal ini paham bahwa tidaklah masuk akal untuk mengklaim
kepemilikan tubuh yang suatu hari akan membusuk di dalam tanah.
Dalam ayat di
atas, Allah memberikan kabar gembira berupa surga setelah kematian kepada
mereka yang sabar dan bertawakal kepada Allah. Oleh karenanya, dengan berpikir
bahwa suatu hari ia akan mati, seorang mukmin akan berusaha menjalani hidup
dengan akhlaq yang baik sebagaimana yang diperintahkan Allah untuk meraih
surga. Setiap saat ia teringat akan dekatnya kematian, tekadnya untuk
mendapatkan surga semakin menguat dan mendorongnya untuk senantiasa berusaha bertingkah
laku sesuai dengan akhlaqnya yang semakin lama semakin baik.
Sebaliknya,
orang-orang yang condong memikirkan hal-hal yang lain, dan menghabiskan hidup
dengan angan-angan kosong, tidak berpikir bahwa suatu hari hal yang sama pasti
akan menimpa mereka meskipun mereka berpapasan dengan mobil jenazah, setiap
hari melewati kuburan atau bahkan salah satu orang yang paling dicintai
meninggal dunia di samping mereka sendiri.
Di siang hari…
Ketika
menyaksikan segala peristiwa yang ditemuinya sepanjang hari, orang beriman
selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah dan berusaha untuk memahami
makna-makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Ia menanggapi
setiap kebaikan ataupun malapetaka sebagai sesuatu yang memiliki kebaikan
sebagaimana dikehendaki Allah. Di mana saja ia berada, di sekolah, di tempat
kerja ataupun di pasar, dan dengan berprasangka dan berpikir bahwa Allahlah
yang menciptakan setiap sesuatu, ia selalu berusaha memahami
keindahan-keindahan dan makna tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa yang
diciptakan-Nya untuk kemudian menjalani hidup dengan mematuhi ayat-ayat Allah.
Sikap orang mukmin ini digambarkan dalam Al-Qur'an:
"Laki-laki
yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi
goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan
kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah
memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS.
An-Nuur, 24: 37-38)
Bagaimana orang
berpikir ketika menghadapi
kesulitan-kesulitan
yang ditemuinya dalam pekerjaan?
Manusia mungkin
menghadapi berbagai macam kesulitan selama satu hari penuh. Namun apapun
kesulitan tersebut, hendaklah ia berkeyakinan kepada Allah dan berpikir bahwa
"Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita kerjakan dan pikirkan dalam
hidup di dunia. Ini adalah kenyataan yang sangat penting yang seharusnya tidak
pernah kita lupakan sekejap pun. Oleh karenanya, ketika menemui kesulitan dalam
setiap hal yang kita lakukan atau pikirkan, sehingga tidak berjalan sebagaimana
mestinya, kita hendaknya selalu ingat bahwa semua kesulitan ini telah
dihadapkan oleh Allah kepada kita untuk menguji perbuatan kita."
Pikiran-pikiran
yang muncul dalam benak seseorang ini berlaku untuk semua peristiwa, besar atau
kecil, yang ia jumpai sepanjang hari. Sebagai contoh, seseorang membayar lebih
tanpa sengaja akibat salah pengertian atau kecerobohan; sebuah file yang telah
diselesaikan dalam waktu berjam-jam dengan menggunakan komputer dapat hilang
begitu saja akibat terputusnya aliran listrik; seorang pelajar gagal dalam
ujian universitas meskipun ia telah belajar secara sungguh-sungguh; seseorang
terpaksa menghabiskan harinya menunggu dalam antrian untuk mendapatkan
pekerjaan akibat birokrasi yang terlalu rumit; dokumen yang hilang dapat
menjadi masalah yang menyebabkan pekerjaan seseorang tidak karuan; seseorang
ketinggalan pesawat, atau bus ketika hendak pergi ke suatu tujuan yang mesti
dihadirinya seawal mungkin…Ada banyak sekali peristiwa-peristiwa yang dialami
seseorang dalam hidup yang dianggapnya merupakan sebuah kesulitan atau "masalah".
Ketika mengalami
semua peristiwa tersebut, orang yang beriman akan berpikir dan ingat bahwa
Allah menguji perilaku dan kesabarannya; sehingga tidaklah masuk akal bagi
orang yang yakin bahwa ia akan mati dan mempertanggung jawabkan perbuatannya di
akhirat terpengaruh dengan hal-hal serupa dan menghabiskan waktunya dengan
perasaan takut dan khawatir akan hal tersebut. Ia paham bahwa ada sebuah
kebaikan di balik semua peristiwa ini. Ia tak pernah mengatakan
"Aduh" terhadap kejadian apapun. Ia berdoa kepada Allah untuk
memudahkan pekerjaan-pekerjaannya dan menjadikan segala sesuatunya sebagai
kebaikan.
Ketika kesulitan
tersebut telah berlalu dengan datangnya kemudahan, ia berpikir bahwa ini adalah
jawaban dari doanya kepada Allah, Allah mendengarkan dan, kemudian, mengabulkan
doa-doanya. Pada akhirnya ia pun bersyukur kepada Allah.
Ketika menjalani
hari dengan prinsip berpikir seperti ini, maka seseorang tak akan pernah putus
harapan, merasa khawatir, menyesal ataupun menderita terhadap apapun yang dialaminya.
Ia tahu bahwa Allah telah menciptakan semua ini untuk sebuah kebaikan dan
keberkahan. Tidak hanya itu, ia berpikir yang demikian tidak hanya ketika
terjadi peristiwa-peristiwa besar yang menimpanya, namun juga di semua hal yang
rumit, besar ataupun kecil, yang ia jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Coba pikirkan,
ada orang yang tidak mendapati urusannya yang penting terselesaikan sebagaimana
yang ia kehendaki. Ataupun orang yang ketika hampir saja meraih tujuan,
dihadapkan pada sebuah masalah yang serius. Orang ini mendadak menjadi sangat
kecewa, merasa khawatir dan tertekan. Pendek kata, dirinya dipenuhi dengan
pikiran-pikiran buruk. Sebaliknya, seseorang yag berpikir bahwa ada sesuatu
kebaikan pada semua hal, akan berusaha menemukan makna-makna tersembunyi yang
Allah tunjukkan padanya melalui peristiwa tersebut. Ia berpikir bahwa mungkin
Allah telah melakukan ini semua untuk memberinya peringatan agar lebih
berhati-hati dan serius dalam menangani masalah. Dengan demikian, ia pun
kembali melakukan persiapan-persiapan yang lebih matang, serta bersyukur kepada
Allah sambil mengatakan "mungkin ini membantu mencegah timbulnya
malapetaka yang lebih besar lagi".
Seseorang yang
ketinggalan bus ketika hendak menuju suatu tempat, berpikir: "mungkin
keterlambatan dan ketertinggalan saya dari bus tersebut telah menyelamatkan
saya dari kecelakaan atau bahaya yang lain". Ia berpikir lagi:
"mungkin masih banyak lagi hikmah-hikmah tersembunyi yang serupa".
Banyak sekali contoh-contoh semisal yang dapat ditemukan dalam kehidupan
manusia. Yang paling penting adalah rencana-rencana seseorang tidak harus
selalu terlaksana sesuai dengan yang ia kehendaki. Secara mendadak ia mungkin
mendapati dirinya berada dalam situasi yang sangat berbeda dari apa yang ia
rencanakan. Dalam kondisi yang demikian, seseorang yang berkepribadian dan
berperilaku secara tenang serta senantiasa mencari kebaikan dari sebuah
peristiwa akan memperoleh keberuntungan. Hal ini dikarenakan Allah berfirman
dalam ayat-Nya:
"Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 2: 216)
Sebagaimana
firman Allah di atas, kita tidak mengetahui tetapi Allah mengetahui. Karena
itu, hanya Allahlah yang mengetahui apa yang baik dan yang tidak baik untuk
kita. Segala yang menimpa manusia hanyalah agar manusia mengambil Allah Yang
Maha Pengasih dan Maha Penyayang sebagai tempat mengadu dan meminta
pertolongan, serta menyerahkan diri kepada Allah sepenuhnya.
Hal-hal yang
terpikirkan ketika sedang mengerjakan
sesuatu…
Manakala sedang
mengerjakan sesuatu, seharusnya seseorang tidak membiarkan akalnya kosong, akan
tetapi senantiasa memikirkan segala sesuatu yang baik. Otak manusia memiliki
kemampuan untuk berpikir lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan.
Seseorang yang sedang mengendarai mobil, membersihkan rumah, bekerja mencari
nafkah, berjalan di jalan raya, pada saat yang sama dapat berpikir hal-hal yang
baik.
Ketika
membersihkan rumah, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya sarana
seperti air dan detergen. Sadar bahwa Allah menyukai kebersihan dan orang yang
membersihkan diri, ia memandang pekerjaan yang sedang ia lakukan sebagai bentuk
ibadah sehingga dengan melakukan hal tersebut ia mengharapkan ridha Allah. Di
samping itu, ia merasa bahagia karena telah mempersiapkan tempat yang nyaman
untuk orang lain dengan membersihkan tempat tinggalnya.
Seseorang yang
tengah mengerjakan sesuatu, terus-menerus berdoa kepada Allah dan memohon agar
dimudahkan dalam pekerjaannya karena yakin bahwa ia tidak dapat melakukan suatu
pekerjaan dengan baik tanpa pertolongan Allah. Kita mengetahui di dalam
Al-Qur'an bahwa para Nabi memberikan contoh kepada kita dengan terus menerus
menghadapkan diri mereka kepada Allah dalam kesendirian, dan selalu mengingat
Allah ketika mengerjakan sesuatu. Diantara contoh ini adalah Nabi Musa. Beliau
menolong dua orang wanita yang ditemuinya dalam perjalanan. Setelah membantu
memberikan minum untuk binatang gembalaan mereka, beliau berdoa kepada Allah:
"Dan tatkala
ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang
yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak
itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata:
"Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab:
"Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala
itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah
lanjut umurnya". Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong)
keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo’a: "Ya
Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau
turunkan kepadaku". (QS. Al-Qashas, 28: 23-24)
Contoh lain yang
kita temui dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah ini adalah Nabi Ibrahim
dan Nabi Isma’il. Allah menceritakan bahwa kedua Nabi ini memikirkan
kemaslahatan orang-orang mukmin yang lain pada saat keduanya sedang
melaksanakan suatu pekerjaan. Mereka berdoa kepada-Nya sehubungan dengan
pekerjaan yang sedang mereka lakukan:
"Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama
Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan
kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan
(jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan
tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan
terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan
mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (QS.
Al-Baqarah, 2: 127-129)
Bagaimana sarang
laba-laba mendorong
seseorang untuk
berpikir?
Banyak hal yang
dapat dipikirkan oleh seseorang yang menghabiskan harinya dalam rumah. Ketika
sedang membersihkan rumah, ia menjumpai seekor laba-laba yang merajut sarangnya
di sebuah sudut rumah tersebut. Jika ia menyadari keharusan untuk memikirkan
binatang yang seringkali tidak dihiraukan orang ini, ia akan mengerti bahwa
pintu pengetahuan telah dibuka untuknya. Serangga kecil yang sedang
disaksikannya adalah sebuah keajaiban. Sarang laba-laba tersebut memiliki
bentuk simetri yang sempurna. Ia pun kagum terhadap seekor laba-laba yang
mungil tetapi memiliki kemampuan dalam membuat sebuah disain sempurna yang
sedemikian menakjubkan. Setelah itu ia membuat sebuah pengamatan singkat hingga
mendapatkan beberapa fakta lain: serat yang digunakan laba-laba ternyata 30%
lebih fleksibel dari serat karet dengan ketebalan yang sama. Serat yang diproduksi
oleh laba-laba ini memiliki mutu yang demikian tinggi sehingga ditiru oleh
manusia dalam pembuatan jaket anti peluru. Sungguh luar biasa, sarang laba-laba
yang dianggap sederhana oleh kebanyakan manusia, ternyata terbuat dari bahan
yang mutunya setara dengan bahan industri paling ideal di dunia.
Ketika
menyaksikan disain yang sempurna pada makhluk hidup di sekitarnya, manusia
terus menerus berpikir hingga kemudian mendorongnya untuk menemukan lebih
banyak fakta-fakta yang menakjubkan. Ketika mengamati sebuah lalat yang setiap
saat dijumpainya namun belum pernah diperhatikannya atau bahkan merasa sangat
terganggu dan ingin sekali membunuhnya, ia melihat bahwa serangga tersebut
memiliki kebiasaan membersihkan diri sampai bagian-bagian yang terkecil dari
tubuhnya sekalipun. Lalat tersebut seringkali hinggap di suatu tempat lalu
membersihkan tangan dan kakinya secara terpisah. Setelah itu lalat ini
membersihkan debu yang menempel pada sayap dan kepalanya dengan menggunakan
tangan dan kakinya secara menyeluruh. Lalat ini terus saja melakukan yang
demikian sampai yakin akan kebersihannya. Semua lalat dan serangga membersihkan
tubuh mereka dengan cara yang sama: dengan penuh perhatian dan ketelitian
sampai ke hal-hal yang kecil sekalipun. Ini menunjukkan adanya satu-satunya
Pencipta yang mengajarkan kepada mereka cara membersihkan diri mereka sendiri.
Ketika terbang,
lalat mengepakkan sayapnya kurang lebih 500 kali setiap detik. Padahal tak
satupun mesin buatan manusia yang mampu memiliki kecepatan yang luar biasa ini.
Kalaulah ada, mesin itu akan hancur dan terbakar akibat gaya gesek. Namun
sayap, otot ataupun persendian lalat ini tidak mengalami kerusakan. Lalat dapat
terbang ke arahmanapun tanpa terpengaruh oleh arah dan kecepatan angin. Dengan
teknologi yang paling mutakhir sekalipun, manusia masih belum mampu membuat
mesin yang memiliki spesifikasi dan teknik terbang yang luar biasa sebagaimana
lalat. Begitulah, makhluk hidup yang cenderung diremehkan dan tidak terlalu
mendapat perhatian manusia, dapat melakukan pekerjaan yang tak mampu dilakukan
manusia. Tidak diragukan lagi, tidaklah mungkin mengklaim bahwa seekor lalat
melakukan ini semua semata-mata karena kemampuan dan kecerdasan yang ia miliki.
Semua karakteristik istimewa dari lalat adalah kemampuan yang Allah berikan
kepadanya
Segala sesuatu
yang terlihat sepintas oleh manusia ternyata didalamnya terdapat kehidupan,
baik yang terlihat ataupun tidak. Tak satu sentimeter persegi pun di bumi ini
yang di dalamnya tidak terkandung kehidupan. Manusia, tumbuh-tumbuhan dan
hewan-hewan adalah makhluk yang mampu dilihat oleh manusia. Namun, masih ada
makhluk-makhluk lain yang tidak terlihat oleh manusia akan tetapi manusia sadar
akan keberadaannya. Misalnya rumah yang ia diami yang penuh dengan
makhluk-makhluk mikroskopis yang disebut "tungau". Demikian pula
halnya dengan udara yang ia hirup, di dalamnya mengandung virus yang tak
terhingga banyaknya, atau tanah kebunnya yang mengandung bakteri yang sangat
banyak.
Seseorang yang
merenung tentang keanekaragaman yang luar biasa dari kehidupan di bumi, akan
mengetahui kesempurnaan makhluk-makhluk ini. Tiap makhluk yang ia lihat adalah
tanda-tanda keagungan karya seni ciptaan Allah, demikian pula halnya dengan
keajaiban luar biasa yang tersembunyi dalam makhluk-makhluk mikroskopis
tersebut. Virus, bakteri ataupun tungau yang tidak terlihat oleh mata telanjang
memiliki mekanisme tubuh yang unik. Habitat, cara makan, sistim reproduksi dan
pertahanan mereka semuanya diciptakan oleh Allah. Seseorang yang memikirkan
secara mendalam tentang fenomena ini teringat ayat Allah:
"Dan berapa
banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri.
Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui." (QS. Al-Ankabuut, 29: 60)
Bagaimana
penyakit mendorong seseorang
untuk berpikir?
Manusia adalah
makhluk yang memiliki banyak kelemahan dan harus selalu terus-menerus berusaha
untuk mengatasi kelemahan tersebut. Adanya penyakit yang diderita manusia
adalah gambaran paling jelas tentang kelemahan tersebut. Oleh karenanya, ketika
seseorang atau sahabatnya jatuh sakit, ia hendaknya berpikir tentang makna yang
terkandung dari musibah ini. Ketika sedang berpikir, ia memahami bahwa flu yang
dianggap sebagai penyakit yang biasa pun memiliki pelajaran-pelajaran yang
darinya manusia dapat mengambil hikmah ataupun peringatan. Ketika terjangkiti
penyakit tersebut, ia memikirkan hal-hal seperti: pertama, penyebab utama flu
adalah virus yang teramat kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Akan
tetapi, makhluk yang kecil ini sudah cukup untuk membuat manusia yang bobotnya
60-70 kg menjadi kehilangan kekuatan, membuatnya sedemikian lemah sehingga tak
mampu berjalan ataupun berbicara sekalipun. Seringkali obat atau makanan yang
ia makan tidak membantu meringankan penderitaannya. Satu-satunya yang dapat ia
lakukan adalah beristirahat dan menunggu. Dalam tubuhnya, berlangsung sebuah
peperangan yang ia tak pernah mampu untuk campur tangan, dengan kata lain ia
dibuat lumpuh tak berdaya melawan organisme yang sangat kecil. Dalam keadaan
yang demikian, ia hendaknya mengingat ayat Allah:
"(Yaitu
Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku,
Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang
menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku
(kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari
kiamat".
(Ibrahim
berdo'a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke
dalam golongan orang-orang yang saleh". (QS. Asy-Syu‘araa, 26: 78-83)
Seseorang yang
terjangkiti penyakit apapun hendaknya membandingkan sikapnya ketika sehat dan
setelah pulih dari sakit, kemudian berpikir tentang hal tersebut. Seharusnya ia
menyadari keadaanya yang lemah ketika sakit, perasaan ketergantungan kepada
Allah yang sangat. Hal ini tercermin, misalnya, dalam keikhlasan dan
kekhusu’annya ketika berdoa kepada Allah menjelang dioperasi.
Sebaliknya,
ketika mengetahui orang lain sedang menderita sakit, ia hendaknya segera
bersyukur kepada Allah sambil berpikir tentang keadaannya yang sehat. Manakala
melihat orang yang cacat kaki, misalnya, orang beriman memikirkan bahwa kakinya
adalah nikmat yang sangat besar dan penting bagi dirinya. Ia memahami bahwa
kemampuannya untuk berjalan atau berlari ke manapun serta melakukan segala
sesuatu tanpa bantuan orang lain sejak bangun tidur di pagi hari adalah nikmat
dari Allah. Dengan membuat perbandingan seperti ini, ia akan lebih memahami
besarnya nikmat yang telah didapatkannya.
Bagaimana
seseorang berpikir ketika bertemu dengan
orang yang
arogan, tidak sopan, suka menyinggung
perasaan orang
lain dan berperangai buruk?
Ketika berada di
kantor atau sekolah sepanjang hari, seseorang akan bertemu dengan berbagai tipe
manusia. Sebagian dari mereka mungkin tidak berakhlaq baik dan tidak takut
kepada Allah. Seorang mukmin yang bertemu dengan orang-orang ini tidak akan
terpengaruh oleh keadaan mereka, sebaliknya tetap istiqomah dengan akhlaq
luhurnya sebagaimana yang diajarkan Allah. Ia memahami bahwa penyebab perilaku
buruk mereka adalah ketiadaan rasa takut kepada Allah serta ingkar kepada hari
akhir. Gambaran berikut ini lalu muncul dalam benaknya: Allah telah
memperingatkan tentang siksa neraka dan memerintahkan manusia agar memikirkan
adzabnya yang kekal, sehingga manusia mau memperbaiki perilaku mereka dalam kehidupan
dunia, kembali kepada Allah dengan merendahkan diri dan melaksanakan ajaran
agama secara ikhlas. Seandainya seseorang menyadari bahwa ia sedang berhadapan
dengan ancaman yang sedemikian berat dan serius, ia pasti akan melakukan segala
sesuatu agar dapat meloloskan diri dari ancaman tersebut. Sebaliknya mereka
yang tidak memikirkannya, sehingga tidak memahami betapa seriusnya ancaman
tersebut, akan berperilaku seolah-olah tempat yang penuh dengan bara dan
siksaan yang dipersiapkan untuk mereka itu tidak lah ada.
Sadar akan
kenyataan ini, beberapa hal penting lain terlintas dalam pikirannya: ketika
dikumpulkan di tepi jurang neraka, perilaku orang-orang yang berperangai buruk
tersebut akan berbeda sama sekali dengan perilaku mereka ketika di dunia. Orang
yang ketika masih hidup di dunia berperangai buruk, tidak malu untuk bertindak
yang semena-mena dan arogan akan memiliki ekspresi muka, sikap dan cara
berbicara yang tidak seperti biasanya pada hari penghisaban, yakni ketika ia
diseret ke depan jurang neraka dan terus menerus disiksa.
Atau jika orang
yang agresif, kasar dan seringkali melakukan tindak kejahatan dan tidak
memiliki rasa kemanusiaan dibawa ke tepi jurang neraka, ia akan merasakan
penyesalan yang abadi ketika melihat adzab neraka.
Seseorang selalu
mengemukakan berbagai macam alasan untuk tidak menjalankan agama dan tidak
melaksanakan ibadah dalam hidupnya di dunia. Namun ia tidak akan dapat
mengatakan alasan-alasan tersebut ketika diperintah melaksanakan sholat pada
saat sedang menanti di depan gerbang neraka.
Orang yang takut
kepada Allah tidak pernah melupakan kenyataan ini. Karena senantiasa memikirkan
siksa neraka, ia mengetahui mana perilaku, kata-kata yang benar serta akhlaq
yang baik. Dengan keyakinan yang kuat dan senantiasa mengingat keberadaan
neraka, ia selalu berbuat seolah-olah ia berada sangat dekat dengan neraka, dan
memikirkan bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang
ia kerjakan.
Allah menyeru
manusia untuk memikirkan neraka dan hari penghisaban:
"Pada hari
ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu
juga kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia
dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri
(siksa)-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya". (QS. Aali
‘Imraan, 3: 30)
Ketika sedang
makan…
"Allah lah
yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap,
dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan
sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung
Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Ghaafir, 40:64)
Allah telah
menyediakan untuk manusia berbagai jenis makanan dan minuman yang baik, bersih
dan lezat di dunia. Sudah barang tentu, semua ini adalah bentuk kasih sayang
Allah yang tak terhingga terhadap manusia. Meskipun manusia mampu bertahan
hidup hanya dengan satu jenis makanan dan minuman, akan tetapi Allah telah
menganugerahkan kepada mereka kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya dengan
menciptakan beragam makanan: buah-buahan, sayur-sayuran dan berbagai macam
jenis daging…
Mengetahui bahwa
segala kebaikan berasal dari Allah, orang yang beriman akan memikirkan semua
ini dan bersyukur kepada Allah setiap saat ketika duduk di depan meja makan dan
bersiap-siap menikmati hidangan.
Bagaimana
buah-buahan yang disajikan mendorong
seseorang untuk
berpikir?
Dalam banyak ayat
Al-Qur'an, disebutkan bahwa Allah telah memberi nikmat kepada manusia dengan
beraneka ragam buah-buahan yang disajikan kepada seseorang ketika sedang makan.
Di atas meja makan dihidangkan berbagai macam sayur-sayuran yang sebelumnya tumbuh
di atas tanah; dan makanan yang dihasilkan dari hewan. Sesuai fitrahnya,
manusia diciptakan untuk menikmati makanan-makanan ini. Selain memiliki
kelezatan yang berbeda-beda, pada saat yang bersamaan makanan tersebut juga
diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Marilah kita berpikir: apa yang
terjadi seandainya makanan-makanan yang penting untuk kehidupan manusia ini
tidak memiliki rasa, atau mempunyai rasa yang tidak sedap? Atau jika
makanan-makanan ini berbahaya bagi tubuh kita kendatipun rasanya enak….Atau
seandainya terdapat hanya beberapa jenis makanan yang dapat kita makan untuk
kelangsungan hidup? Yang menyebabkan makanan dan minuman yang dihidangkan di
hadapan anda tidak berasa hambar adalah karena kebaikan dan kasih sayang Allah
kepada anda. Bahkan jika seseorang berpikir tentang buah-buahan saja, ia akan
mengetahui dan mengakui kebaikan Allah kepadanya.
Ketika melihat
beragam jenis buah-buahan di atas meja makan di hadapannya, seseorang yang
mempunyai nalar akan berpikir: tanaman yang tumbuh dari tanah atau lumpur hitam
akan tetapi menghasilkan buah-buahan dengan beragam warna dan aroma, serta
daging buah yang bersih dengan rasa yang sangat enak, adalah nikmat yang sangat
besar yang Allah berikan kepada manusia.
Pisang,
tangerine, jeruk, melon, semangka serta semua buah-buahan yang diciptakan
beserta kulit pembungkus daging buah, memiliki kulit yang mampu melindungi
buah-buahan dari kebusukan dan kerusakan. Kulit pembungkus ini juga berfungsi
memelihara aroma buah. Segera setelah kulit ini dikupas dan dibuang, daging
buah tersebut perlahan-lahan berubah menjadi hitam dan rusak.
Ketika diamati
satu persatu, buah-buahan tersebut kelihatan memiliki banyak keunikan.
Tangerine dan jeruk, misalnya, diciptakan dalam keadaan telah bersekat-sekat.
Seandainya jeruk dan tangerine memiliki bentuk yang utuh tanpa sekat, seseorang
akan merasa sulit untuk memakan buah-buahan yang banyak mengandung air ini.
Namun Allah telah menciptakannya dalam keadaan tersekat-sekat sebagai kemudahan
dan nikmat tambahan untuk manusia. Tidak perlu disanksikan lagi, disain yang
sangat indah, tanpa cacat, dan demikian sempurna sehingga pas dengan kebutuhan
adalah satu diantara karakteristik ciptaan Allah Yang Maha Mengetahui.
Contoh lain
adalah strawberi, buah dengan bentuk dan rasa yang sangat khusus. Bentuk dan
rupa permukaannya kelihatan seakan-akan buah strawberi sengaja dibentuk dengan
sangat hati-hati. Warna merah segar yang dihiasi dengan dedaunan hijau ini
hanyalah bagian yang amat kecil dari daya cipta Allah yang tak tertandingi.
Manisnya bau dan rasa, ketiadaan akan biji serta kulit pembungkus buah sehingga
mudah untuk dimakan, mengingatkan orang akan buah-buahan surga. Buah, yang
tanamannya tumbuh di atas tanah dan memiliki warna yang sedemikian indah dan
menawan, menunjukkan kepada kita tentang Tuhan kita yang telah menciptakan buah
tersebut tanpa ada bandingannya. Dia lah yang telah mewujudkan Seni,
Kebijaksanaan serta Ilmu-Nya pada segala sesuatu yang Dia ciptakan.
Keberadaan
buah-buahan yang beraneka ragam di setiap musim yang berbeda adalah hal lain
yang patut untuk direnungkan. Adalah sebuah nikmat dan kebaikan dari Allah
kepada manusia bahwa, sebagai contoh, ketika musim dingin dimana manusia
membutuhkan vitamin dalam jumlah besar, tersedia buah-buahan yang banyak mengandung
vitamin C seperti tangerine, jeruk dan grapefruit. Sebaliknya di musim panas,
buah-buahan semisal ceri, melon, semangka dan persik yang melegakan dahaga
begitu berlimpah.
Ketika kita
memandang pohon dengan buah-buahnya yang bergelantungan di dahan atau ketika
tanaman tersebut sedang ditanam terdapat sebuah kenikmatan tersendiri yang
Allah berikan. Pemandangan ratusan buah-buahan di atas batang pohon yang kering
dan menempel kuat pada dahannya, yang di dalamnya mengandung air dan sebagian
diantaranya terlihat seakan-akan permukaan luar kulit buah tersebut terpoles
hingga mengkilat, adalah bukti bahwa setiap buah-buahan tersebut telah
diciptakan oleh Allah. Sebagai contoh, buah anggur terlihat seolah-olah telah
di letakkan pada ranting-ranting tanaman anggur satu demi satu. Allah telah
menciptakan buah-buahan tersebut penuh keunikan keunikan tanpa ada duanya.
Ketika masih berada di dahan tanaman, anggur dibentuk dan ditampilkan
sedemikian rupa agar menarik manusia. Dengan alasan ini, ketika menggambarkan
surga dalam Al-Qur'an: "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas
mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya." (QS.
Al-Insaan, 76:14), Allah menyatakan bahwa buah-buahan di surga mudah dipetik.
Sudah pasti bahwa
yang disebutkan disini hanyalah contoh-contoh yang jumlahnya terbatas. Segala
nikmat yang Allah ciptakan terlalu banyak untuk dapat dihitung. Orang yang
menyadari akan hal tersebut ketika berada di meja makan akan teringat ayat
Allah yang lain:
"Maka apakah
(Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan
(apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Dan jika kamu
menghitung-hitung ni'mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.
An-Nahl, 16: 17-18)
Bagaimana rasa
dan bau mendorong seseorang berpikir?
Dengan senantiasa
berpikir sebagaimana telah diuraikan di atas, manusia akan lebih menyadari
tentang keindahan dan ketelitian dalam ciptaan Allah. Ketika merenung tentang
semua ini, orang yang sadar akan berpikir bahwa kebahagiaan yang mucul ketika
sedang merasakan nikmat-nikmat yang Allah berikan adalah sebuah kebaikan yang
besar. Ia ingat bahwa indra pengecap dan penciuman telah menolong kita
merasakan berbagai keindahan di dunia. Tanpa memiliki indra penciuman, kita
tidak akan mampu menikmati keharuman sekuntum bunga mawar, buah-buahan yang
kita makan atau daging panggang sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Tanpa
indra pengecap, kita tidak dapat merasakan rasa coklat yang khas, permen,
daging, strawberi dan rasa lezat yang lain.
Hendaknya tidak
dilupakan bahwa mungkin saja kita hidup di dunia yang tidak memiliki warna,
rasa dan aroma. Dan jika Allah tidak memberikan segala kenikmatan ini, kita
tidak akan mendapatkannya dengan cara apapun. Namun Allah telah memberikan
nikmat yang tak berhingga kepada manusia dengan menciptakan rasa dan bau juga
sistim indera untuk merasakannya.
Ketika
berjalan-jalan di taman….
Bagaimana
keindahan alam mendorong seseorang berpikir?
Ketika melihat
keindahan-keindahan di alam seseorang yang beriman kepada Allah memuji Allah
dengan mengagungkan-Nya. Ia sadar bahwa Allah telah menciptakan segala
keindahan yang ada. Ia tahu bahwa segala keindahan ini adalah kepunyaan Allah dan
merupakan perwujudan dari sifat-Nya Yang Maha Indah (Al-Jamaal).
Ketika
berjalan-jalan mengelilingi alam sekitar, seseorang merasakan
keindahan-keindahan yang lebih terasa dari sebelumnya. Dari sebatang rumput
hingga setangkai bunga daisy kuning, dari burung hingga semut, segala
sesuatunya penuh dengan kerumitan yang memerlukan perenungan. Ketika
merenungkan yang demikian, manusia akan memahami kekuasaan dan kebesaran Allah.
Kupu-kupu,
misalnya, adalah makhluk yang sangat indah dan elok untuk dilihat. Kupu-kupu,
yang memiliki sayap dengan simetri dan disain semacam renda yang demikian
teliti sehingga terlihat seolah-olah dilukis dengan tangan, dengan warna yang
harmoni dan dipenuhi fosfor sehingga berpendar, adalah bukti daya seni yang tak
tertandingi dari ciptaan Allah.
Banyaknya jenis
tanaman dan pohon yang tak terhitung di muka bumi merupakan bagian dari
keindahan ciptaan Allah. Bunga-bunga dengan warna yang beraneka-ragam dan
berbagai bentuk pepohonan telah diciptakan sedemikian rupa sehingga memberikan
kenyamanan bagi manusia.
Seseorang yang
memiliki keimanan akan berpikir bagaimana bunga seperti mawar, violet, daisy,
hyacinth, anyelir, anggrek dan bunga-bunga lainnya memiliki permukaan yang
sedemikian mulus, bagaimana mereka muncul dari biji-biji mereka dalam keadaan
yang halus sama sekali tanpa ada lipatan-lipatan, bagaikan telah disetrika.
Satu lagi
keajaiban ciptaan Allah adalah aroma sedap yang menakjubkan dari bunga-bunga
ini. Mawar, misalnya, memiliki wangi yang tidak pernah berubah yang selalu
dikeluarkannya. Bahkan dengan teknologi paling maju sekalipun, bau yang
menyamai mawar tidak dapat dibuat. Penelitian di laboratorium-laboratorium
untuk menyerupai bau ini belum mendatangkan hasil yang memuaskan. Aroma parfum
yang diproduksi dengan meniru bau mawar pada umumnya memiliki bau harum yang
sedemikian kuat sehingga mengganggu orang. Tetapi bau asli dari bunga mawar
tidak menimbulkan gangguan apapun bagi manusia.
Orang yang
beriman sadar bahwa segala sesuatu ini diciptakan Allah agar ia memuji-Nya,
untuk menunjukkan kepadanya karya seni dan ilmu Allah dari keindahan-keindahan
yang ia ciptakan. Sadar akan hal ini, seseorang yang menyaksikan keindahan
kebun ketika sedang berjalan-jalan akan mengagungkan Allah seraya mengatakan,
"Maa syaa Allahu, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah
semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)" (QS.
Al-Kahfi, 18: 39). Ia ingat bahwa Allah telah memberikan segala keindahan ini
untuk kepentingan manusia dan Dia akan memberikan kenikmatan-kenikmatan luar
biasa kepada orang-orang mukmin yang tidak ada bandingannya di akhirat;
sehingga kecintaannya kepada Allah semakin bertambah.
Sudahkah anda
merenungkan tentang seekor semut
yang anda lihat
ketika berjalan di sebuah taman?
Manusia pada
umumnya tidak begitu memperhatikan pentingnya berpikir tentang beragam makhluk
hidup yang mereka lihat di sekitarnya. Mereka tidak membayangkan bahwasanya
benda-benda hidup yang mereka jumpai setiap hari tersebut memiliki ciri-ciri
yang sangat menarik. Sebaliknya, bagi seseorang yang beriman, setiap makhluk
hidup ciptaan Allah memiliki karakteristik yang menunjukkannya sebagai sebuah
ciptaan yang sempurna. Semut adalah salah satu diantaranya.
Sewaktu
berjalan-jalan di taman, orang yang beriman tidak memalingkan muka ketika
melihat seekor semut. Dengan mengamati ciri-cirinya yang mengagumkan, ia
menyaksikan kesempurnaan ciptaan Allah.
Bahkan dengan
hanya mengamati cara berjalan seekor semut pun dapat mendorong akal kita untuk
berpikir. Semut menggerakkan kaki-kakinya yang sangat kecil secara berurutan
dan sangat terorganisir, mengetahui dengan baik dan sempurna kaki yang mana
yang seharusnya melangkah terlebih dahulu untuk kemudian diikuti kaki yang
lain. Ia dapat berjalan dengan sangat cepat tanpa lelah.
Serangga mungil
ini mampu mengangkat beban yang bobotnya jauh lebih berat dibanding tubuhnya,
dan membawanya ke sarang sendirian. Ia mampu menempuh perjalanan yang jaraknya
sangat jauh dibandingkan dengan panjang tubuhnya yang sangat pendek. Di atas
tanah yang rata dan tidak berjejak, tanpa penunjuk arah, semut dapat dengan
mudah menemukan sarangnya. Kendatipun lubang masuk sarang terlalu kecil bagi
manusia untuk menemukannya, semut tidak merasakan kebingungan dan menemukan
sarang tersebut, tak menjadi soal dimana sarang tersebut berada.
Ketika sedang
berada di kebun dan melihat semut-semut yang berbaris satu dengan yang lain,
bekerja keras dan bersemangat mengangkut makanan ke dalam sarangnya, seseorang
tak mampu berhenti bergumam dalam hati mengapa makhluk yang mungil ini
kelihatan seolah-olah bekerja begitu keras. Seseorang kemudian menyadari bahwa
semut tersebut mengumpulkan makanan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi
juga untuk para anggota koloni semut yang lain, untuk sang ratu dan bayi-bayi
semut. Bagaimana semut yang mungil yang tidak memiliki otak yang sempurna akan
tetapi mampu berperilaku rajin, disiplin dan berkorban untuk orang lain adalah
sesuatu yang perlu untuk direnungkan. Setelah memikirkan secara mendalam
tentang fenomena-fenomena ini, seseorang mencapai sebuah kesimpulan: semut,
sebagaimana makhluk hidup yang lain, berperilaku dengan mengikuti petunjuk
Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya saja.
Bagaimana gerakan
tanaman merambat mendorong
seseorang
berpikir?
Orang mukmin yang
sedang berjalan di sebuah taman juga memikirkan tentang tanaman yang merambat,
yang juga dikenal dengan istilah ivy, yang ia temui, yang merupakan satu dari
nikmat-nikmat yang Allah ciptakan.
Bagi orang yang
berpikir, di setiap benda hidup terdapat tanda-tanda yang dapat dijadikan
pelajaran. Sebagai contoh, ivy yang melingkarkan tubuhnya mengelilingi sebuah
dahan atau benda lain adalah fenomena yang perlu dipikirkan secara seksama.
Jika pertumbuhan ivy direkam dan dipertunjukkan ulang dengan cepat, akan
terlihat bahwa ivy bergerak seolah-olah ia adalah makhluk yang memiliki
kesadaran. Ia seolah-olah melihat dahan yang berada tepat di hadapannya, lalu
ia mengulurkan dirinya ke arah dahan tersebut dan mengikatkan diri ke dahan
seperti tali lasso. Kadangkala ia melingkari dahan tersebut beberapa kali untuk
menguatkan ikatan dirinya terhadap dahan. Ia tumbuh sangat cepat dengan cara
yang demikian dan ketika telah sampai di ujung dahan, ia tumbuh dengan
mengikuti arah baru yakni kembali tumbuh melingkari dahan dengan arah ke
belakang, atau tumbuh kebawah. Seorang mukmin yang menyaksikan semua ini kembali
sadar bahwa Allah telah menciptakan semua benda hidup, dan bahwa Dia
menciptakannya sebagai sistim yang unik dan tanpa cacat.
Ketika seseorang
terus mengamati gerakan-gerakan ivy, ia menemukan satu ciri menarik lain dari
tumbuhan tersebut. Ia melihat bahwa ivy dengan kuat melekatkan dirinya di atas
permukaan dimana ia berada dengan menjulurkan lengan-lengan sampingnya. Bahan
yang kental yang diproduksi oleh tanaman yang tidak memiliki kesadaran tersebut
merekat sedemikian kuat sehingga ketika tanaman ini dicoba untuk dipindahkan
dengan cara menariknya dari tempat ia berada, maka cat yang ada ditembok akan
ikut terangkat juga.
Keberadaan
tanaman yang merambat sebagaimana diuraikan atas menunjukkan kepada orang
mukmin yang melihat dan kemudian memikirkannya, akan kekuasaan Allah, Pencipta
tanaman tersebut.
Bagaimana
pepohonan mendorong seseorang untuk
berpikir?
Setiap hari kita
melihat pepohonan di berbagai tempat; akan tetapi, pernahkan kita memikirkan
bagaimana air dapat mencapai daun yang paling jauh letaknya di ujung teratas
dari sebuah pohon yang tinggi? Kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik
tentang keluarbiasaan ini dengan membuat sebuah perbandingan. Tidaklah mungkin
bagi air dalam sebuah tanki di bagian bawah bangunan anda untuk naik ke lantai
yang lebih atas tanpa adanya sebuah tanki hidroforik atau mesin pompa air yang
kuat. Anda tidak akan mampu memompa air kendatipun hanya sampai ke lantai
pertama. Oleh karena itu, sudah seharusnya ada sistim pemompaan yang mirip
dengan mesin hidrofonik yang dimiliki oleh pohon. Jika tidak, mustahil air akan
dapat mencapai batang pohon dan cabang-cabangnya di bagian atas sehingga
pohon-pohon tersebut akan segera mati.
Namun Allah telah
menciptakan untuk tiap-tiap pohon semua sarana dan perlengkapan yang
diperlukan. Tambahan lagi, sistim pemompaan di setiap pohon terlalu canggih
dibandingkan dengan yang ada di bangunan tempat tinggal manusia. Ini adalah
satu diantara beragam hal yang hendaknya dipikirkan oleh seseorang ketika
sedang menyaksikan tanaman-tanaman tersebut. Dan pemikiran semacam ini hanya
akan muncul jika ia senantiasa melihat ke segala sesuatu dengan menggunakan
"mata yang benar-benar melihat", yakni melihat sambil memikirkan
secara mendalam tentang apa yang sedang dilihatnya.
Hal lain yang
dapat dipikirkan berhubungan dengan dedaunan. Ketika memandang sebuah pohon,
seseorang yang merenungkan segala sesuatu yang dilihatnya tidak akan menganggap
daun-daun pohon tersebut sebagai bentuk-bentuk sederhana sebagaimana ia
terbiasa untuk melihatnya. Ia berpikir berbagai hal yang belum pernah
terpikirkan oleh orang lain. Dedaunan, misalnya, adalah sesuatu yang rentan dan
mudah rusak. Namun, daun-daun ini tidak kering kerontang karena panasnya terik
sinar matahari yang menyengat. Ketika seorang manusia berada pada suhu 40oC
dalam waktu yang sebentar, warna kulitnya berubah, ia menderita dehidrasi.
Sebaliknya, daun mampu untuk tetap hijau di bawah panas matahari yang menyengat
tanpa terbakar selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan meskipun sangat sedikit
sekali jumlah air yang mengalir melalui pembuluh-pembulunya yang mirip benang.
Ini adalah sebuah keajaiban penciptaan yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan
segala sesuatu dengan ilmu yang tak tertandingi. Berpikir tentang keajaiban
ciptaan tersebut, seseorang yang beriman mampu sekali lagi melihat kebesaran
Allah untuk kemudian mengagungkan-Nya.
Ketika sedang
membaca surat kabar, melihat TV...
Orang-orang
mengikuti berita melalui berbagai surat kabar dan TV di siang hari ataupun
setelah mereka kembali ke rumah di petang hari. Dalam laporan berita tersebut,
banyak pemberitaan-pemberitaan yang dapat dipikirkan dan dilihat atau diambil
darinya peringatan serta tanda-tanda kekuasaan Allah oleh orang-orang yang
memiliki nalar.
Bagaimana jumlah
kasus kejahatan, penyerangan dan
pembunuhan
mendorong seseorang untuk berpikir?
Setiap hari,
melalui surat kabar lokal maupun berita televisi, seseorang mengetahui adanya
kasus pembunuhan, penganiayaan, pencurian, perampokan, penipuan dan bunuh diri.
Kejadian yang sering ini, serta kebanyakan manusia yang begitu cenderung
melakukan tindak kriminal tersebut memperlihatkan akibat yang diderita oleh
manusia yang hidupnya tidak berlandaskan agama Allah. Penculikan yang dilakukan
oleh seseorang terhadap seorang anak kecil untuk mendapatkan uang tebusan yang
menyebabkannya dihantui oleh perasaan takut yang sangat termasuk upaya
pembunuhan terhadapnya; seseorang yang menodongkan senapannya ke arah orang
lain lalu menembaknya tanpa ragu-ragu; seseorang yang menerima uang suap,
melakukan bunuh diri atau penipuan…Semua ini adalah indikasi bahwa para pelaku
tindak kriminal tersebut tidak takut kepada Allah dan tidak yakin akan
keberadaan hari akhirat. Seseorang yang takut kepada Allah dan mengetahui bahwa
ia akan dihisab di hari akhir tidak akan pernah berani melakukan satu pun dari
berbagai kejahatan tersebut. Sebab semuanya adalah perbuatan yang akan dibalas
dengan api neraka di akhirat.
Mungkin ada yang
berkata:"Saya seorang ateis. Saya tidak percaya kepada Allah, tapi saya
tidak menerima uang suap". Pernyataan orang yang tidak takut kepada Allah
ini tidak meyakinkan sama sekali. Sangat mungkin bahwa komitmen dalam memegang
janjinya akan melemah ketika kondisi berubah. Sebagai contoh, jika ia harus
mendapatkan uang untuk keperluan yang sangat mendesak, dan kebetulan berada
pada kondisi yang memungkinkannya untuk mencuri atau menerima uang suap, ia
dapat saja tidak memegang janjinya. Hal yang sama dapat berlaku ketika nyawanya
berada dalam bahaya. Kendatipun ia dapat menahan diri dari mengambil uang suap
dalam situasi yang sulit, ia mungkin cenderung untuk melakukan perbuatan
terlarang lainnya. Sebaliknya, orang yang beriman tidak pernah melakukan apapun
yang tidak mampu dipertanggung jawabkannya di akhirat.
Jadi, penyebab
semua tindak kejahatan tersebut, yang mendorong kita melakukan protes dan
berteriak,"apa yang terjadi pada masyarakat kita!" melalui surat
kabar, TV, kantor-kantor pada hakikatnya adalah jauhnya mereka dari agama.
Ketika menyaksikan berita-berita sebagaimana di atas, orang yang beriman tidak
memalingkan muka, sebaliknya mereka berpikir bahwa satu-satunya jalan keluar
adalah untuk menyampaikan ajaran agama dan menghidupkan nilai-nilai akhlaq
dalam masyarakat. Sebab dalam masyarakat yang terdiri atas orang-orang yang
takut kepada Allah dan tahu bahwa mereka akan mempertanggung jawabkan
perbuatannya di akhirat, tidaklah mungkin semua peristiwa ini terjadi. Dalam
masyarakat yang demikian, kedamaian dan keamanan akan dinikmati pada puncaknya.
Bagaimana acara
diskusi TV sampai pagi hari
mendorong
seseorang berpikir?
Bagi seseorang
yang terus-menerus berpikir mendalam tentang segala yang ia lihat di sekitarnya,
acara-acara diskusi yang disiarkan melalui TV pun dapat dijadikan bahan
renungan.
Acara-acara
tersebut menampilkan tokoh-tokoh serta para ahli di bidang yang sedang menjadi
topik hangat di hari itu. Mereka mendiskusikan sebuah topik selama berjam-jam, namun
tak seorang pun di antara mereka mampu memberikan jalan keluar atau mencapai
sebuah kesimpulan. Padahal mereka yang menghadiri acara diskusi tersebut adalah
orang-orang yang dipercayai memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah yang
ada.
Sungguh, jalan
keluar dari sebagian besar permasalahan yang sedang didiskusikan tersebut
sangatlah jelas. Namun kepentingan pribadi masing-masing orang, pengaruh dari
golongan mereka, ambisi untuk menonjolkan diri pribadi dari pada mencari sebuah
solusi secara ikhlas, membawa mereka pada jalan buntu.
Ketika
menyaksikan ini semua, orang yang memiliki nalar akan berpikir bahwa sebenarnya
penyebab dari persoalan yang ada terletak pada jauhnya masyarakat dari agama
Allah. Orang yang beriman kepada Allah tidak pernah menunjukkan perilaku yang
tidak bertanggung jawab, sia-sia ataupun acuh tak acuh. Ia sadar bahwa ada
kebaikan di setiap peristiwa yang Allah perlihatkan kepadanya. Ia paham bahwa
ia selalu berada dalam keadaan diuji di dunia ini yang mengharuskannya untuk
menggunakan akal, kekuatan dan pengetahuannya dalam segala hal yang dapat
membuat Allah ridha.
Di samping itu,
seorang mukmin senantiasa ingat akan sebuah ayat Allah ketika melihat acara
tersebut:
"… Dan
manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." (QS. Al-Kahfi, 18:
54)
Dalam acara
diskusi tersebut terlihat adanya perdebatan, atau bahkan, percekcokan antar
para tokoh dan ahli yang tampil di TV. Juga ketidakmengertian mereka akan
permasalahan yang dikemukakan kepada mereka, terobsesi dengan apa yang akan
mereka katakan dan mencoba untuk paling dahulu mengatakannya, saling memotong
pembicaraan, meninggikan suara dengan mudahnya, begitu cepat kehilangan
kesabaran, saling melontarkan ejekan; adalah bukti yang penting untuk
diperhatikan dalam mamahami aspek-aspek negatif dari orang-orang ini.
Di sebuah
lingkungan dengan seratus persen orang-orang yang ikhlas dan jujur yang
mempunyai rasa takut kepada Allah, tontonan yang memakan waktu lama dan tak ada
hasilnya semacam ini tidak pernah terjadi. Karena tujuan mereka adalah mencari
jalan keluar yang paling diridhai Allah, dan yang paling membawa manfaat bagi
masyarakat, maka metode yang paling tepat sesuai dengan akal dan nalar akan
mudah ditemukan dan dilaksanakan tanpa membuang-buang waktu. Karena setiap orang
akan merasa puas dengan keputusan akhir maka percekcokan pun tidak akan
terjadi.
Jika ada yang
merasa keberatan berdasarkan dalih yang dapat diterima serta mengusulkan jalan
keluar yang lebih baik, maka usulan ini yang akan langsung dipakai. Mereka yang
takut kepada Allah tidak seperti kebanyakan orang, dan tidak menunjukkan sikap
keras kepala dan arogan. Dengan mengingat apa yang Allah firmankan dalam
Al-Qur'an; "… Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi
Yang Maha Mengetahui" (QS. Yuusuf, 12: 76), mereka mengambil pilihan yang
paling tepat.
Kebalikannya,
yakni diskusi yang berlangsung hingga pagi hari tanpa dihasilkannya suatu
pemecahan masalah adalah contoh berharga yang dapat terjadi di sebuah
lingkungan dimana akhlaq mulia yang diajarkan agama tidak dijalankan.
Bagaimana
kelaparan dan kemelaratan di setiap
penjuru dunia
mendorong seseorang untuk berpikir?
Salah satu
permasalahan yang sering dibahas di media massa adalah ketidakadilan dalam
masyarakat.
Ketika di belahan
dunia yang satu terdapat negara-negara yang sangat makmur dengan tingkat
kesejahteraan yang sangat tinggi, namun di belahan bumi yang lain terdapat
orang-orang yang tidak memiliki sesuatupun yang dapat dimakan atau obat untuk
penyakit yang paling ringan sekalipun sehingga mereka pada akhirnya meninggal
tak terurus. Pertama-tama, fenomena tersebut menunjukkan keberadaan sebuah
sistim yang dzalim dan tidak adil di dunia. Sebenarnya sangatlah mudah bagi
satu atau segilintir negara untuk menyelamatkan orang-orang yang terdzalimi
ini. Misalnya, rakyat di negara-negara tetangga di Afrika sedang mati
kelaparan, namun ada kelompok masyarakat yang telah menumpuk harta dari
pertambangan intan dan dengannya membangun sebuah peradaban yang maju.
Kendatipun sangat mudah untuk memindahkan orang-orang yang hidup melarat dan
kelaparan dan hampir meninggal ini, atau memberi sarana yang mereka butuhkan di
daerah tempat tinggal mereka, namun selama puluhan tahun tidak ada jalan keluar
yang berarti yang telah diberikan kepada mereka. Menolong orang tersebut
bukanlah sebuah tugas yang dapat diselesaikan oleh segelintir orang. Untuk
mendapatkan penyelesaian yang berarti, perlu banyak orang yang mau mengorbankan
diri mereka. Sayangnya, hingga kini jumlah orang yang menklaim telah mengatasi
bencana kemanusiaan tersebut masih terlalu sedikit.
Di lain pihak,
trilyunan dolar telah dihambur-hamburkan di setiap penjuru dunia untuk beragam
tujuan. Di satu sisi ada orang-orang yang membuang makanannya hanya karena
tidak puas dengan jumlah garam dalam makanan tersebut, di lain pihak ada
manusia yang mati karena tidak menemukan makanan untuk dimakan. Ini adalah
bukti nyata adanya tatanan yang dzalim dan tidak adil akibat tidak diamalkannya
akhlaq agama.
Orang yang
memahami persoalan ini berpikir bahwa satu-satunya yang akan menghilangkan
ketidakadilan adalah akhlaq yang diajarkan Allah. Mereka yang takut kepada
Allah dan bertingkah laku sesuai dengan hati nurani dan akalnya tidak akan
pernah membiarkan kepincangan dan ketidakadilan yang ada. Mereka akan keluar
untuk menolong orang-orang yang membutuhkan dengan solusi yang cepat, tepat dan
permanen tanpa menonjolkan diri ataupun mengharapkan segala sesuatu yang
bersifat duniawi.
Disebutkan dalam
Al-Qur'an bahwa menolong kaum fakir dan miskin adalah ciri orang-orang yang
takut kepada Allah dan hari pembalasan:
"Dan
orang-orang yang dalam hartanya tersedia dalam bagian tertentu, bagi orang
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau
meminta), dan orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang
takut terhadap adzab Tuhannya." (QS. Al-Ma’arij, 70: 24-27)
"Dan mereka
memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang
yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan
tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Tuhan
kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh
kesulitan." (QS. Al-Insaan, 76: 8-10)
Tidak memberi
makan kepada orang miskin adalah ciri orang yang tidak beragama dan tidak
memiliki rasa takut kepada Allah:
"Peganglah
dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam
api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang
panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada
Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi
makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini.
Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.
Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa." (QS.
Al-Haaqqah, 69: 30-37)
Bagaimana bencana
alam yang terjadi di seluruh
dunia mendorong
seseorang berpikir?
Diantara
pemberitaan yang sering kita disaksikan di berbagai stasiun TV dan surat kabar
adalah laporan tentang bencana alam. Manusia dapat tertimpa bencana alam
seperti gempa bumi hebat, kebakaran ataupun banjir. Seseorang yang menyaksikan
berbagai liputan tentang bencana alam berpikir bahwa Allah mempunyai kuasa atas
segala sesuatu, bahwa Dia dapat saja menghancur luluhkan sebuah kota hingga
rata dengan tanah jika Dia menghendaki. Setelah memikirkan ini semua, ia paham
bahwa tidak ada sesuatupun selain Allah yang dapat dijadikan tempat berlindung
dan memohon pertolongan. Bahkan bangunan-bangunan yang paling kokoh; kota-kota
yang dilengkapi dengan teknologi yang paling canggih pun tidak akan mampu
bertahan terhadap adzab Allah; mereka dapat musnah seketika.
Semua pemandangan
ini ditunjukkan kepada manusia agar berpikir dan mengambil pelajaran.
Orang yang
mendengar atau membaca laporan bencana alam tersebut juga berpikir bahwa Allah
telah menurunkan bencana atas kota ini untuk suatu tujuan. Dalam Al-Qur'an,
Allah berfirman bahwa kepada bangsa-bangsa yang menentang, Allah mengirimkan
adzab agar mereka sadar atau mendapatkan balasan dari perbuatan mereka. Dengan
demikian jika suatu masyarakat melakukan bentuk perbuatan yang tidak diridhai
Allah, mereka pun akan dikenai hukuman Allah dengan sebab tersebut. Atau Allah
mungkin sedang menguji mereka dengan kesusahan di dunia.
Dengan memikirkan
segala kemungkinan tersebut, seseorang akan takut kalau-kalau hal serupa akan
juga menimpanya, dan memohon ampunan Allah atas segala perbuatannya.
Tak seorang atau
suatu bangsa pun dapat menghindar dari bencana apapun kecuali jika Allah
berkehendak lain. Tak peduli apakah bangsa tersebut termasuk yang paling kaya
dan terkuat di dunia atau mendiami sebuah tempat yang letak gegrafisnya tidak
menunjukkan adanya kemungkinan terkena bencana tersebut. Allah berfirman bahwa
tak ada satupun bangsa yang mampu mencegah bencana yang akan menimpa mereka.
"Maka apakah
penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada
mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk
negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di
waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah
mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang
merasa aman dan adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. Dan apakah belum
jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap)
penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena
dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat
mendengar (pelajaran lagi)?" (QS. Al-A’raaf, 7: 97-100)
Bagaimana berita
tentang sistem riba mendorong
seseorang
berpikir?
Topik lain yang
sering muncul dalam berita adalah masalah ekonomi yang makin terpuruk. Sejumlah
berita negatif khususnya tentang nilai suku bunga atau riba disiarkan setiap
hari. Orang yang membaca laporan-laporan yang menyebut tentang suku bunga yang
tidak terkendali dan menyebabkan krisis ekonomi berpikir bahwa akibat dari
perbuatan terlarang yang begitu luasnya tersebar, Allah mengurangi pendapatan
mereka. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat, "… Allah memusnahkan riba
dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam
kekafiran, dan selalu berbuat dosa.". (QS. Al-Baqarah, 2: 276), Allah
mampu menghilangkan keuntungan yang dihasilkan melalui bunga atau riba, dan
menurunkan produktifitasnya. Fakta ini tercantum dalam ayat lain:
"Dan sesuatu
riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka
riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat
yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat
demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)" (QS.
Ar-Ruum, 30: 39)
Bagi orang yang
merenung, berita tentang riba termasuk bukti nyata yang menunjukkan bahwa ayat
Allah berlaku pada manusia
Berpikir tentang
tempat-tempat yang indah
Melalui
acara-acara TV, surat kabar dan majalah-majalah manusia dapat menyaksikan
sekaligus memikirkan keindahan-keindahan yang Allah ciptakan. Melihat ataupun
mengunjungi pemandangan yang mempesona, rumah yang bagus, taman atau pantai
yang indah sudah pasti menyenangkan setiap orang. Beragam pemandangan tersebut
pertama-tama dapat mengingatkan seseorang akan surga. Orang yang beriman sekali
lagi ingat bahwa Allah, yang telah memberikan sedemikian banyak nikmat dan
menunjukkan keindahan yang luar biasa, telah menyediakan tempat-tempat yang
keindahannya tak tertandingi di surga.
Pemandangan
tersebut dapat pula mendorong seseorang untuk berpikir: setiap keindahan yang
diciptakan di dunia memiliki sejumlah ketidaksempurnaan karena memang dunia
adalah tempat ujian. Seseorang yang berada beberapa saat di tempat-tempat
rekreasi yang gambarannya pernah ia saksikan sebelumnya di TV dapat melihat
kekurangan-kekurangan tersebut. Beberapa contoh diantaranya adalah cuaca yang
terlalu lembab, air laut yang kadar garamnya sangat tinggi, panas terik yang
menyengat, lalat yang berterbangan di mana-mana. Di dunia terdapat banyak
kesulitan-kesulitan dan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan seperti sakit
akibat tersengat sinar matahari, agen perjalanan yang kurang terorganisasi,
temperamen kurang bersahabat dari orang-orang yang bersama-sama dengan kita
merasakan kondisi ini.
Sebaliknya, di
dalam surga terdapat keindahan-keindahan yang sempurna dan asli, tak terdapat
sesuatupun yang mengganggu manusia dan tak satupun percakapan yang tidak
menyenangkan akan terucap. Ketika melihat setiap keindahan yang ada di dunia,
ia memikirkan dan mendambakan surga. Ia selalu bersyukur atas segala kenikmatan
yang telah dikaruniakan Allah kepadanya di dunia, dan ia menikmatinya sambil
berpikir bahwa semua ini adalah anugerah yang Allah turunkan dari rahmat-Nya.
Dengan mengetahui bahwa sumber dari segala keindahan ini berasal dari surga, ia
tidak akan melupakan akhirat akibat terlenakan oleh keindahan-keindahan dunia.
Ia menjalani kehidupan dengan cara yang membuatnya mampu memperoleh keindahan
abadi dan layak untuk masuk ke dalam surga Allah.
Bagaimana
informasi dari majalah ilmiah yang menyatakan
bahwa unsur
penyusun materi adalah atom membuat
seseorang
berpikir?
Tanpa memikirkan
terhadap apa-apa yang ia ketahui, seseorang tidak akan mampu mengetahui hal-hal
yang demikian rumit namun penting; dan menyadari betapa luar biasanya
lingkungan di mana ia berada. Oleh karena itu, orang yang beriman senantiasa
memikirkan berbagai makhluk hidup dan kejadian-kejadian yang Allah ciptakan.
Kendatipun semua itu dapat berupa segala sesuatu yang sudah umum dan diketahui
oleh banyak orang, namun ia mampu untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan yang
berbeda dibandingkan dengan orang lain.
Sebagai contoh,
adalah fakta yang telah dikenal luas bahwa unsur dasar penyusun setiap benda di
jagad raya, hidup ataupun tak hidup, adalah atom-atom. Dengan kata lain
sebagian besar manusia tahu bahwa buku yang mereka baca, kursi yang mereka duduki,
air yang mereka minum dan apapun yang mereka lihat di sekitar mereka tersusun
atas atom-atom. Namun hanya orang-orang yang memiliki nalar dan kesadaran saja
yang mampu berpikir lebih jauh tentang hal ini dan menyaksikan kehebatan Allah.
Ketika orang-orang
tersebut melihat sebuah laporan yang membahas tentang topik di atas, ia akan
berpikir sebagaimana berikut: atom-atom adalah benda tak hidup. Lalu bagaimana
substansi tak hidup seperti atom-atom dapat bergabung dan membentuk wujud
manusia yang memiliki kemampuan untuk melihat, mendengar, menafsirkan segala
sesuatu yang mereka terima, menikmati musik yang mereka dengar, berpikir,
membuat keputusan-keputusan, menjadi bahagia atau tidak bahagia? Bagaimana
manusia mendapatkan segala kemampuan seperti ini?; yakni sifat-sifat
kemanusiaan yang sama sekali berbeda dengan wujud fisik yang dihasilkan dari
penggabungan atom-atom yang berbeda tersebut.
Sudah tentu
atom-atom yang tak hidup dan tidak memiliki kesadaran tersebut tidak dapat
memberikan kepada manusia sifat-sifat kemanusiaan. Adalah fakta bahwa Allah
menciptakan manusia dengan ruh yang memiliki sifat-sifat tersebut. Hal ini
mengingatkan kita pada sebuah ayat Allah:
"Yang
membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari
saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya
ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajadah, 32: 7-9)
Beberapa fakta
yang didapatkan oleh seseorang
setelah berpikir
secara mendalam
Pernahkan anda
berpikir bahwa setiap sesuatu diciptakan untuk manusia saja?
Ketika seseorang
yang beriman kepada Allah mengamati segala sesuatu beserta sistim yang ada,
hidup ataupun tak hidup, yang ada di jagad raya dengan menggunakan mata yang
penuh perhatian, ia melihat bahwa segalanya telah diciptakan untuk manusia. Ia
mengetahui bahwa tak satupun yang muncul dan menjadi ada di dunia secara
kebetulan, namun diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang sangat sesuai untuk
kehidupan manusia.
Misalnya, dari
dulu hingga sekarang manusia dapat bernapas tanpa susah payah di setiap saat. Udara
yang ia hirup tidak membakar saluran hidungnya, tidak membuatnya mabuk ataupun
sakit kepala. Komposisi unsur-unsur ataupun senyawa-senyawa gas dalam udara
telah ditetapkan dalam jumlah yang paling sesuai untuk tubuh manusia. Seseorang
yang memikirkan hal ini teringat akan hal lain yang sangat penting: seandainya
kadar oksigen dalam atmosfir sedikit lebih atau kurang dari yang ada sekarang,
dalam dua keadaan tersebut kehidupan akan hancur. Ia lalu ingat betapa susahnya
bernapas ketika berada dalam tempat yang tidak mengandung udara. Ketika seorang
yang beriman terus-menerus memikirkan masalah ini, ia akan selalu bersyukur
kepada Tuhannya. Ia melihat bahwa atmosfir bumi dapat saja dibuat sedemikian
rupa sehingga membuatnya susah untuk bernapas sebagaimana banyak planet-planet
yang lain. Namun tidak lah demikian kenyataannya, atmosfir bumi diciptakan
dalam keseimbangan dan keteraturan yang demikian sangat sempurna sehingga
membuat jutaan manusia bernapas tanpa susah payah.
Seseorang yang
tiada henti memikirkan tentang planet dimana ia hidup, meyadari betapa
pentingnya air yang diciptakan Allah untuk kehidupan manusia. Kemudian ia pun
berpikir: manusia pada umumnya paham tentang pentingnya air hanya ketika mereka
kekurangan air dalam waktu yang lama. Air adalah substansi yang kita butuhkan
setiap saat dalam hidup kita. Misalnya, sebagian besar dari sel-sel tubuh, dan
darah yang menjangkau setiap bagian kecil dari tubuh kita tersusun atas air.
Jika tidak demikian, maka fluiditas darah akan berkurang dan darah akan sangat
sulit mengalir di dalam pembuluh vena. Fluiditas air tidak hanya penting bagi
tubuh kita akan tetapi juga untuk tumbuh-tumbuhan. Air mampu menjangkau bagian
yang paling ujung dari daun dengan melalui pembuluh-pembuluhnya yang halus
seperti benang.
Massa air yang
sangat besar di lautan menjadikan bumi kita tempat yang dapat didiami. Jika
proporsi lautan di bumi menjadi lebih kecil dari daratan, di mana-mana akan
berubah menjadi gurun yang tidak memungkinkan adanya kehidupan.
Seseorang yang
sadar dan berpikir tentang hal ini akan benar-benar yakin bahwa adanya
keseimbangan yang begitu sempurna di bumi sudah pasti bukanlah sebuah
kebetulan. Setelah menyaksikan dan memikirkan fenomena tersebut, akan tampak
bahwa segala sesuatu diciptakan dengan sebuah tujuan oleh Pencipta yang Maha
Tinggi dan Pemilik Kekuatan yang Abadi.
Di samping itu,
ia juga sadar bahwa contoh-contoh yang telah ia pikirkan sebagaimana di atas
sangatlah terbatas. Sungguh, tidaklah mungkin untuk menyebutkan jumlah seluruh
contoh-contoh yang berkenaan dengan keseimbangan yang sempurna di bumi. Bagi
orang yang berpikir, ia akan dapat dengan mudah menyaksikan keteraturan,
kesempurnaan dan keseimbangan yang terlihat jelas di setiap sudut jagad raya,
dan dengannya mencapai suatu kesimpulan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah
untuk manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan Dia
telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS.
Al-Jaatsiyah, 45: 13)
Bagaimana
kekekalan mendorong seseorang berpikir?
Setiap orang
telah mengetahui konsep kekekalan atau keabadian, namun sudahkan anda berpikir
tentang kekekalan? Ini adalah salah satu yang menjadi bahan renungan orang yang
beriman kepada Allah.
Keberadaan
kehidupan surga dan neraka yang kekal ciptaan Allah sangatlah penting dan perlu
untuk direnungkan oleh setiap orang. Seseorang yang memikirkannya akan mendapat
gambaran dalam benaknya: surga yang abadi adalah nikmat dan pahala yang sangat
besar yang diberikan kepada manusia setelah mati. Kehidupan yang penuh
kemuliaan di surga tidak akan pernah berakhir. Manusia hidup di dunia paling
lama seratus tahun. Namun kehidupan di surga akan berlangsung selama trilyunan
tahun dikalikan angka trilyunan tanpa ada akhirnya.
Orang yang ingat
akan hal tersebut sadar bahwa sangatlah sulit bagi manusia untuk memahami
konsep keabadian. Contoh berikut mungkin membantu dalam menjelaskan masalah
ini: "seandainya di dunia terdapat seratus trilyun manusia, dan semuanya
memiliki umur seratus trilyun tahun, dan mereka menghabiskan seluruh waktu
hidupnya dengan berhitung di siang dan malam hari, maka jumlah total angka yang
mereka capai tetap nol dibandingkan dengan jumlah tahun yang akan mereka
habiskan di kehidupan yang kekal di akhirat."
Setelah
memikirkan masalah di atas, seseorang akan sampai pada kesimpulan sebagai
berikut: Allah memiliki ilmu yang sedemikian luas dan tinggi yang tidak dibatasi
oleh ruang dan waktu. Peristiwa yang berlangsung terus menerus sepanjang waktu
tanpa ada akhirnya atau dengan kata lain berlansung secara kekal dalam
pandangan manusia, telah selesai atau berakhir dalam pandangan Allah. Setiap
peristiwa dan setiap pikiran manusia, terlepas dari bentuk maupun waktu
terjadinya peristiwa dan pikiran ini, yang terjadi sejak pertama kali waktu
diciptakan hingga saat keabadian berlangsung telah ditentukan dan diputuskan
menurut ilmu-Nya.
Demikian pula,
seseorang seharusnya berpikir bahwa neraka adalah tempat tinggal selamanya bagi
orang-orang yang tidak beriman. Terdapat beragam bentuk penyiksaan, hukuman dan
kehidupan yang menyengsarakan di neraka Di tempat ini mereka menderita siksaan
jasad dan ruh yang terus-menerus tanpa istirahat. Siksaan yang tiada pernah
berhenti hingga akhir masa, dan tidak pula pernah dihentikan untuk tidur
ataupun istirahat. Seandainya ada akhir dari kehidupan di neraka, ini akan
menjadi harapan bagi para penghuni neraka kendatipun bertrilyun-trilyun tahun
kemudian. Namun, yang mereka terima sebagai balasan dari dosa-dosa yang mereka
perbuat di kehidupan dunia adalah adzab yang kekal.
"Dan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-A'raaf, 7: 36)
Sangatlah penting
bagi setiap individu untuk mencoba memahami keabadian dengan merenungkannya
dalam rangka meningkatkan semangat dalam meraih akhirat, dan menguatkan
ketakutan dan pengharapannya. Sangat takut kepada siksaan yang kekal, namun
pada saat yang sama senantiasa berharap untuk mendapatkan surga yang abadi.
Bagaimana
seseorang berpikir tentang mimpi?
Terdapat sejumlah
pelajaran penting dalam fenomena mimpi bagi orang yang berpikir. Ia berpikir:
betapa "sangat nyatanya" mimpi-mimpi yang dilihatnya ketika sedang
tidur, tidak begitu berbeda dengan ketika ia sedang terjaga. Misalnya,
kendatipun jasad sedang terbujur di tempat tidur, dalam mimpinya ia melakukan
perjalanan bisnis, bertemu dengan orang-orang baru, makan siang sambil
mendengarkan musik. Ia menikmati rasa makanannya, menari-nari mengikuti irama
musik, merasa sangat gembira karena peristiwa-peristiwa yang terjadi, menjadi
bahagia dan tidak bahagia, takut, merasa lelah, bahkan mampu mengemudikan
kendaran yang belum pernah dinaikinya atau bahkan belum tahu bagaimana
mengendarainya hingga hari itu.
Kendatipun tubuh
tertidur dengan tenang di pembaringan dengan kedua mata terpejam, ia melihat
beragam pemandangan dari tempat di mana ia berada. Ini berarti bahwa apa yang
melihat bukanlah matanya. Meskipun ruangan tempat ia tidur kosong, ia mendengar
suara-suara. Ini berarti bahwa yang mendengar bukanlah telinganya. Segala
sesuatu terjadi di dalam otaknya. Setiap kejadian tersebut sama sekali nyata
seakan-akan setiap apa yang dilihat benar-benar nyata dan asli kendatipun tak
satupun dari yang dilihatnya tersebut memiliki keaslian atau wujud di luar
mimpinya. Lalu apakah yang menyebabkan pemandangan-pemandangan tersebut tampak
sedemikian nyata di benak seseorang? Manusia tidak mampu membuatnya secara
sadar dan sengaja ketika sedang tidur. Otak pun tidak akan mampu membuat
sendiri gambar-gambar serupa. Otak adalah sebuah gumpalan yang terdiri atas
molekul-molekul protein. Sangatlah tidak rasional untuk mengatakan bahwa
substansi ini dengan sendirinya mampu membuat gambaran, bahkan menampilkan
wajah-wajah manusia, tempat-tempat, suara yang belum pernah terdengar kecuali
pada hari itu. Lalu siapakah yang memperlihatkan gambar-gambar atau
pemandangan-pemandangan ini dalam mimpi ketika sedang tidur? Sekali lagi,
seseorang yang merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini akan melihat kebenaran
yang hakiki: Allah lah yang membuat manusia tidur, mengambil ruh mereka ketika
mereka sedang tidur, mengembalikannya kepada mereka ketika bangun dan
memperlihatkan mimpi-mimpi mereka dalam tidur.
Orang yang
mengetahui bahwa Allah memperlihatkan mimpi juga akan merenungkan makna tersembunyi
dan tujuan penciptaan mimpi tersebut. Ketika seseorang mendapatkan mimpi, ia
yakin akan keberadaan orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang ia alami
sebagaimana ketika ia sedang terjaga. Ia berpikir bahwa semua ini benar-benar
nyata, bahwa kehidupan dalam mimpinya tidak akan berakhir dan akan berlangsung
terus-menerus. Jika ada seseorang yang datang menghampirinya dan
berkata,"Anda saat ini sedang bermimpi, bangunlah", maka ia tidak
akan mempercayainya. Orang yang mengetahui tentang kenyataan tersebut akan
berpikir: "Tak seorang pun dapat menyangkal bahwa hidup di dunia pun
sementara, sebagaimana mimpi belaka. Sebagaimana ketika terjaga dari sebuah
mimpi, suatu hari saya juga akan terbangun dan terjaga dari kehidupan dunia dan
melihat gambaran yang sama sekali berbeda, misalnya gambaran tentang akhirat….
Memikirkan
Ayat-Ayat Al-Qur’an
Al-Qur'an adalah
kitab terakhir yang Allah turunkan bagi semua manusia. Setiap orang yang hidup
di bumi wajib mempelajari Al-Qur'an dan melaksanakan perintah-perintahnya. Akan
tetapi, kebanyakan manusia tidak mempelajari ataupun melaksanakan apa yang
Allah perintahkan dalam Al-Qur'an kendatipun mereka menerimanya sebagai sebuah
kitab yang diwahyukan. Ini adalah akibat dari belum memikirkan tentang
Al-Qur'an tetapi sekedar mengetahui dari informasi yang didapat dari sana sini.
Sebaliknya, bagi orang yang berpikir, Al-Qur'an memiliki kedudukan dan peranan
yang sangat besar dalam kehidupannya.
Pertama-tama,
orang yang "berpikir" ingin mengetahui tentang Pencipta yang telah
menciptakan dirinya dan jagad raya di mana ia tinggal dari ketiadaan, yang
telah memberinya kehidupan ketika dirinya belum berwujud, dan yang telah
menganugerahkan kepadanya nikmat dan keindahan yang tak terhitung jumlahnya;
dan ia pun mempelajari tentang bentuk-bentuk perbuatan yang diridhai Allah.
Al-Qur'an, yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya, adalah petunjuk yang
memberikan jawaban atas pertanyaan manusia di atas. Dengan alasan ini, manusia
perlu mengetahui kitab Allah yang diturunkan untuknya sebagai petunjuk yang
dengannya ia membedakan yang baik dari yang buruk, merenungkan setiap ayatnya
dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan dengan cara yang paling tepat dan
diridhai.
Allah berfirman
tentang tujuan diturunkannya Al-Qur'an untuk manusia:
"Ini adalah
sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29)
"Sekali-kali
tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan. Maka
barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya
(Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali
(jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa
kepada-Nya dan berhak memberi ampun." (QS. Al-Muddatstsir, 74: 54-56)
Banyak orang
membaca Al-Qur'an, namun yang penting adalah sebagaimana yang Allah nyatakan
dalam ayat-Nya yakni merenungkan tiap ayat Al-Qur'an, mengambil pelajaran dari
ayat tersebut dan memperbaiki perilaku seseorang sesuai dengan pelajaran yang
terkandung di dalamnya. Orang yang membaca ayat: "Karena sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan." (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6), misalnya, akan merenungkan ayat
ini: ia paham bahwa Allah menciptakan kemudahan disamping setiap kesulitan,
karena itu yang ia harus lakukan ketika menemui sebuah kesulitan adalah percaya
penuh kepada Allah dan menantikan kemudahan yang akan datang kemudian. Dengan
janji Allah ini, ia melihat bahwa putus harapan atau menjadi panik di saat
munculnya kesulitan adalah sebuah tanda dari lemahnya iman. Setelah membaca dan
merenungkan ayat di atas, perilakunya selalu sejalan dengan ayat tersebut
sepanjang hidupnya.
Dalam Al-Qur'an,
Allah mengisahkan beberapa pelajaran dari kehidupan para nabi dan rasul yang
hidup di masa lampau agar manusia dapat melihat bagaimana perilaku, pembicaraan
dan kehidupan manusia yang diridhai Allah, dan menjadikan mereka sebagai
panutan. Allah berfirman dalam beberapa ayat-Nya bahwa manusia hendaknya
memikirkan dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah para rasul tersebut:
"Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal." (QS. Yuusuf, 12: 111)
"Dan juga
pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada
Fir'aun dengan membawa mu'jizat yang nyata." (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 38)
"Maka Kami
selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa
itu pelajaran bagi semua umat manusia." (QS. Al-Ankabuut, 29: 15)
Dalam Al-Qur'an,
disebutkan beberapa ciri bangsa-bangsa kuno, akhlaq serta bencana-bencana yang
menimpa mereka. Adalah sebuah kesalahan yang besar untuk memahami ayat-ayat ini
hanya sebagai peristiwa sejarah dengan berbagai peristiwa yang menimpa mereka.
Sebab, sebagaimana di semua ayat yang lain, Allah mengisahkan kehidupan
bangsa-bangsa di masa lampau untuk kita renungkan dan ambil pelajaran dari
berbagai bencana yang menimpa bangsa-bangsa ini sebagai pedoman dalam
memperbaiki perilaku kita:
"Dan
sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah
orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54: 51)
"Dan Kami
angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar
dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).
Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah
orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya adzab-Ku dan
ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk
pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54:
13-17)
Allah telah
menurunkan Al-Qur'an untuk semua manusia sebagai petunjuk. Oleh karena itu,
memikirkan setiap ayat Al-Qur'an dan menjalani hidup sesuai Al-Qur'an dengan
mengambil pelajaran dan peringatan dari setiap ayatnya adalah satu-satunya cara
untuk mendapatkan keridhaan, kasih sayang dan surga Allah.
Tentang apakah di
dalam Al-Qur'an
Allah mengajak
manusia untuk berpikir?
"Dan Kami
turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an), agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan." (QS. An-Nahl, 16: 44)
Sebagaimana dalam
ayat di atas, di banyak ayat-Nya yang lain, Allah mengajak manusia untuk
merenung. Memikirkan tentang apa-apa yang Allah perintahkan kita untuk
berpikir, dan melihat makna tersembunyi dan keajaiban ciptaa-Nya adalah salah
satu bentuk ibadah. Setiap hal yang kita renungkan akan membantu kita untuk
lebih mengetahui dan mengakui akan Kekuasaan, Kebijaksanaan, Ilmu, Seni dan
sifat-sifat Allah yang lain.
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan penciptaan
dirinya sendiri
"Dan berkata
manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan
dibangkitkan menjadi hidup kembali?" Dan tidakkah manusia itu memikirkan
bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?"
(QS. Maryam, 19: 66-67)
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan tentang
penciptaan alam
semesta
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera
yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan." (QS. Al-Baqarah, 2: 164)
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan sifat
kehidupan dunia
yang sementara
"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan
duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu
tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada
yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah
sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya
mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab
Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana
tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang
yang berpikir." (QS. Yuunus, 10: 24)
"Apakah ada
salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam
buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai
keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang
mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (QS. Al-Baqarah, 2: 266)
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan
nikmat-nikmat
yang mereka miliki
"Dan Dia-lah
Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai
padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah
menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini
terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur,
tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang,
disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu
atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS.
Ar-Ra‘d, 13: 3-4)
Allah mengajak
manusia untuk berpikir bahwa
seluruh alam
semesta telah diciptakan untuk manusia
"Dan Dia
telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS.
Al-Jaatsiyah, 45: 13)
"Dia
menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur
dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan
malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu
ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), dan
Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan
berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan
Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu
perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan
supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama
kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat
petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan
bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang
menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka
mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl, 16: 11-17)
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan tentang
dirinya sendiri
"Dan mengapa
mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?" (QS. Ar-Ruum, 30:
8)
Allah mengajak
manusia untuk berpikir tentang
akhlaq yang baik
"Dan
janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih
bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan
dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar
kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil,
kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu
diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat." (QS. Al-An‘aam, 6: 152)
"Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS.
An-Nahl, 16: 90)
"Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu
sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu
lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." (QS. An-Nuur, 24: 27)
Allah mengajak
manusia ntuk berpikir tentang akhirat,
hari kiamat dan
hari penghisaban.
"Pada hari
ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu
(juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia
dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap
siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Aali
‘Imraan, 3: 30)
"Dan
ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai
perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami
telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang
tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat." (QS.
Shaad, 38: 45-46)
"Maka
tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya
kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang
tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila
Kiamat sudah datang?" (QS. Muhammad, 47: 18)
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan makhluk
hidup yang Dia
ciptakan
"Dan Tuhanmu
mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di
pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian
makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang
telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang
bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16:
68-69)
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan adzab
yang dapat secara
tiba-tiba menimpanya
"Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang
kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu
orang-orang yang benar!" (QS. Al-An‘aam, 6: 40)
"Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan
serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya
kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan
tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS.
Al-An‘aam, 6: 46)
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan
sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah)
selain dari orang yang dzalim?" (QS. Al-An‘aam, 6: 47)
"Dan
tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali
atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula)
mengambil pelajaran?" (QS. Yuunus, 10: 50)
"Dan
tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali
atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula)
mengambil pelajaran?" (QS. At-Taubah, 9: 126)
"Dan
sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami
binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia
dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat." (QS. Al-Qashas, 28: 43)
"Dan
sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah
orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54: 51)
"Dan
sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan)
musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil
pelajaran. (QS. Al-A‘raaf, 7: 130)
Allah mengajak
manusia untuk memikirkan tentang
Al-Qur'an
"Maka apakah
mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari
sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya." (QS. An-Nisaa’, 4: 82)
"Maka apakah
mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada
mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?"
(QS. Al-Mu’minuun, 23: 68)
"Ini adalah
sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29)
"Sesungguhnya
Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat
pelajaran." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 58)
"Sekali-kali
tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah peringatan.Maka
barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al
Qur’an)." (QS. Al-Muddatstsir, 56: 54-55)
"Dan
demikianlah Kami menurunkan Al Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah
menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar
mereka bertakwa atau (agar) Al Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi
mereka.". (QS. Thaahaa, 20: 113)
Rasul-rasul Allah
mengajak umatnya yang kurang
dalam hal
pemahaman untuk berpikir
"Katakanlah:
Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak
(pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa
aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.
Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka
apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS. Al-An‘aam, 6: 50)
"Dan dia
dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang
Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". Dan
aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu
persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari
malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu
tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" (QS. Al-An‘aam, 6: 80)
Allah mengajak
manusia berpikir untuk melawan
pengaruh syaitan
"Dan jika
kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka
ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan
dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (QS.
Al-A‘raaf, 7: 200-202)
Perintah Allah
untuk mengarahkan orang yang diberi
penjelasan
tentang ajaran agama agar berpikir secara mendalam
"Pergilah
kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua
lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia
telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata
yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaahaa, 20:
42-44)
Allah mengajak
manusia untuk berpikir tentang
kematian dan
mimpi
"Allah
memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum
mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
kaum yang berpikir." (QS. Az-Zumar, 39: 42)
Kesimpulan
Tujuan penulisan
buku ini adalah "mengajak untuk berpikir". Kebenaran dapat
disampaikan kepada seseorang melalui berbagai macam cara, dengan sangat rinci
beserta semua bukti serta segala sarana yang ada. Namun jika orang tersebut
tidak memikirkan sendiri kebenaran yang ada secara ikhlas dan jujur dengan
tujuan memahami kebenaran, segala usaha tersebut tidak akan ada artinya. Oleh
karena itu, ketika rasul-rasul Allah menyampaikan risalah kepada umat mereka,
mereka menyampaikannya secara jelas kemudian menyuruh mereka untuk
memikirkannya.
Seseorang yang berpikir akan sangat paham akan
rahasia-rahasia ciptaan Allah, kebenaran tentang kehidupan di dunia, keberadaan
neraka dan surga, dan kebenaran hakiki dari segala sesuatu. Ia akan sampai
kepada pemahaman yang mendalam akan pentingnya menjadi seseorang yang dicintai
Allah, melaksanakan ajaran agama secara benar, menemukan sifat-sifat Allah di
segala sesuatu yang ia lihat, dan mulai berpikir dengan cara yang tidak sama
dengan kebanyakan manusia, namun sebagaimana yang Allah perintahkan. Walhasil
ia akan mendapatkan kenikmatan yang lebih dari keindahan-keindahan yang ia
saksikan, melebihi dari yang didapatkan oleh orang lain. Ia tidak akan
menderita tekanan batin karena terbawa oleh angan-angan kosong yang tidak ada
dasarnya dan tidak terseret oleh kerakusan dunia.
Ini hanyalah
sedikit dari keutamaan-keutamaan yang diperoleh seseorang yang berpikir di
dunia. Balasan di akhirat untuk orang yang selalu mencari kebenaran dengan
berpikir adalah kecintaan, keridhaan, kasih sayang dan surga Allah.
Sebaliknya, satu
hari pasti akan datang ketika mereka yang semasa masih di dunia tidak mau
memikirkan kebenaran akan berpikir, bahkan lebih dari itu, "berpikir
secara mendalam dan merenung" dan melihat kebenaran-kebenaran tersebut
dengan sangat jelas. Namun, pada hari itu berpikir tidak akan berguna bagi
mereka, bahkan membuat mereka tertimpa kesedihan. Allah berfirman dalam
Al-Qur'an:
"Maka
apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari
(ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan
neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat." (QS. An-Naazi‘aat,
79: 34-36)
Mengajak manusia
(yang memiliki anggapan bahwa mereka dapat lolos dari tanggung jawab mereka
dengan tidak berpikir) untuk berpikir sehingga mereka dapat merenungkan akibat
yang akan menimpa mereka, dan kembali kepada agama Allah, adalah satu bentuk
ibadah bagi orang-orang mukmin. Namun, sebagaimana Allah berfirman dalam
Al-Qur'an:
"…Maka
barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al
Qur’an)". (QS. Al-Muddatstsir, 56: 55)


