ALLAH PENCIPTA KITA
SEMUA
Kalian sering mendengar manusia menyebutkan kata
”Allah.” Mereka biasanya mengucapkannya dalam kalimat, ”Semoga Allah
memberkatimu, ”Jika Allah berkehendak,” ”Insya Allah,” ”Semoga Allah mengampunimu,”
dan seterusnya.
Ini adalah kalimat-kalimat yang digunakan ketika kita
mengingat Allah, berdoa kepada-Nya, atau meninggikan-Nya.
Misalnya, “Semoga Allah melindungimu” menjelaskan
kenyataan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang tak terbatas pada diri kalian
dan segala makhluk, bernyawa atau tak bernyawa, di sekitarmu. Allah-lah
Yang bisa menyelamatkan kalian, ibu kalian, ayah, dan
teman kalian dari kejahatan. Karena itu, kalimat ini sering digunakan di saat
terjadinya bencana alam atau kejadian-kejadian yang tidak diharapkan. Coba
pikirkan: Bisakah ibu, ayah, atau semua orang lain yang kalian ketahui mencegah
bencana alam, misalnya banjir? Mereka tentu tidak bisa, karena hanya Allah yang
mengizinkan kejadian seperti itu terjadi pada manusia, sehingga hanya Dia yang
bisa mencegahnya.
Kata “insya Allah” berarti
“jika Allah berkehendak”. Oleh sebab itu, ketika kita berkata bahwa kita akan
melakukan atau tidak melakukan sesuatu, kita wajib berkata, “Insya Allah.” Ini
karena hanya Allah yang mengetahui masa depan dan menciptakan masa depan itu
menurut kehendak-Nya. Tidak ada yang akan terjadi kecuali jika Dia
menghendakinya.
Ketika salah seorang teman
kalian, misalnya, berkata, “Aku pasti akan pergi sekolah besok,” dia salah
karena kita tidak tahu apakah Allah akan menghendakinya pergi sekolah besok.
Mungkin dia besok sakit dan tidak bisa pergi sekolah, atau cuaca buruk
menyebabkan sekolah libur.
Oleh sebab itu, kita mengatakan “insya Allah” ketika
menyebutkan niat kita di masa depan, yang mengakui bahwa Allah mengetahui
segalanya, bahwa segalanya terjadi hanya dengan kehendak-Nya dan bahwa kita
tidak akan pernah bisa mengetahui maksud dari perbuatan Allah atas kita. Dengan
begitu, kita memperlihatkan hormat kita kepada Allah, yang memiliki kekuasaan
dan pengetahuan tak terbatas.
Dalam ayat Al Qur’an,
Allah memberi tahu kita bahwa Dia menginginkan kita berkata “insya Allah” (jika
Allah menghendaki):
“Dan jangan sekali-kali kalian mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya
aku akan mengerjakan itu besok pagi”, kecuali (dengan menyebut), ”InsyaAllah.”
Dan ingatlah Tuhanmu jika kalian lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku
akan memberiku petunjuk melakukan hal yang paling sesuai dengan niatku ini”. (QS Al-Kahfi: 23-24)
Mungkin kalian tidak terlalu paham tentang masalah ini,
tetapi itu tidak begitu penting. Agar kalian mengenal Allah, yang perlu kalian
lakukan adalah melihat ke sekitar kalian dan berpikir.
Segala hal di sekitarmu penuh dengan keindahan yang
menunjukkan sifat Allah dan kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Pikirkanlah
tentang kelinci putih yang cantik, lumba-lumba yang tersenyum, warna-warna
indah sayap kupu-kupu, atau lautan yang biru, hutan hijau, berbagai jenis bunga
dan keindahan lain yang tak terhitung di dunia. Allah-lah Yang menciptakan
semua ini. Allah telah menciptakan seluruh alam semesta yang kalian lihat,
dunia dan makhluk di dalamnya, dari tidak ada menjadi ada. Oleh sebab itu,
dengan melihat keindahan yang Dia ciptakan, kalian akan melihat kekuasaan-Nya
yang tak terbatas.
Jelaslah bahwa kalau kita
ada, berarti Allah itu ada. Karena itu, pertama-tama marilah kita pikirkan
tentang keberadaan kita dan bagaimana Allah menciptakan kita begitu sempurna.
Keberadaan Manusia
Pernahkah kalian memikirkan bagaimana manusia bisa ada
di dunia ini? Kamu mungkin akan berkata, ”Semua orang punya ibu dan ayah.”
Namun, jawaban ini tidak tepat. Sebenarnya jawaban itu tidak bisa menjelaskan
bagaimana ibu dan ayah pertama, yaitu manusia pertama, tercipta. Kamu mungkin
pernah mendengar cerita-cerita tentang hal ini di sekolah dan dari orang-orang
di sekitarmu. Tetapi, satu-satunya jawaban yang benar adalah bahwa Allah-lah
Yang menciptakan kalian. Kita akan mempelajari hal ini dengan mendalam dalam
bab-bab berikutnya. Sekarang, ada satu hal yang harus kalian semua ketahui.
Manusia pertama yang muncul di dunia ini adalah Nabi Adam Alaihissalam (AS).
Seluruh manusia adalah keturunannya.
Adam AS, seperti kita, adalah manusia yang berjalan,
bercakap-cakap, berdoa, dan menyembah Allah. Mula-mula Allah menciptakan dia,
kemudian Allah menciptakan istrinya. Lalu anak-anak mereka tersebar di seluruh
dunia.
Jangan pernah lupa bahwa
Allah hanya perlu memerintahkan sesuatu untuk menciptakannya. Ketika Dia
berkehendak agar sesuatu terjadi, Dia akan memerintahkan, “Jadilah!” dan
sesuatu itu pun terjadi. Dia punya kekuasaan yang menyebabkan-Nya bisa
melakukan segalanya. Misalnya, Dia menciptakan Adam dari tanah. Ini mudah bagi
Allah.
Akan tetapi, jangan lupa bahwa juga ada orang yang
mengingkari adanya Allah. Orang-orang ini memberikan jawaban lain pada
pertanyaan tentang bagaimana manusia terjadi. Mereka tidak mencari kebenaran.
Misalkan ada tokoh film
kartun bernama Badu. Badu berkata, “Aku terjadi karena tinta tumpah pada kertas
dengan tak sengaja, cat ini juga tak sengaja tertumpah, lalu membentuk
warna-warna. Jadi, aku tidak perlu siapa pun untuk menggambar diriku dan membentuk
rupaku. Aku bisa terjadi sendiri, dengan kebetulan,” tentu kalian akan
menganggap itu main-main saja. Kalian tahu bahwa garis-garis yang bagus,
warna-warna dan gerakan dalam film kartun itu tidak bisa terbentuk hanya dengan
menumpahkan cat sembarangan di sana-sini, karena menumpahkan tinta dari
botolnya hanya akan menyebabkan kotoran. Kotoran tentu tidak bisa menciptakan
gambar yang bagus yang terbuat dari garis-garis yang bagus pula. Agar gambar
kartun ini bisa dikenali, dan bisa tercipta, yang membuatnya telah
memikirkannya, merencanakannya, lalu menggambarnya.
Untuk memahami semua ini, kalian tidak perlu melihat
seniman dan pelukis gambar Badu itu. Tentu kalian sudah paham bahwa pembuat
gambar Badu itu telah menentukan sifatnya, bentuknya, dan warnanya, serta
bagaimana cara bicaranya, jalannya, atau lompatannya.
Setelah melihat contoh ini, pikirkanlah dengan baik
tentang hal berikut: Orang yang tidak setuju bahwa Allah-lah yang
menciptakannya sebenarnya juga telah berbohong, sama saja seperti Badu yang kita
bicarakan tadi.
Sekarang mari kita misalkan, bahwa orang seperti itu
berkata pada kita. Mari kita lihat cara orang ini mencoba menerangkan bagaimana
dia dan semua manusia tercipta.
“Aku, ibu dan ayahku, orang tua mereka, dan
orang tua yang pertama tinggal di bumi di masa lalu muncul secara tak sengaja.
Kejadian tak sengaja (kebetulan) ini menciptakan tubuh, mata, telinga, dan
seluruh bagian tubuh kita.”
Kata-kata orang ini, yang
mengingkari Allah yang telah menciptakannya, sama saja dengan kata-kata Badu
tadi. Satu-satunya perbedaannya adalah, Badu tercipta dari garis-garis dan cat
di selembar kertas. Orang tadi, sebaliknya, adalah manusia yang tubunya terdiri
dari daging dan tulang. Tetapi, adakah bedanya? Bukankah orang tersebut adalah
makhluk yang tubuhnya lebih rumit dan lebih sempurna dari tokoh kartun Badu
tadi? Bukankah tubuhnya terdiri dari jantung, hati, darah, dan banyak lagi?
Dengan kata lain, jika Badu mustahil terjadi secara tak sengaja, maka tentu
akan lebih mustahil lagi jika manusia tersebut tercipta secara tak sengaja.
Sekarang, ayo kita tanya orang tersebut:
”Kamu punya tubuh yang bagus yang tidak ada cacat dan
celanya. Tanganmu bisa memegang benda-benda dengan sangat baik, bahkan lebih
baik daripada mesin yang canggih. Kamu bisa berlari dengan kakimu. Kamu punya
pandangan mata yang sempurna, lebih tajam daripada kamera yang kualitasnya
tertinggi. Kamu tidak pernah mendengarkan suara-suara yang tidak kamu inginkan.
Tidak ada radio atau tape yang bisa menghasilkan suara sejernih itu. Banyak
bagian-bagian tubuhmu yang tidak kamu sadari bekerja bersama-sama agar kamu
tetap hidup. Misalnya, meskipun kamu tidak bisa mengendalikan apa-apa agar
jantung, ginjal, atau hatimu tetap bekerja, semua itu tetap saja bekerja tanpa
cacat dan cela. Sekarang, ratusan ilmuwan dan insinyur bekerja tanpa kenal
lelah untuk merancang mesin-mesin yang mirip dengan alat-alat tubuh ini. Namun,
usaha mereka tidak menghasilkan apa pun. Inilah buktinya, kamu adalah makhluk
yang sempurna, yang tidak bisa ditiru oleh manusia. Bagaimana kamu menjelaskan
ini?”
Orang yang mengingkari
bahwa Allah-lah yang menciptakan segalanya mungkin akan berkata:
"Aku juga tahu bahwa
kita punya tubuh yang tidak bercela dan alat-alat tubuh yang sempurna. Tetapi
aku yakin bahwa: atom-atom yang tidak hidup dan tidak sadar muncul sekaligus
tanpa sengaja untuk membentuk alat-alat tubuh dan tubuh kita."
Kalian tentu bisa melihat bahwa kata-katanya ini tidak
masuk akal dan aneh. Berapa pun umurnya dan apa pun pekerjaannya, orang yang
menyebutkan hal seperti ini tentu tidak mampu berpikir dengan jernih dan
mempunyai pemikiran yang keliru. Dan yang mengejutkan, kita sering sekali
menemukan orang yang yakin dengan hal yang tak masuk akal ini.
Karena mesin yang paling
sederhana pun pasti ada yang membuatnya, makhluk yang rumit seperti manusia
tentu tidak bisa terjadi dengan tak sengaja. Tidak diragukan lagi, Allah-lah
yang menciptakan manusia pertama. Allah juga yang menciptakan alat-alat tubuh
manusia pertama itu sehingga bisa berkembang biak dan sehingga muncullah
keturunan-keturunan berikutnya. Allah memastikan bahwa umat manusia akan terus
berkembang biak dengan program yang dimasukkannya dalam sel-sel manusia itu.
Kita juga terjadi berkat program yang diciptakan oleh Allah ini, dan terus
tumbuh sesuai dengan program itu. Yang akan kalian baca mengenai masalah ini di
halaman-halaman berikutnya akan membuat kalian bisa mencapai pemahaman yang
lebih baik tentang kenyataan bahwa Allah, Pencipta kita, memiliki kekuasaan dan
kearifan yang tak terbatas.
Program Sempurna dalam Tubuh Manusia
Dalam halaman sebelumnya, kita menyebutkan program
sempurna yang dimasukkan oleh Allah ke dalam tubuh manusia. Berkat program ini,
setiap manusia mempunyai mata, telinga, tangan, dan kaki. Juga berkat program
ini, meskipun ada perbedaan dalam bentuknya, semua manusia terlihat sangat
mirip. Kita mirip dengan kerabat kita, dan beberapa orang mempunyai sifat yang
khas karena program ini. Misalnya, orang Cina dan Jepang umumnya mirip satu
sama lain, orang Afrika punya warna kulit, bentuk muka, dan bentuk mulut serta
mata yang khas.
Sekarang, mari kita pelajari program seperti apakah itu,
melalui contoh berikut ini:
Kalian terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana
komputer bekerja. Seorang ahli merancang komputer tersebut. Para ahli di
pabrik-pabrik khusus dengan bantuan teknologi maju juga menciptakan
komponen-komponen tambahan seperti mikroprosesor, monitor, keyboard, CD,
pengeras suara, dan seterusnya. Sekarang, kalian mempunyai sebuah mesin yang
bisa memproses kerja yang sangat rumit. Kalian bisa bermain game atau
menulis apa pun yang kalian inginkan. Namun agar semua ini terjadi, kalian
membutuhkan alat yang disebut ”program”. Tanpa program ini, yang khusus
dipersiapkan oleh para ahli, komputer kalian tidak akan bisa bekerja.
Selanjutnya, kita tahu
bahwa tidak semua program cocok dengan semua tipe komputer. Ini berarti, programmer
(orang yang menciptakan program itu) harus mengetahui komputer tersebut
maupun software (yaitu alat tempat program itu ditempatkan) yang cocok
dengannya. Seperti yang telah kita lihat, kita membutuhkan sebuah mesin dan
program yang cocok untuk menjalankan komputer. Tetapi yang lebih penting, jika
tidak ada yang merancang dan menciptakan semua itu, komputer kalian pastilah
tidak akan bisa bekerja.
Tubuh manusia mirip dengan komputer. Seperti telah kita
katakan tadi, ada suatu program dalam sel kita yang membuat kita ada. Sekarang
pertanyaannya, bagaimana kejadiannya sehingga program ini bisa ada? Jawabannya
pasti:
Allah, Yang Maha Perkasa, secara khusus telah
menciptakan semua manusia. Allah-lah Yang menciptakan tubuh kita serta program
yang membentuknya.
Tetapi jangan salah. Jika kita pikirkan dengan cara
lain, sangat mustahil membandingkan tubuh manusia dengan sebuah komputer. Tubuh
kita jauh lebih hebat daripada komputer yang paling rumit sekalipun. Otak kita
saja, misalnya, jauh lebih rumit daripada komputer.
Sekarang mari kita lihat bagaimana seorang bayi terlahir
ke dunia.
Mula-mula, ada suatu bagian yang sangat kecil dalam
rahim ibu. Kemudian dari hari ke hari bagian yang sangat kecil ini tumbuh dan
mulai terbentuk.
Tinggi tubuh kalian, warna mata kalian, bulu mata
kalian, bentuk tangan-tangan kalian, dan ratusan ciri-ciri kalian semuanya
ditentukan sejak awal dari kejadian paling pertama keberadaan kalian. Semua
informasi ini tersimpan dalam program awal yang ditempatkan Allah dalam
sel-sel. Program ini begitu sempurna dan terperinci sehingga para ilmuwan baru
saja mulai bisa memahami bagaimana semua itu bekerja.
Sesuai dengan program yang ditempatkan Allah di dalam
tubuh kita, kita mulai tumbuh perlahan. Itulah sebabnya pertumbuhan tubuh kita
tidak terlihat aneh. Perlu waktu lama untuk tumbuh. Kita pasti akan terkejut
jika program ini bekerja dengan cepat. Mata bayi yang baru lahir, yang
tiba-tiba menjadi mata orang tua pastilah akan sangat mengejutkan.
Bagaimana
Bentuk Kehidupan Lainnya Terjadi?
Manusia tentu bukan
satu-satunya makhluk yang ada di bumi. Ada ribuan makhluk hidup lainnya, yang
di antaranya kalian ketahui dan banyak yang tidak kalian ketahui. Beberapa di
antara makhluk itu ada di sekitar kalian, kalian melihatnya di mana-mana. Akan
tetapi, ada pula yang begitu jauh sehingga kalian hanya bisa melihatnya dalam
buku-buku atau film. Tetapi, jika kalian melihat lebih dekat semua makhluk ini,
kalian akan melihat bahwa semuanya punya satu ciri umum. Bisakah kalian tebak
ciri apakah itu? Kita bisa menyebutnya “kecocokan”. Sekarang, mari kita
sebutkan cocok dengan apakah suatu makhluk hidup. Mereka cocok dengan:
-
Lingkungan
tempat mereka tinggal,
-
Makhluk
hidup lain yang hidup bersama-sama dengan mereka
-
Unsur-unsur
yang mempertahankan sifat mereka
-
Hal-hal
yang memberikan manfaat bagi manusia
Sebelum membahas semua
ini, mari kita gunakan contoh sederhana untuk memperjelas maksud “kecocokan”.
Pikirkanlah tentang stop kontak dan steker (colokan kabel listrik) di rumah
kalian. Keduanya saling cocok sama lain. Tetapi, kenapa kalian bisa
menyebutkannya saling cocok satu sama lain? Karena ada dua lubang di stop
kontak agar ujung colokan kabel tersebut bisa masuk. Sudah cukup? Lebar dua
ujung colokan logam harus sama dengan lebar dua lubang pada stop kontak. Jika
tidak begitu, colokan tidak akan pernah klop dengan stop kontak. Jarak antara
ujung colokan dengan jarak antara dua lubang stop kontak juga sama. Jika tidak
sama, colokan tidak akan pernah masuk ke dalam stop kontak.
Namun, ciri-ciri ini saja
tidak cukup untuk membuat colokan cocok dengan stop kontak. Jika colokan itu
sangat panjang, maka kembali lagi tidak ada kecocokan. Jika lubang-lubang
colokan tidak terbuat dari logam, listrik tidak akan mengalir ke dalam stop
kontak. Jika colokan tidak terbuat dari plastik, maka ketika kalian
memegangnya, kalian akan terkena strum listrik. Jadi, kurangnya kecocokan dalam
alat-alat yang paling sederhana sekalipun menyebabkan alat itu tidak bisa
bekerja. Ini berarti bahwa begitu pulalah halnya dengan orang yang menciptakan
colokan dan stop kontak itu. Dan dia menciptakannya saling cocok satu sama
lain. Dia membuat keduanya bisa dipakai. Tentu tidak mungkin logam dan plastik
bisa ada karena kebetulan dan keduanya direncanakan secara terpisah dan tidak
sekaligus, karena jika begitu kalian tidak akan pernah menemukan sebuah stop
kontak dan sebuah colokan kabel yang saling cocok satu sama lain.
Kecocokan makhluk hidup jauh lebih rumit dibandingkan
kecocokan stop kontak dengan colokan kabel, karena makhluk hidup terdiri dari
ribuan sistem (sistem di sini berarti: cara kerja tubuh) dan alat tubuh yang
harus ada sekaligus secara selaras dan bekerja sama dengan sempurna. Jika kita
tuliskan sistem-sistem ini kita akan memenuhi sebuah perpustakaan dengan
ratusan buku. Oleh sebab itu, dalam halaman-halaman berikut kita akan membahas
secara singkat ciri-ciri sempurna makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah:
- Makhluk hidup cocok dengan lingkungan tempat mereka hidup
Setiap makhluk hidup, di darat atau di air, cocok
sempurna dengan tempat tinggalnya. Begitulah mereka diciptakan. Berbagai sistem
sempurna memastikan tersedianya zat makanan, perlindungan, dan perkembangbiakan
makhluk hidup. Artinya, setiap makhluk hidup dirancang khusus sesuai dengan
tempat hidupnya.
Alat-alat tubuh dan gaya hidup makhluk hidup cocok
dengan keadaan lingkungannya. Misalnya, burung memiliki sayap yang sempurna
untuk terbang di langit. Ikan-ikan mempunyai insang yang diciptakan khusus
untuk bernafas dalam air. Jika mereka mempunyai paru-paru seperti kita, mereka
akan mati.
- Makhluk hidup cocok dengan makhluk hidup lain yang hidup bersama mereka
Ada beberapa burung dan serangga yang membantu
perkembangbiakan tanaman. Artinya, meskipun mereka tidak menyadarinya, mereka
telah membantu tumbuhnya tanaman. Misalnya, ketika terbang dari bunga satu ke
bunga lainnya, kumbang-kumbang membawa serbuk sari yang menempel. Berkat proses
ini, tanaman mampu berkembang biak. Dalam beberapa hal, hewan-hewan melakukan
tindakan yang bermanfaat bagi hewan lain. Ikan pembersih, misalnya,
membersihkan hewan-hewan yang sangat kecil dari kulit ikan besar sehingga
menyebabkan hidup mereka menjadi sehat. Inilah bentuk lain kecocokan.
- Makhluk hidup cocok dengan unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan
alam
Tidak ada makhluk hidup,
selain manusia, yang mengganggu keseimbangan alam. Bahkan, mereka tercipta
dengan sifat-sifat yang mempertahankan keseimbangan itu. Namun, keseimbangan
bumi selalu terancam oleh tindakan bodoh manusia. Misalnya, jika manusia
menyakiti seekor hewan tanpa kenal ampun, hewan itu akan punah. Punahnya hewan
itu menyebabkan jumlah mangsanya meningkat terlalu banyak, yang kelak akan
membahayakan hidup manusia dan alam itu sendiri. Jadi, ada suatu keseimbangan
alami dalam penciptaan makhluk hidup. Mereka sepenuhnya cocok dengan
keseimbangan alam, tetapi kecuali untuk manusia, mereka bisa menyebabkan
kehancuran keseimbangan yang sudah tepat itu.
- Makhluk hidup cocok dengan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia
Misalnya, pikirkanlah
tentang banyaknya manfaat madu untukmu. Bagaimana kumbang-kumbang mengetahui
bahwa kalian memerlukan jenis makanan seperti itu, dan bagaimana mereka
menghasilkannya? Bisakah seekor ayam, sapi, atau biri-biri mengetahui kebutuhan
makanan manusia dan menghasilkan zat gizi untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
Tentu tidak.
Keselarasan yang
menakjubkan antarmakhluk hidup ini merupakan bukti nyata bahwa satu Pencipta
telah menciptakan mereka. Ini berkat penciptaaan sempurna oleh Allah, sehingga
keseimbangan tercipta di bumi.
Penciptaan Alam Semesta
Sejauh ini kita telah menjelaskan penciptaaan makhluk
hidup oleh Allah. Sekarang, waktunya kita meneliti alam semesta secara umum.
Allah juga telah menciptakan alam semesta tempat kalian, bumi, matahari, tata
surya, planet, bintang, galaksi, dan segalanya berada.
Sekalipun demikian,
seperti halnya orang-orang yang menentang kenyataan penciptaan makhluk hidup,
ada pula orang yang mengingkari kenyataan bahwa alam semesta itu telah
diciptakan. Orang-orang seperti ini beranggapan bahwa alam semesta terjadi
dengan tiba-tiba. Bahkan, mereka menganggap bahwa alam selalu ada. Namun,
mereka tidak pernah menjelaskan pernyataan yang tidak masuk akal ini.
Pernyataan mereka mirip dengan contoh berikut: Bayangkanlah bahwa kalian suatu
hari berlayar sendirian dan tiba di pinggir pantai suatu pulau. Apa yang kalian
pikirkan jika kalian tiba di suatu kota yang sangat maju dengan gedung-gedung
pencakar langit, yang dikelilingi oleh taman-taman yang indah dan pepohonan?
Kota-kota ini juga penuh dengan bioskop, restoran, dan rel kereta api. Kalian
pastilah berpikir bahwa kota ini telah direncanakan dan dibangun oleh
orang-orang yang cerdas, bukan? Apa yang kalian pikirkan jika seseorang
berkata, “Tidak ada seorang pun yang membangun kota ini. Kota ini sudah ada
begitu saja, selalu begitu, dan suatu ketika di masa lalu kami datang lalu
menempatinya. Di sini, kami memperoleh semua yang kami perlukan, dan semuanya
sudah ada begitu saja?”
Kalian mungkin akan
berpikir dia itu gila, atau kalian juga akan berpikir bahwa ia tidak tahu apa
yang dipikirkannya. Tetapi jangan pernah lupa bahwa alam semesta yang kita
tempati ini justru jauh lebih luas dibandingkan kota itu. Alam semesta ini
meliputi planet-planet, bintang, komet, dan bulan yang tak terhitung jumlahnya
dan berbagai ragam bentuknya. Oleh sebab itu, pernyataan seseorang yang
mengatakan bahwa alam semesta yang sempurna ini tidaklah diciptakan, melainkan
telah ada dari dulu pastilah tidak berdasar. Bukankah demikian?
Setelah membaca bagian di
bawah ini, kalian sendiri pun akan mampu memberikan jawaban terbaik. Sekarang,
mari kita lanjutkan pembahasan tentang alam semesta. Simpanlah jawaban kalian
untuk nanti.
- Segalanya Mulai Terbentuk dalam Suatu Ledakan Besar
Di masa ketika manusia tidak punya teropong bintang
untuk mengamati langit, mereka hanya punya pengetahuan yang sangat sedikit, dan
sangat tidak bisa dipercaya tentang alam semesta yang luas, dan mereka hanya
sedikit mengetahuinya. Dengan kemajuan teknologi, manusia pun mempunyai
informasi yang akurat tentang ruang angkasa. Pada pertengahan abad kedua belas,
mereka menemukan sesuatu yang sangat penting. Alam semesta mempunyai tanggal
lahir, yang artinya alam semesta tidak selalu ada dari dulu. Alam semesta,
dengan kata lain bintang-bintang, planet-planet, dan galaksi-galaksi, mulai
terbentuk pada tanggal tertentu. Para ilmuwan menghitung umur alam semesta
adalah sekitar 15 miliar tahun.
Mereka menamakan saat alam semesta terlahir dengan ”Big
Bang”, atau ledakan besar, karena 15 miliar tahun yang lalu, ketika tidak satu
pun ada, segala hal tiba-tiba muncul dengan setelah ada ledakan di satu titik.
Singkatnya, zat dan alam semesta, yang dianggap manusia sudah ada dari dulu,
ternyata mempunyai awal. Di sini, pertanyaan pun muncul, ”Bagaimana mereka
memahami adanya awal tersebut?” Sangat mudah. Zat yang menyebar dan menjauh
dari benda-benda pecahan dari ledakan besar itu masih terus bergerak menjauh.
Coba pikirkan sebentar! Alam semesta terus bertambah luas, bahkan pada saat
ini. Bayangkanlah alam semesta seperti sebuah balon. Jika kita menggambar dua
titik kecil pada balon ini, apa yang terjadi ketika balon itu kalian tiup?
Titik-titik pada balon itu akan menjauh satu sama lain ketika balon itu
membesar dan volumenya meningkat. Seperti pada balon ini, volume alam semesta
pun juga meningkat, dan segala hal di dalamnya menjauh satu sama lain. Dengan
kata lain, jarak antara bintang, galaksi, bintang, dan meteor terus meningkat.
Bayangkan bahwa kalian tengah melihat meluasnya alam
semesta dalam film kartun. Bagaimana jadinya alam semesta jika kita memutar
film itu dari awalnya? Tentu alam semesta itu akan kembali ke satu titik,
bukan? Begitulah yang dilakukan para ilmuwan tadi. Mereka kembali ke awal
Ledakan Besar tersebut dan mengetahui bahwa alam semesata yang terus meluas ini
mula-mulanya adalah satu titik tunggal.
Ledakan ini, yang disebut Big Bang, menjadi titik awal
keberadaan yang telah ditentukan Allah untuk ”alam semesta”. Dengan ledakan
ini, Allah telah menciptakan benda-benda (partikel) yang membentuk alam
semesta, sehingga segala hal pun muncul. Partikel ini menyebar dengan kecepatan
tinggi. Selama kejadian ledakan itu, keadaannya hampir seperti campuran
benda-benda yang terbuat dari partikel-partikel berbeda. Namun saat kekacauan
besar ini mulai berubah menjadi bentuk yang teratur, Allah menciptakan
atom-atom dari partikel-partikel itu, dan akhirnya bintang-bintang pun tercipta
dari atom-atom. Allah telah menciptakan seluruh alam semesta dan segala hal di
dalamnya.
Mari kita ambil contoh untuk memperjelas semua ini:
Pikirkanlah suatu ruangan
yang sangat besar. Bisa dikatakan tidak terbatas. Hanya ada satu mangkuk yang
penuh dengan cat di dalamnya. Selain itu tidak ada. Dalam mangkuk itu, segala
jenis cat bercampur, membentuk warna-warna yang aneh. Bayangkanlah bahwa suatu
bom meledakkan mangkuk ini, sehingga cat-cat di dalamnya menyembur ke segala
tempat dalam bentuk titik-titik yang sangat kecil. Bayangkanlah bahwa jutaan
titik-titik cat ini memuncrat ke segala tempat dalam ruangan ini. Sementara
itu, selama penyemburan titik-titik kecil ini, suatu keanehan mulai terjadi.
Bukan membentuk tumpahan yang berceceran untuk kemudian hilang, titik-titik itu
justru mulai saling berbaur seolah makhluk yang cerdas. Tumpahan yang awalnya
membentuk campuran warna mulai mengatur dirinya menjadi warna-warna tersendiri.
Biru, kuning, merah, dan seluruh tetesan dari kelompok warna yang sama
berkumpul bersama dan mulai bergerak menjauh. Tetapi, hal yang lebih aneh lagi
juga terjadi: Lima ratus tetesan biru bergabung bersama dan, dalam bentuk
tetesan yang lebih besar, meneruskan perjalanannya. Sementara itu, tiga ratus
tetesan merah di satu sudut dan dua ratus tetesan kuning di sudut lainnya
bergabung dan terus tersebar bersama. Kelompok-kelompok warna terpisah ini
bergerak menjauh satu sama lain dan membentuk gambar yang indah, seolah berbuat
menurut perintah seseorang.
Beberapa tetesan bergabung dan membentuk gambar bintang,
yang lain menjadi gambar matahari, dan lainnya membentuk planet di sekitar
matahari. Kelompok tetesan lain membentuk gambar bumi, sedang lainnya membentuk
bulan. Jika kalian pernah melihat gambar seperti itu, apakah kalian akan
berpikir bahwa ledakan semangkuk cat tadi secara tak sengaja membentuk gambar
ini? Tentu tidak ada yang akan berpikir itu masuk akal.
Seperti yang diperlihatkan
oleh cerita tentang tetesan cat ini, benda-benda muncul bersama dan membentuk
gambar sempurna yang kita lihat ketika memandang langit, atau dengan kata lain
bintang-bintang, matahari, dan planet-planet. Tetapi bisakah semua ini terjadi
dengan sendirinya?
Bagaimana mungkin bintang-bintang di langit, planet,
matahari, bulan, dan bumi terjadi karena atom-atom yang bergabung bersama
secara kebetulan setelah ledakan? Bagaimana dengan ibu, ayah, teman-teman
kalian, atau burung-burung, kucing, pisang, atau stroberi...? Tentu saja, semua
ini sangat mustahil terjadi. Pendapat seperti itu adalah omong kosong, sama
bohongnya dengan pernyataan bahwa sebuah rumah tidaklah dibuat oleh
tukang-tukangnya, melainkan terjadi karena kehendak sendiri ubin dan batu bata,
dan sepenuhnya secara kebetulan. Kita semua tahu bahwa batu bata yang
berhamburan karena ledakan bom tidak akan bisa membentuk sebuah gubuk kecil.
Semua itu akan menjadi batu dan tanah, dan suatu ketika kembali bercampur
dengan bumi.
Tetapi ada suatu hal yang
memerlukan perhatian khusus. Seperti yang kalian ketahui, tetesan cat adalah
benda yang tidak punya akal dan tak bernyawa. Tentu mustahil bahwa tetesan cat
bisa dengan tiba-tiba muncul dan membentuk gambar. Di sini, tentu saja kita
berbicara tentang pembentukan makhluk hidup yang berakal. Tentu sangat mustahil
jika makhluk hidup seperti manusia, tanaman, dan hewan bisa terjadi dari benda
tak hidup sepenuhnya secara tak sengaja.
Untuk memahami hal ini dengan lebih baik, kita harus
merenungkan tubuh kita sendiri: Tubuh kita terdiri atas molekul-molekul (yaitu,
gabungan atom-atom) yang sangat kecil dan tak terlihat oleh mata, seperti
protein, lemak, dan air… Semua ini membentuk sel-sel, dan sel-sel membentuk tubuh
kita. Keteraturan sempurna dalam tubuh kita merupakan hasil dari suatu
rancangan khusus. Allah telah menciptakan mata kita yang melihat, tangan yang
memegang buku ini, dan kaki kita agar kita bisa berjalan. Allah telah
menentukan sebelumnya bagaimana kita akan tumbuh dalam rahim ibu, berapa tinggi
badan kita nanti, dan warna mata kita.
Allah-lah Yang Menciptakan Segalanya
Jika kalian masih ingat,
di awal buku ini kita mencari jawaban yang tepat untuk orang-orang yang tidak
beriman. Sekarang kita mempunyai jawabannya. Keteraturan yang terjadi setelah
ledakan alam semesta itu bahkan jauh lebih sempurna dibandingkan contoh-contoh
yang kita sebutkan (kota besar atau mangkuk cat). Semua ini tidak mungkin
terjadi karena kebetulan.
Sistem yang sempurna ini hanya bisa terjadi dengan
kehendak Allah Yang Maha Perkasa. Allah mampu menciptakan segalanya. Dia hanya
berkata padanya, ”Jadilah!” dan terjadilah sesuatu itu.
Allah telah menciptakan dunia yang indah dalam alam
semesta yang sempurna untuk kita, dan Dia menciptakan hewan-hewan dan tumbuhan
di dalamnya. Dia menciptakan matahari untuk memberikan energi dan menghangatkan
kita. Jarak matahari dari bumi telah diatur dengan tepat sehingga jika lebih
dekat akan sangat panas, tetapi jika lebih jauh kita semua akan membeku.
Ketika para ilmuwan menemukan lebih banyak bukti-bukti
ini, kita pun mengetahui kekuasaan Allah lebih baik. Hal
ini karena benda-benda tidak bisa mengambil keputusan atau pun melaksanakan
keputusan itu. Ini berarti bahwa ada Pencipta yang telah merancang dan
menciptakan alam semesta ini. Materi, yaitu zat dasar bintang-bintang, manusia,
hewan, tanaman, dan segalanya, hidup atau tak hidup, berada di bawah kendali
Allah. Itulah sebabnya segala hal di bumi ini teratur. Karena segalanya
diciptakan oleh Allah, Yang Maha Pencipta dan Pemberi Bentuk.
Allah
Menciptakan Semua Manusia dengan Takdir
Di awal buku ini, kita telah menyebutkan bagaimana Allah
menciptakan Adam AS. Seluruh manusia berasal darinya. Allah telah
menganugerahkan kehidupan bagi manusia di dunia ini untuk menguji mereka, serta
mengutus bagi mereka para rasul untuk menyampaikan tanggung jawab mereka.
Setiap orang diuji di dunia ini dengan kejadian-kejadian
yang mereka alami. Dengan kata lain, kita diuji dengan bagaimana kita
menanggapi kejadian-kejadian yang kita alami, cara kita berbicara, dan
kesabaran kita dalam menghadapi kesukaran: Pendeknya, apakah kita telah
bertindak dengan benar.
Ujian ini akan menentukan nasib kita di akhirat.
Tetapi, ujian di dunia ini mempunyai rahasia yang sangat
penting. Karena kasih dan sayangnya yang besar untuk manusia, Allah menciptakan
takdir. Takdir, yaitu seluruh peristiwa yang dialami seseorang di dunia, telah
ditentukan oleh Allah bahkan sebelum seseorang lahir. Untuk setiap manusia,
Allah menciptakan takdirnya sendiri-sendiri.
Untuk lebih memahami ini, kita bisa menyamakannya dengan
sebuah film yang telah direkam di atas VCD. Baik awal maupun akhir
film ini telah diketahui, tetapi kita hanya bisa mengetahuinya setelah menonton
film itu. Begitu pula halnya dengan takdir. Segala hal yang dilakukan seseorang
di sepanjang hidupnya, seluruh peristiwa yang ia alami, sekolah yang ia masuki,
rumah yang ia diami, dan saat kematiannya semuanya telah ditetapkan.
Seluruh peristiwa yang
terjadi pada seseorang, baik atau buruk, telah ditetapkan dalam pengetahuan
Allah. Setiap orang diuji dalam menjalani ketentuan (atau skenario) yang telah
ditulis khusus untuk mereka ini. Jadi, sesuai dengan skenario, manusia
menjalani serangkaian peristiwa. Keimanannya, tindakannya, juga tanggapannya
atas kejadian ini, menentukan nasibnya di akhirat.
Pengetahuan tentang takdir
adalah sumber kebahagiaan besar manusia. Takdir adalah berkat dari Allah.
Karena itu, manusia tidak perlu menyesali kejadian yang hasilnya telah
ditetapkan sebelumnya atau takut atas kejadian yang tidak baik. Bagi manusia
yang sabar dalam menghadapi ujian ini, sadar bahwa tidak ada yang terjadi tanpa
kehendak Allah, Allah memberi kabar gembira dengan surga. Para rasul Allah
adalah teladan terbaik dalam hal ini. Allah memberikan untuk mereka ganjaran
yang baik, yakni surga, karena iman mereka yang istimewa dan amal mereka yang
benar.
ALLAH
MENGUTUS RASUL DAN MENURUNKAN KITAB SUCI
Dalam bab-bab awal, kita
telah melihat contoh dan bukti yang membantu kita merenungkan dan memahami
kekuasaan dan kebesaran Allah. Mengapa Allah menganugerahi kita dengan
kemampuan berpikir dan mencari sebab sesuatu? Agar kita mengenal-Nya. Allah
juga menurunkan untuk kita kitab suci untuk memperkenalkan diri-Nya. Dia
menyampaikan apa yang dikehendaki-Nya dalam kitab suci itu. Allah menugaskan
dan mengutus orang-orang yang menjadi contoh untuk manusia dengan amal
perbuatan yang terpuji. Melalui para utusan ini, pesan sesungguhnya dan wahyu
dari Allah menjadi petunjuk untuk umat manusia.
Sulit mengetahui dengan
pasti berapa banyak rasul yang diutus oleh Allah, meskipun ada hadits yang
menyebutkan bahwa, misalnya, ada 313 orang rasul, sedangkan nabi jumlahnya
lebih besar lagi sepanjang sejarah. Kita hanya tahu nama-nama nabi yang
disebutkan di dalam Al Qur’an, wahyu terakhir yang diturunkan oleh Allah. Allah
memberikan pengetahuan untuk kita tentang kehidupan para nabi agar kita bisa
memahami amal perbuatan mereka. Melalui para rasul yang diutus-Nya, Allah
menyampaikan kepada kita jalan hidup yang benar dan bagaimana bersikap dengan
baik di dunia ini. Hanya melalui wahyu Allah itulah, kita bisa mengetahui
bagaimana kita bersikap, dan perbuatan apakah yang lebih baik dan lebih sesuai
dengan nilai-nilai Al Qur'an. Hanya melalui wahyunya itulah kita bisa
mengetahui perbuatan yang diridhai oleh Allah dan diganjar dengan pahala tak
terbatas, maupun perbuatan yang menyebabkan hukuman dari-Nya.
Di dalam Al Qur'an, Allah
memberi tahu kita bahwa sepanjang sejarah Dia mengutus rasul-rasulnya kepada
seluruh umat, dan para rasul itu memberi mereka peringatan. Para rasul ini
mengajak umatnya untuk menyembah Allah, untuk berdoa kepada-Nya dan
melaksanakan perintah-Nya. Dia juga menjelaskan kepada mereka bahwa jika tidak
begitu, mereka akan dihukum. Singkatnya, mereka memperingatkan orang-orang tak
beriman bahwa mereka akan diberi balasan. (Surga dan Neraka akan dibahas
dengan lebih terperinci dalam bagian berikut.)
Wahyu-wahyu Allah sebelum
Al Qur'an sudah tidak asli lagi, karena orang-orang bodoh dan orang-orang yang
berperilaku tercela mengubahnya dengan kata-kata mereka sendiri dan bagian
tambahan dari mereka. Oleh sebab itu, kitab aslinya, wahyu sebenarnya yang
mula-mula disampaikan kepada para rasul, sudah tidak ada lagi saat ini. Akan
tetapi, Allah telah menurunkan kepada kita Al Qur'an, kitab yang mustahil bisa
diubah-ubah.
Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang Islam yang hidup
setelahnya menjaga Al Qur'an dengan sangat baik. Al Qur'an begitu jelas
sehingga semua orang bisa memahaminya. Ketika kita membaca Al Qur'an, kita bisa
segera memahami bahwa ini adalah perkataan Allah. Al Qur'an, yang sepenuhnya
tetap terjaga keasliannya, berada dalam perlindungan Allah dan merupakan
satu-satunya kitab wahyu yang akan dipertanggungjawabkan oleh manusia pada Hari
Pembalasan.
Saat ini, seluruh umat
Islam, di mana pun mereka berada, membaca Al Qur'an yang sama. Tidak ada satu
perbedaan pun yang ditemui dalam satu kata atau hurufnya sekalipun. Al Qur'an
yang diwahyukan pada Rasulullah SAW, dan dibukukan oleh Kalifah Abu Bakar RA
dan kemudian dituliskan oleh Kalifah Usman RA yang hidup 1.400 tahun yang lalu,
dan Al Qur'an yang kita baca sekarang adalah sama. Ada hubungan erat antara
semuanya itu. Artinya, mulai semenjak Al Qur'an diwahyukan pada Nabi Muhammad
SAW, Al Qur'an tetap terjaga seluruhnya. Ini karena Allah melindungi Al Qur'an
dari orang-orang jahat yang berniat mengubahnya atau menambahkan bagian-bagian
tertentu ke dalamnya. Dalam satu ayat, Allah memberi tahu kita bahwa Allah
secara langsung menjaga Al Qur'an.
“Sesungguhnya kami-lah yang menurunkan Al
Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS Al-Hijr: 9)
Kata ”Kami” dalam ayat ini berarti Allah sendiri. Tidak
ada Tuhan selain Allah, dan Allah tidak punya sekutu. Dialah Allah Yang Maha
Perkasa, Pencipta segalanya dan Zat Yang meliputi segala sesuatu dalam
pengetahuan-Nya.
Dalam beberapa bagian Al Qur'an, Allah menyebut diri-Nya
dengan kata ”Aku”, dan dalam beberapa bagian lain dengan kata ”Kami”. Dalam
bahasa Arab, yaitu bahasa Al Qur'an, kata ”Kami” juga digunakan untuk
menyebutkan satu orang dengan tujuan menambahkan kesan berkuasa dan rasa hormat
pendengarnya. Dalam Bahasa Indonesia, kita pun kadang-kadang menyebutkan ”kami”
meskipun yang kita maksud adalah ”saya” untuk lebih terkesan sopan. Dalam
bagian-bagian berikut dalam buku ini, kalian akan melihat contoh ayat-ayat
(dari Al Qur'an) dan surat (bab-bab Al Qur'an). Semuanya adalah kata-kata yang
paling benar karena merupakan kata-kata Allah, Yang mengetahui diri kita lebih
baik, bahkan dibandingkan diri kita sendiri.
Dalam Al Qur'an, Allah
menginginkan agar kita belajar dari kehidupan para nabi. Salah satu ayat itu
berbunyi:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal….(QS Yusuf:111)
Orang yang dimaksud Allah
dalam ayat ini adalah orang yang mengetahui bahwa Al Qur'an adalah perkataan
Allah, sehingga mereka berpikir, menggunakan akalnya, dan berusaha keras untuk
mempelajari Al Qur'an dan hidup menurut petunjuknya.
Jika Allah mengutus rasul
kepada suatu umat, maka umat itu bertanggung jawab untuk melaksanakan
perintah-Nya. Setelah menerima wahyu Allah, umat tersebut tidak bisa lagi
memberi alasan pada Hari Pembalasan. Ini karena para rasul Allah telah
menyampaikan kepada umat mereka pengetahuan tentang adanya Allah dan apa yang
dikehendaki oleh Allah dari mereka. Jika seseorang telah mendengarkan petunjuk
ini, dia pun bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Hal ini disebutkan di
dalam Al Qur'an sebagai berikut:
(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan supaya tidak ada lagi alasan bagi manusia
sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah adalah
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS An-Nisaa’:165)
Allah telah menciptakan banyak
bangsa di dunia ini. Beberapa di antara bangsa-bangsa, atau umat ini, menolak
apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka dan bahkan mengingkari bahwa
mereka itu adalah para rasul. Karena umatnya tidak mendengarkan perkataan para
rasul itu, dan tidak menjalankan perintah Allah, mereka pun dihukum. Melalui
rasul-Nya, Allah juga memperingatkan orang-orang yang membangkang dengan
kehidupan yang sulit di dunia. Meskipun demikian, mereka terus saja menentang
para rasul dan memfitnah para rasul itu. Bahkan, mereka begitu kejam, dan
pernah pula membunuh para rasul itu. Oleh sebab ini, Allah memberi mereka
hukuman yang layak mereka terima, dan di waktu berikutnya, umat yang baru
menggantikan mereka. Dalam Al Qur'an, keadaan umat seperti ini diceritakan sebagai
berikut:
Apakah mereka
tidak memperhatikan betapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami
binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah kami kuatkan kedudukan
mereka di muka bumi? Kami
curahkan hujan yang lebat atas mereka dan kami jadikan sungai-sungai mengalir
dibawah mereka. Kemudian kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri dan
kami ciptakan setelah mereka generasi yang lain. (QS
Al-An’am:6)
Dalam bab-bab berikutnya, kita akan membahas
contoh-contoh teladan dari para rasul yang berjuang melawan umat yang
membangkang.
Manusia
dan Nabi Pertama: Adam
Tentu kalian masih ingat,
sewaktu kita berbicara tentang penciptaan manusia, kita menyebutkan bahwa
manusia pertama di bumi adalah Adam AS. Adam adalah juga nabi pertama.
Maksudnya, Allah mengutus seorang rasul kepada umat yang paling pertama yang
Dia ciptakan di bumi, mengajari mereka dengan din (agama) dan bagaimana
menjadi hamba-hamba Allah.
Allah mengajarkan kepada Adam cara berbicara dan
nama-nama segala sesuatu. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Dia mengajari Adam seluruh nama-nama (benda-benda). (QS Al-Baqarah:31)
Tentu, ini sangat penting. Di antara semua makhluk
hidup, hanya manusia yang punya kemampuan berbicara. Berbicara adalah sifat
yang khas pada manusia. Berkat kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada Adam
ini, manusia pun bisa mengetahui benda-benda di sekitarnya dan menamai
benda-benda itu.
Generasi-generasi setelah Adam juga bisa berbicara,
punya perasaan, merasa sedih atau gembira, mengenakan pakaian, menggunakan
alat-alat dan perkakas serta punya bakat musik dan seni. Alat-alat musik
seperti seruling, lukisan dinding, dan benda-bensa lainnya yang ditemukan oleh
para ilmuwan di sisa-sisa peninggalan manusia purba membuktikan bahwa mereka
pun manusia seperti kita. Dengan kata lain, bertolak belakang dengan pernyataan
beberapa orang yang menyebutkan bahwa manusia pertama adalah makhluk liar,
yaitu manusia setengah kera.
Kalian tentu tahu bahwa
kera atau pun hewan lainnya tidak bisa berbicara, berpikir, dan berbuat seperti
manusia. Allah memberikan seluruh kemampuan ini hanya untuk manusia. (Untuk
informasi lebih lanjut tentang hal ini kalian bisa membaca buku Keajaiban Penciptaan
Allah karya Harun Yahya.)
Namun ada orang yang tidak
mau menerima kenyataan bahwa manusia pertama adalah Adam dan menyatakan
pendapat mereka sendiri: Mereka keliru membayangkan manusia pertama. Menurut
khayalan mereka, manusia dan kera berasal dari makhluk yang sama, artinya,
nenek moyang mereka sama, dan kemudian berkembang sehingga menjadi bentuk
seperti sekarang ini. Jika kalian bertanya bagaimana hal yang aneh ini terjadi,
mereka hanya memberikan jawaban sederhana: “Semuanya terjadi secara kebetulan.”
Ketika kalian bertanya apakah ada bukti untuk pernyataan tersebut, mereka tidak
bisa memberikannya. Kesimpulannya, tidak ada satu pun sisa-sisa peninggalan
masa lalu yang membuktikan bahwa manusia berasal (atau berevolusi) dari makhluk
lain.
Mungkin kalian
bertanya-tanya, “Apakah sisa-sisa peninggalan masa lalu itu?” Jawaban
singkatnya adalah: Bekas-bekas makhluk hidup yang telah mati. Bekas-bekas (yang
kita sebut sebagai fosil) itu tetap ada selama jutaan tahun dan tak berubah.
Akan tetapi, agar bisa terjadi, makhluk hidup tersebut haruslah berada dalam
lingkungan tanpa oksigen. Misalnya, jika seekor burung di tanah tiba-tiba
terperangkap dalam timbunan pasir jutaan tahun yang lalu, sisa-sisa tubuh
burung itu akan tetap ada saat ini. Fosil juga bisa terjadi karena zat yang
berasal dari pohon, yang disebut resin. Kadang-kadang zat seperti madu ini
memerangkap seekor serangga sehingga menjadi benda keras yang disebut amber,
yang mengawetkan serangga mati itu hingga jutaan tahun. Inilah cara kita mendapatkan
informasi tentang makhluk hidup dari zaman purba. Bekas-bekas inilah yang
disebut “fosil” itu.
Orang yang berpendapat
bahwa manusia pertama terjadi dari makhluk seperti kera tidak bisa menunjukkan
fosil apa pun yang membuktikan pendapat tersebut. Dengan kata lain, tak seorang
pun pernah menemukan sebuah fosil makhluk hidup yang aneh itu, yaitu manusia
setengah kera. Tetapi orang-orang ini membuat sendiri fosil-fosil palsu,
gambar-gambar, dan foto yang bisa menutupi kepalsuan ini, dan bahkan mencantumkannya
dalam buku-buku pelajaran sekolah.
Semua penipuan ini lambat-laun terungkap satu demi satu
dan disampaikan kepada kita sebagai kebohongan ilmiah. Karena orang-orang
seperti ini tidak punya kearifan dan keras kepala, hampir mustahil mereka mau
mengakui adanya Allah dan mengakui bahwa Dia-lah yang menciptakan segalanya.
Meskipun jumlah orang seperti itu terus berkurang, masih ada yang berusaha
keras mengajarkan pendapat yang keliru ini melalui majalah, buku, koran, dan
juga di sekolah. Agar orang percaya pada pandangan keliru ini, mereka berpegang
pada pendapat mereka dan menyebutkan bahwa mereka punya data-data ilmiah.
Padahal, segala penelitian yang dilakukan dan bukti yang diberikan oleh para
ilmuwan cerdas membuktikan bahwa kera tidaklah berevolusi menjadi manusia.
Adam, manusia pertama yang diciptakan khusus oleh Allah,
dalam segala hal sama dengan manusia saat ini. Dia tidak punya perbedaan.
Inilah kenyataan yang disampaikan oleh Allah kepada kita di dalam Al Qur'an.
Masih ada hal lain yang sangat penting yang disampaikan oleh Allah tentang
Adam: Kisah tentang Adam dan setan, musuh umat manusia.
Musuh Terbesar Manusia: Setan
Kalian mungkin telah mengenal setan, tetapi apakah
kalian tahu bahwa setan itu juga mengenal kalian dengan sangat baik dan menggunakan
segala cara untuk menggoda kalian? Apakah kalian tahu bahwa tujuan setan yang
sebenarnya (setan berpura-pura menjadi teman kalian) adalah untuk menipu
kalian? Mari kita mulai dari awal dan ingatlah mengapa setan adalah musuh kita.
Untuk ini, kita akan mulai dengan kisah tentang Adam dan setan di dalam Al
Qur'an.
Dalam Al Qur'an, hingga
Hari Pembalasan nanti, setan adalah nama umum untuk seluruh makhluk yang
berusaha keras menyesatkan manusia. Iblis adalah setan pertama yang membangkang
kepada Allah ketika Dia menciptakan Adam.
Menurut kisah Al Qur'an,
Allah menciptakan Adam dan kemudian memanggil para malaikat untuk bersujud
kepadanya. Malaikat patuh pada perintah Allah, tetapi Iblis menolak sujud
kepada Adam. Dia dengan sombong berkata bahwa dia lebih mulia daripada manusia.
Karena ketidakpatuhan dan pembangkangannya, dia diusir oleh Allah dari
sisi-Nya.
Sebelum pergi dari hadapan
Allah, Iblis meminta waktu kepada Allah untuk menyesatkan manusia. Tujuan Iblis
adalah menggoda manusia sehingga bisa menjauhkan mereka dari jalan yang benar
selama waktu yang diberikan untuknya. Iblis akan melakukan segalanya untuk
membuat sebagian besar manusia patuh kepada dirinya. Allah menyatakan bahwa Dia
akan memasukkan setan dan pengikutnya ke dalam neraka. Hal ini dikisahkan dalam
Al Qur'an sebagai berikut:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian
(Adam). Lalu kami bentuk tubuhmu , kemudian kami berkata kepada malaikat,
”Bersujudlah kalian kepada Adam,” maka mereka pun bersujud, kecuali Iblis. Dia
tidak termasuk yang bersujud.
Allah berfirman, ”Apakah yang menghalangi
kamu bersujud (kepada Adam) saat aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, ”Aku lebih
baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari
tanah.”
Allah berfirman, ”Turunlah kamu dari surga
itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka
keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang yang hina”.
Iblis menjawab, ”Beri tangguhlah aku sampai
waktu mereka dibangkitkan.”
Allah berfirman, ”Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh.”
Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku
benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus.”
Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari
kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan melihat kebanyakan mereka
bersyukur (taat).
Allah berfirman, ”Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi
terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar
akan Kuisi neraka jahanam dengan kalian semuanya.” (QS Al-A’raaf:11-18)
Setelah diusir dari sisi Allah, setan pun mulai berjuang
terus hingga Hari Pembalasan. Karena itulah, dia memperdaya manusia, berusaha
menyesatkan mereka, dan menggunakan cara-cara yang jitu untuk mendapatkan tujuannya.
Seperti telah kalian pahami sekarang, setan adalah musuh yang bisa mendekati
manusia dengan sangat licik. Karena itu, kalian harus selalu waspada untuk
menghindarinya.
Jangan pernah lupa bahwa setan itu berdusta dalam
perangkapnya saat ini untuk melawan kalian. Dia berusaha menghentikan kalian
membaca buku ini dan memikirkan apa yang sedang kalian baca. Dia mencoba
menghalangi kalian dari melakukan perbuatan baik, dan menjadikan kalian tidak
patuh dan hormat kepada orang tua kalian, dan menghalangi kalian dari bersyukur
kepada Allah, sholat dan selalu mengatakan kebenaran. Jangan pernah kalian
biarkan setan menipumu dan menghalangi kalian untuk menjadi orang yang bersifat
terpuji dan mendengarkan suara hati nurani kalian.
Kalian harus berlindung kepada
Allah dan meminta pertolongan-Nya ketika bisikan setan menimpa kalian atau
ketika kalian merasa tidak mampu melakukan amal saleh, karena semua ini
merupakan tipu muslihat setan. Jangan pernah lupa bahwa setan tidak berdaya
melawan orang-orang beriman.
Nabi Nuh AS
Nuh AS, seperti halnya
semua nabi lainnya, mengajak umatnya ke jalan yang benar. Dia mengatakan kepada
mereka bahwa mereka harus beriman kepada Allah, bahwa Dia-lah Pencipta segala
sesuatu, bahwa mereka tidak boleh menyembah selain Allah, atau mereka akan
dihukum. Kisah ini difirmankan di dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Dan sessungguhnya Kami telah mengutus Nuh
kepada kaumnya, (dia berkata), ”Sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang
nyata bagi kalian, agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya Aku
khawatir kalian akan ditimpa azab pada hari yang sangat menyedihkan.” (QS Hud:
25-26)
Meski Nuh telah memperingatkan, hanya beberapa orang
yang percaya kepada Nuh. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nuh membangun
sebuah bahtera besar. Allah memberitahu Nuh bahwa orang-orang beriman akan
diselamatkan di dalam bahtera itu.
Dibangunnya bahtera oleh
Nuh, meskipun tidak ada laut di tempat itu, membuat orang-orang yang tidak
beriman kepada Allah merasa heran. Oleh karena itu, mereka menertawakan Nuh.
Orang-orang yang tidak beriman tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada
mereka, sedangkan Allah mengetahuinya. Ketika bahtera tersebut telah dibangun,
hujan lebat pun turun selama berhari-hari dan air pun membanjiri tanah itu, menenggelamkan
segalanya. Bencana besar ini juga telah dibuktikan oleh para ilmuwan. Di Timur
Tengah, banyak bukti terungkap yang menunjukkan bahwa gunung-gunung yang ada
sekarang pernah tertutup oleh air.
Di televisi, kamu mungkin
pernah melihat banyaknya bencana banjir di berbagai tempat di dunia. Dalam
menghadapi bencana seperti itu, orang-orang pada umumnya naik ke atas atap
untuk mencari pertolongan. Dalam keadaan ini, hanya helikopter atau bahteralah
yang bisa menyelamatkan mereka. Namun, pada masa Nabi Nuh AS, hanya Allah yang
mampu menyelamatkan mereka. Bencana ini, yang disebut dengan “Banjir Nuh”,
sebenarnya merupakan siksa yang khusus ditimpakan oleh Allah untuk menghukum
orang-orang yang tidak beriman kepada Nuh. Karena mereka mengharapkan pertolongan
dari selain Allah, tidak seorang pun dari orang-orang ingkar itu yang naik ke
atas Bahtera Nuh. Mereka memang selalu menutup telinganya dari peringatan
Allah. Mereka tidak pernah percaya kepada Allah, mereka hanya percaya kepada
makhluk Allah.
Kecuali atas kehendak Allah, tidak ada yang dapat
melindungi kita. Orang-orang yang mengingkari kenyataan ini pada saat itu,
mendaki gunung-gunung atau berlari ke dataran tinggi, namun cara itu masih
tidak bisa menyelamatkan mereka dari tenggelam.
Sangat sedikit orang yang
beriman kepada Allah dan mempercayai-Nya, yang mengantar mereka menaiki bahtera
bersama Nuh dan selamat. Sesuai perintah Allah, mereka membawa sepasang dari
setiap jenis binatang bersama mereka. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur'an
sebagai berikut:
Sebelum mereka telah mendustakan (pula) Kaum Nuh. Maka mereka mendustakan
hamba kami (Nuh) dan mengatakan,”Dia orang yang gila dan dia sudah pernah
diberi ancaman.”
Maka Nuh mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku adalah orang yang
dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku).”
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.
Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.
Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai pelajaran, maka adakah orang
yang mau mengambil pelajaran?
Alangkah dasyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (QS Al-Qamar: 9-16)
All the prophets who were
sent to their individual communities communicated basically the same teaching
and summoned their people to worship Allah and to obey the prophets. In return
for their services, they asked for no wages since those people sent by Allah to
communicate His Words do not do so. They render their services only because
they love Allah and fear Him. Meanwhile, they face many difficulties: Their
people slander them and subject them to cruel treatment. Furthermore, some
peoples plotted to kill the prophets sent to them, and some even dared to do
so. Yet because the prophets feared only Allah and no one else, no hardship
daunted them. They never forgot that Allah would reward them bountifully both
in this world and beyond.
Semua nabi yang diutus
kepada masyarakat tertentu pada dasarnya menyampaikan ajaran yang sama dan
mengajak umat mereka untuk menyembah Allah dan menghormati para nabi. Atas
peringatan yang mereka sampaikan, para nabi itu tidak mengharapkan upah. Semua
nabi yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya tidak pernah melakukan
hal itu. Mereka beribadah karena mereka mencintai Allah dan takut kepada-Nya.
Padahal, mereka menghadapi banyak kesulitan: Umat mereka memfitnah mereka dan
memperlakukan mereka dengan kejam. Bahkan, ada yang berencana membunuh para
nabi yang diutus pada mereka, dan bahkan ada pula yang berani membunuh mereka.
Akan tetapi, karena para nabi hanya takut kepada Allah, dan tidak takut pada
yang lain, tidak ada kekerasan yang membuat mereka gentar. Mereka tidak pernah
lupa bahwa Allah akan memberi mereka pahala yang berlimpah di dunia maupun di
akhirat.
Nabi
Ibrahim AS
Dalam bagian ini, kita akan membahas berbagai sifat nabi
yang Allah firmankan untuk kita perhatikan di dalam Al Qur'an.
Ibrahim AS termasuk salah
seorang nabi. Ketika dia masih muda dan tidak seorang pun di sekitarnya yang
mengingatkan dia akan adanya Allah, dia telah memperhatikan langit. Dengan cara
ini, dia mengetahui bahwa Allah telah menciptakan segalanya. Hal ini
difirmankan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Ketika malam telah menjadi gelap, dia
(Ibrahim) melihat sebuah bintang, (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi
tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, ”Saya tidak suka yang tenggelam.”
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit,
dia pun berkata, ”Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah itu bulan itu terbenam.
Ibrahim bertkata, ”Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah
aku termasuk orang-orang yang sesat.”
Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit
dia pun berkata, ”Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Namun tatkala matahari itu
telah terbenam, Ibrahim berkata, ”Hai kaumku, sesungguhnya aku melepaskan
diriku dari apa yang kalian persekutukan!”
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan
aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS Al-An’aam:
76-79)
Ibrahim AS berkata kepada
umatnya agar tidak menyembah tuhan selain Allah:
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.
Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ”Apakah yang kalian sembah?”
Mereka menjawab, ”Kami menyembah
berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.”
Berkata Ibrahim, ”Apakah berhala-berhala itu mendengar (doamu) sewaktu
kalian berdoa kepadanya?”
”Atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?”
Mereka menjawab, ”Bukan karena itu. Sebenarnya kami melihat nenek moyang kami
berbuat demikian.”
Ibrahim berkata, ”Maka apakah kalian memperhatikan apa yang selalu disembah
(oleh) kalian dan nenek moyang kalian dahulu itu?
Sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan
semesta Alam,
Yaitu Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku,
Dan Tuhanku, Yang memberi makan dan minum kepadaku,
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,
Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),
Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS
Asy-Syu’araa’: 69-82)
Musuh-musuh Ibrahim berusaha membunuhnya ketika Ibrahim
menyeru mereka untuk beriman kepada Allah. Mereka membuat api unggun
yang besar dan melemparkan Ibrahim ke dalamnya. Tetapi Allah melindungi Ibrahim
dan menyelamatkannya dari api. Ini dikisahkan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Maka tidak ada jawaban kaum Ibrahim, selain
mengatakan, ”Bunuhlah atau bakarlah dia.” Lalu Allah menyelamatkannya dari api.
Sesungguhnya pada kejadian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman. (QS Al-‘Ankabuut: 24)
Kami berfirman, “Hai api, dinginlah, dan
selamatkanlah Ibrahim!” (QS Al-Anbiya: 69)
Allah-lah Yang menciptakan
dan mengendalikan segalanya. Dengan kehendak Allah, api tersebut tidak membakar
Nabi Ibrahim. Ini adalah mukjizat dari Allah dan wujud dari kekuasaan-Nya.
Segalanya di bumi ini terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada yang bisa terjadi
tanpa kehendak dan kendali Allah. Jika Dia tidak menghendakinya, tak seorang
pun yang bisa menyakiti atau membunuh orang lain. Allah memberi tahu kita dalam
Al Qur'an:
Sesuat yang bernyawa tidak akan mati, melainkan dengan izin Allah, sebagai
ketetapan yang telah ditentukan waktunya….(QS Al-Imran: 145)
Ibrahim tidak mati,
meskipun dia dilemparkan ke dalam api, karena saat kematiannya telah ditetapkan
oleh Allah, dan belum tiba. Allah menyelamatkan Ibrahim dari api.
Dalam satu ayat, Allah mengisahkan kepada kita bahwa
Ibrahim adalah manusia dengan sifat terpuji:
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penuh
kasih dan selalu kembali kepada Allah. (QS Hud:75)
Allah mencintai manusia yang sepenuh hati menyembah-Nya.
Seperti dijelaskan oleh ayat ini, tidak ingkar, memiliki sifat terpuji, dan tunduk
kepada perintah-perintah Allah adalah sifat-sifat yang disukai menurut
pandangan Allah.
Nabi Musa AS
Musa AS adalah seorang nabi yang sering disebutkan oleh
Allah di dalam Al Qur'an. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Musa. Tetapi,
saat ini Taurat yang dimiliki oleh orang Yahudi dan tercantum dalam Kitab
Perjanjian Lama dalam Alkitab orang-orang Kristen telah tidak asli lagi, karena
perkataan dan ucapan manusia telah dimasukkan pula ke dalamnya. Namun,
orang-orang Yahudi dan Kristen saat ini membaca kitab-kitab yang telah tidak
asli itu karena menganggapnya berasal dari kitab asli yang diturunkan oleh
Allah. Orang-orang Yahudi telah berpaling dari jalan yang benar karena kitab
yang mereka percayai tidak lagi merupakan kitab wahyu yang dibawa oleh Nabi
Musa AS.
Kita mengetahui segalanya tentang kehidupan dan sifat
terpuji Musa dari Al Qur'an. Seperti yang difirmankan dalam Al Qur'an,
raja-raja Mesir kuno dipanggil dengan nama ”Firaun”. Sebagian besar dari
firaun-firaun tersebut adalah orang-orang yang sangat sombong yang tidak
beriman kepada Allah dan menganggap diri mereka tuhan. Allah mengutus Musa
kepada salah satu penguasa terkejam ini.
Salah satu hal penting
yang perlu kita bahas ketika membaca ayat tentang kehidupan Musa ini adalah
“takdir”. Kejadian berikut ini membawa dia ke istana Firaun:
Pada saat Musa lahir,
Firaun memerintahkan para tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki di
daerah itu. Musa AS adalah salah satu bayi yang berada dalam bahaya. Allah
menyuruh ibunya untuk meninggalkan Musa dalam peti di sungai dan meyakinkannya
bahwa Allah akhirnya akan mengembalikan Musa kepadanya sebagai nabi. Sang ibu
menaruh Musa di dalam peti dan menghanyutkannya di sungai. Peti tersebut
terombang-ambing di sungai dan beberapa waktu kemudian tiba di pinggir istana
Firaun, tempat istri Firaun menemukannya. Dia membawa bayi itu dan memutuskan
untuk membesarkannya di istana. Oleh sebab itu, tanpa sadar, Firaun telah
memutuskan untuk mengasuh orang yang kelak akan menyampaikan wahyu Allah
kepadanya dan menentang pendapatnya yang keliru. Allah menunjuki segala sesuatu
dengan pengetahuan-Nya, dan Dia juga tahu bahwa Firaun akan menemukan Musa AS,
dan membesarkannya di dalam istananya.
Ketika Musa lahir, Allah mengetahui bahwa dia akan
dihanyutkan di sungai, bahwa Firaun akan menemukannya dan bahwa Musa akhirnya
akan menjadi nabi. Beginilah Allah menetapkan takdir Musa dan menyampaikan ini
kepada ibu beliau.
Di sini, kita harus memperhatikan kenyataan bahwa segala
seluk-beluk kehidupan kita terjadi menurut takdir Allah yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Ketika telah beranjak dewasa menjadi seorang pemuda,
Musa meninggalkan Mesir. Beberapa waktu kemudian, Allah menjadikannya seorang
nabi dan rasul, dan juga menjadikan Harun AS sebagai pendamping beliau.
Keduanya pergi menemui Firaun dan menyampaikan
pesan-pesan Allah kepadanya. Ini tentu adalah tugas berat karena tanpa
ragu-ragu mereka menyeru seorang penguasa kejam untuk beriman kepada Allah dan
menyembah-Nya. Seruan Musa AS ini dikisahkan sebagai berikut:
Kemudian Kami utus Musa sesudah
rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka
kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat
orang-orang yang membuat kerusakan.
Dan
Musa berkata, ”Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah utusan dari Tuhan
semesta alam. Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali
kebenaran. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti
yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel untuk pergi bersamaku.” (QS al-A'raf:
103-105)
Firaun adalah orang yang
sombong dan angkuh. Karena dia menganggap telah menguasai segalanya, dia ingkar
kepada Allah. Allah telah memberinya segala harta benda, kekuatan, dan
kerajaan, tetapi karena Firaun bodoh, dia tidak mampu memahaminya.
Firaun menentang Musa dan
tidak beriman kepada Allah, dan seperti telah diterangkan sebelumnya, dia
adalah orang yang sangat kejam. Dia memperbudak Bani Israil (yaitu, bangsa nabi
Musa). Ketika telah jelas bahwa Firaun berniat untuk membunuh Musa dan semua
orang beriman, Bani Israil pun meninggalkan Mesir di bawah kepemimpinan Musa.
Musa AS dan Bani Israel terdesak di antara lautan dan tentara Firaun yang
mengejar mereka. Tetapi, bahkan dalam keadaan yang paling sulit seperti itu,
Musa tidak pernah putus asa atau kehilangan kepercayaan kepada Allah. Melalui
mukjizat untuk Musa, Allah membagi lautan itu menjadi dua dan membuat suatu
jalan di lautan agar Bani Israil bisa lewat. Ini merupakan salah satu mukjizat
besar yang dikaruniakan oleh Allah untuk Musa. Begitu Bani Israil mencapai
pinggir pantai, laut pun bertaut kembali, menenggelamkan Firaun dan para
tentaranya.
Allah menceritakan
kejadian ajaib ini dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Keadaan mereka serupa dengan keadaan
Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka
mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan oleh
dosa-dosa mereka, dan kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya.
Semuanya adalah orang-orang yang zalim. (QS Al-Anfaal: 54)
Pada saat Firaun yakin ia akan mati, ia menyatakan bahwa
ia beriman kepada Allah dan mencoba menyelamatkan dirinya. Kita tidak tahu
apakah penyesalan yang ia rasakan di saat akhir ini ada gunanya, karena Allah
hanya mengampuni kita ketika penyesalan kita ikhlas dan ketika dilakukan
sebelum kematian. Allah adalah Maha Penyayang. Jika penyesalan kita baru
datang pada saat kematian, tentu saja itu tidak ikhlas, dan penyesalan seperti
itu tidak akan menyelamatkan seseorang. Mungkin inilah yang terjadi pada
Firaun. Namun hanya Allah-lah yang tahu. Seperti yang disebutkan dalam kisah
ini, kita harus hidup demi ridha Allah sepanjang hidup kita dan menghindari
kekeliruan seperti yang telah diperbuat oleh Firaun. Jika kita tidak mampu
melakukannya, penyesalan pada saat kematian mungkin tidak akan berguna.
Nabi Yunus AS
Sesulit dan sesukar apa
pun keadaannya, kita harus selalu percaya kepada Allah dan memohon
pertolongan-Nya. Seperti telah kita bahas pada bagian sebelumnya, Musa AS tidak
pernah putus asa ketika terdesak di antara tentara Firaun dan Laut Merah. Dia
tetap percaya kepada Allah. Yunus AS juga menjadi teladan untuk sifat terpuji
seperti itu.
Meskipun dia telah diutus
oleh Allah untuk memperingatkan umatnya, Yunus AS meninggalkan umatnya tanpa
memperingatkan mereka. Oleh karena itu, Allah mengujinya dengan beberapa cara:
pertama, dia dilemparkan ke laut dari kapal yang dinaikinya. Kemudian seekor
ikan raksasa menelannya. Akibatnya dia merasa sangat menyesal karena
perbuatannya. Dia meminta ampun kepada Allah, memohon perlindungan dari-Nya dan
berdoa kepada-Nya. Hal ini difirmankan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Dan
ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia
menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka ia berseru dalam keadaaan
yang sangat gelap, ”Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.”
Maka Kami telah memperkenankan
doanya dan menyelamatkanya dari kedukaan. Dan begitulah Kami menyelamatkan orang-orang
yang beriman. (QS Al-Anbiya: 87-88)
Dalam Al Qur'an, Allah memfirmankan apa yang akan
terjadi kepada Yunus jika dia tidak percaya dan berdoa kepada Allah.
Maka
seandainya dia tidak termasuk orang yang banyak mengingat Allah, Niscaya ia
akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami
lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus
dia kepada seratus ribu orang atau lebih. (QS Ash-Shaffat:143-147)
Allah telah menyelamatkan Yunus dari keadaan yang sangat
menyedihkan. Hal ini adalah bukti nyata bahwa kita tidak pernah boleh putus asa
dari pertolongan Allah. Pengalaman Yunus AS merupakan pelajaran untuk semua
orang beriman: Kita tidak boleh lengah, dalam situasi sekeras apa pun yang kita
hadapi, dan kita harus selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah.
Nabi Yusuf AS
Di dalam Al Qur'an, kita menemukan kisah terperinci
tentang pengalaman Yusuf AS. Di sini, kita akan membahasnya secara singkat dan
menyimak sifat terpuji Yusuf.
Yusuf adalah salah seorang
putera Ya’kub AS. Ketika dia masih kanak-kanak, saudara-saudaranya
melemparkannya ke dalam sumur karena iri kepada Yusuf, dan mereka berkata
kepada ayahnya bahwa seekor serigala telah memakan Yusuf. Para musafir
menemukan Yusuf dalam sumur dan menjualnya ke istana bangsawan di Mesir. Di
Mesir, Yusuf difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara dan tetap berada di
dalamnya hingga bertahun-tahun.
Akhirnya Yusuf terbukti tidak bersalah dan dibebaskan.
Karena Yusuf sangat bijaksana dan dapat dipercaya, dan karena sangat teliti,
penguasa Mesir mempercayakan harta benda dan gudang pangan di bawah pengawasan
Yusuf. Akhirnya, Yusuf memaafkan saudara-saudaranya yang telah berbuat kejam
kepadanya dan membawa mereka semuanya beserta ayah dan ibunya untuk tinggal
bersamanya.
Yusuf AS memiliki sifat
yang terpuji. Allah menguji Yusuf dengan berbagai cara, menyelamatkannya dari
sumur, padahal mustahil baginya untuk keluar. Allah menyelamatkannya dari
keadaan yang buruk dengan memasukkannya ke dalam penjara dan kemudian
menyelamatkannya dari penjara dan mengembalikan nama baik Yusuf. Akhirnya,
Allah menganugerahkan kepadanya derajat yang tinggi. Dalam segala keadaan, Yusuf
AS kembali kepada Allah dan berdoa kepada-Nya. Meskipun dia tidak bersalah,
Yusuf tetap tinggal dalam penjara hingga beberapa tahun, namun ia tidak pernah
lupa bahwa ini merupakan cobaan dari Allah. Di dalam penjara, ia selalu
menyebut-nyebut kekuasaan dan keagungan Allah kepada orang-orang di sekitarnya.
Ketaatan dan keimanannya kepada Allah dalam keadaan sulit seperti itu
menunjukkan sifatnya yang terpuji.
Nabi Ayub AS
Sabar menghadapi apa pun yang terjadi merupakan sifat
terpuji yang khas pada umat Islam. Ayub AS diuji dengan hilangnya keluarga dan
kekayaannya, dan mengalami penyakit parah yang menyebabkannya sangat menderita.
Ayub hanya memohon pertolongan dari Allah dan percaya kepada-Nya. Allah
menjawab doanya dan mengajarkan kepadanya bagaimana agar sembuh. Sifat terpuji
Ayub AS dan doa-doanya difirmankan di dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Dan
ingatlah hamba Kami Ayub ketika menyeru Tuhannya, ”Sesungguhnya aku diganggu
setan dengan kepayahan dan siksaan.”
Allah berfirman, ”Hantamkanlah
kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.”
... Sesungguhnya kami melihat Ayub
adalah hamba Kami yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat
taat kepada Tuhannya. (QS Shaad: 41-44)
Begitu kita mengalami
penyakit, kekerasan, atau kesulitan, kita sering putus asa. Bahkan ada orang
yang menjadi ingkar kepada Allah. Padahal, sikap-sikap ini tidak diridhai oleh
Allah. Seperti yang ditunjukkan oleh contoh tentang Ayub ini, Allah mungkin
akan menimpakan kesukaran kepada hamba-hamba-Nya, tetapi penderitaan demi
penderitaan akan mendewasakan orang-orang beriman dan menguji pengabdian mereka
kepada Allah.
Dalam menghadapi penderitaan yang kita alami, kita harus
berdoa kepada Allah dan mempercayai-Nya. Kita harus sabar seperti Ayub AS dan
kembali kepada Allah. Hanya dengan begitulah, Allah akan melonggarkan kesulitan
kita dan memberi kita pahala di dunia dan di akhirat nanti.
Nabi Isa AS
Allah telah menciptakan
Isa AS dengan cara yang unik. Seperti halnya Nabi Adam, Allah telah menciptakan
Isa tanpa seorang ayah. Ini difirmankan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Sesungguhnya
penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan
Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang
manusia), maka jadilah dia. (QS Ali-Imran: 59)
Dalam Al Qur'an, Isa AS disebut sebagai ”Putera Maryam”.
Maryam adalah seorang perempuan terhormat yang dijadikan oleh Allah sebagai
teladan bagi semua perempuan. Dia adalah perempuan suci dan hamba yang tunduk
kepada Allah. Allah mengaruniakan Isa untuknya melalui malaikat Jibril, secara
ajaib tanpa ayah, dan memberi kabar gembira kepadanya bahwa puteranya akan
menjadi seorang nabi.
Allah menjadikan Isa seorang nabi dan menurunkan
untuknya kitab Injil, salah satu kitab wahyu dari Allah untuk umat manusia.
(Setelah Isa tidak ada, Injil juga telah diubah-ubah oleh manusia. Saat ini,
kita tidak menemukan kitab Injil yang asli, dan kitab suci orang Kristen yang
disebut Alkitab sebenarnya tidaklah bisa dipercaya seluruhnya.) Allah
memerintahkan Isa untuk mengajak manusia ke jalan yang benar dan
menganugerahkan kepadanya banyak mukjizat. Dia berbicara ketika masih berada
dalam buaian dan menyampaikan kepada manusia tentang Allah. Isa juga memberi
kabar gembira tentang Muhammad (Ahmad) SAW, utusan Allah yang akan datang
setelahnya, yang difirmankan di dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Dan
ingaatlah ketika Isa putra Maryam berkata, ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku
adalah utusan Allah untukmu. (Aku) membenarkan kitab yang turun sebelumku,
yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang
sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka ketika rasul itu datang kepada mereka
dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ”Ini adalah sihir yang
nyata.” (QS Ash-Shaff: 6)
Dalam masa kehidupan Isa, sangat sedikit orang yang
beriman kepada Isa dan membantunya. Musuh-musuh Isa berusaha membunuhnya.
Mereka mengira bahwa mereka telah menangkap dan menyalib Isa. Padahal, dalam Al
Qur'an Allah berfirman kepada kita bahwa mereka tidaklah membunuh Isa:
Dan karena ucapan mereka,
”Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, rasul Allah.”
Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka
bunuh adalah orang yang dijadikan serupa dengan Isa dalam pandangan mereka.
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa,
benar-benar ragu tentang yang dibunuh itu.Mereka tidak yakin tentang siapa yang
dibunuh itu, kecuali dengan prasangka belaka. Mereka juga tidak yakin bahwa
yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS An-Nisaa: 157)
Setelah Isa AS tidak ada
lagi, musuh-musuhnya mencoba untuk mengubah wahyu yang dibawanya. Mereka mulai
menggambarkan Isa dan Maryam sebagai makhluk yang memiliki kekuatan gaib,
bahkan dianggap sebagai “tuhan-tuhan”. Saat ini pun, masih ada yang mempercayai
keimanan palsu ini. Allah memberi tahu kita dalam Al Qur'an, melalui perkataan
Isa sendiri, bahwa semua ini adalah keimanan yang keliru:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putera
Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua
orang tuhan selain Allah?’” Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah
mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa
yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara gaib. Aku tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya),
yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan aku adalah saksi untuk mereka
selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah
yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS
Al-Maidah: 116-117)
Setelah Isa menghilang,
jumlah orang-orang yang beriman kepadanya meningkat pesat, tetapi saat ini
mereka berada di jalan yang sesat karena mereka mengikuti Alkitab, yang telah
diubah-ubah dengan tambahan-tambahan dan pengurangan-pengurangan. Satu-satunya
jalan yang lurus saat ini adalah jalan Nabi Muhammad SAW, yang disampaikan
kepada kita, yang disebutkan dalam Al Qur'an, karena inilah satu-satunya wahyu
Allah yang belum berubah.
Utusan Allah: Muhammad SAW
Kita banyak mengenal
Rasulullah, Muhammad SAW, karena beliau adalah nabi terakhir dan hidup baru
sekitar 1.400 tahun yang lalu. Manusia mengubah-ubah dan mengaburkan agama yang
diwahyukan oleh Allah sebelum beliau. Inilah sebabnya kitab terakhir (yang akan
dipertanggungjawabkan oleh manusia di Hari Pembalasan) diwahyukan kepada nabi
kita. Kitab ini memperbaiki semua kekeliruan yang diada-adakan dalam
agama-agama sebelumnya. Allah menyampaikan bahwa Allah memberi perintah untuk
hamba-hambanya melalui Al Qur'an.
Nabi SAW juga menghadapi banyak kesulitan ketika
menyampaikan wahyu Allah kepada umatnya. Banyak tuduhan yang tak beralasan
kepada beliau, meskipun beliau tidak meminta upah dari umatnya dan tidak
mempunyai niat-niat duniawi.
Beliau terpaksa pindah
dari Mekah, kota kelahiran beliau. Orang-orang Islam pertama yang mengikutinya
juga dizalimi, beberapa di antara mereka bahkan disiksa dan mengalami perlakuan
kejam. Tetapi Allah tidak membiarkan orang-orang yang tidak beriman
membahayakan agama Islam, yang tetap tidak berubah hingga hari ini. Sesuai
dengan janji Allah, setiap kata dalam Al Qur'an tetap sepenuhnya tidak berubah.
Seruan Nabi Muhammad SAW juga ditujukan kepada seluruh
manusia yang hidup saat ini. Allah memerintahkan seluruh manusia untuk
menghormati rasul-rasulnya. Dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa
menghormati para rasul berarti menghormati Allah. Oleh karena itu, menghormati
nabi adalah salah satu hal yang terpenting dan utama dalam Islam. Ketaatan hati
kepada perintah Nabi SAW tentu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah.
Dalam Al Qur'an, Allah
menyampaikan kepada kita tentang sifat-sifat utama Nabi kita, yang menjadi
teladan bagi semua manusia.
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, (dan ia) sangat menginginkan
(keimanan dan keselamatan) bagimu, (serta) amat mengasihi dan menyayangi Kaum
Mukmin.” (QS At-Taubah:128)
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang
laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.
Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Ahzab: 40)
Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang
yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan
mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan
(jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan
sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan
yang nyata. (QS Ali Imran: 164)
Dengan ayat-ayat yang dimulai dengan kata,
”Katakanlah...,” Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu
Allah. Melalui ayat-ayat ini dan semua ayat lainnya, Nabi SAW menyampaikan
wahyu-wahyu Allah kepada manusia. Istri beliau, A’isyah RA berkata, ”Akhlak
beliau adalah Al Qur'an.” Maksud A’isyah adalah, Nabi SAW benar-benar
menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman dalam segala perbuatannya, dan kita tahu
bahwa hadits beliau adalah cara kita untuk menghormati Al Qur'an. Dalam salah
satu ayat, Allah menyatakan bahwa hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah dan
ingin mendapatkan pengampunan haruslah menghormati Rasulullah SAW:
Katakanlah, “Jika
kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali
Imran: 31)
Seperti disebutkan dalam ayat di atas, jika kita ingin
agar Allah mencintai kita, kita harus patuh kepada seruan nabi dan dengan
seksama mengamalkannya.
KEAJAIBAN AL QUR’AN
Sebelumnya telah kita bahas bahwa mukjizat terbesar yang
dikaruniakan kepada Nabi SAW adalah Al Qur'an. Al Qur'an diwahyukan kepada umat
manusia 1.400 tahun yang lalu, namun ada beberapa kenyataan yang diwahyukan
dalam Al Qur'an yang maknanya hanya bisa kita buktikan baru-baru ini.
Dari planet-planet hingga bintang-bintang, manusia
hingga hewan, Allah menciptakan segalanya di alam semesta. Allah telah
mengetahui segalanya yang belum kita temukan hingga sekarang dan Dia memberi
tahu kita tentang beberapa di antaranya dalam Al Qur'an. Kita hanya bisa
mengetahuinya jika Allah menghendakinya, sehingga kita tahu bahwa ini adalah mukjizat
dari Allah.
Al Qur'an berisi banyak
keajaiban ilmu pengetahuan. Di sini, kita akan membahas beberapa di antara
mukjizat Al Qur'an. (Untuk informasi lebih lanjut kalian bisa membaca buku
Keajaiban Al Qur'an.)
Bagaimana Alam
Semesta Tercipta
Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur'an
dengan ayat-ayat berikut dan dalam banyak ayat lainnya:
Dia-lah Yang memulai penciptaan
langit dan bumi... (QS Al-An’aam: 101)
Dalam bagian pertama buku ini, kita telah membahas
secara terperinci bagaimana alam semesta terjadi dari belum ada sama sekali
pada 15 miliar tahun yang lalu. Dengan kata lain, alam semesta tiba-tiba muncul
dari ketiadaan.
Hanya ilmu pengetahuan di
abad kedua puluh yang bisa membuat kita menemukan bukti-bukti ilmiah tentang
peristiwa besar ini. Oleh sebab itu, mustahil mengetahuinya 1.400 tahun yang
lalu (pada saat Nabi SAW hidup). Akan tetapi, ini justru telah disebutkan dalam
ayat tadi, Allah memberi tahu kita kenyataan ini ketika Al Qur'an diwahyukan.
Inilah keajaiban Al Qur'an dan salah satu bukti bahwa Al Qur'an adalah
perkataan Allah.
Garis Edar
Mungkin banyak di antara kalian yang tahu bahwa bumi
kita dan planet-planet lainnya memiliki garis edar. Memang, tidak hanya
planet-planet di Tata Surya kita saja yang memiliki garis edar, tetapi juga
semua benda-benda langit di alam semesta memiliki garis-garis edarnya sendiri.
Jadi, semua benda langit bergerak pada jalur-jalur yang telah ditentukan dengan
sangat tepat. Inilah bukti ilmiah yang baru diketahui oleh para ilmuwan baru-baru
ini, tetapi telah diwahyukan dalam Al Qur'an 1.400 tahun yang lalu.
Dan Dia-lah Yang telah menciptakan
malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masingnya beredar di dalam garis
edarnya. (QS Al-Anbiya: 33)
Seperti kalian baca dalam ayat ini, Allah memberi tahu
kita tentang kenyataan ilmiah yang baru saja ditemukan belum lama ini. Pada
saat Al Qur'an diwahyukan, orang-orang tidak tahu bahwa benda-benda langit
bergerak dalam garis-garis edar yang tetap. Tetapi Allah mengetahui segalanya
dan memberi tahu apa yang dikehendaki-Nya kepada hamba-Nya.
Lautan
yang Tidak Saling Bercampur
Salah satu sifat lautan yang baru saja ditemukan ilmuwan
telah diwahyukan dalam satu ayat Al Qur'an sebagai berikut:
Dia
membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya bertemu, (tetapi) di antara
keduanya ada batas yang tidak bisa dilewati oleh masing-masingnya. (QS
Ar-Rahman: 19-20)
Sifat lautan ini, yaitu
saling bertemu, tetapi tidak saling bercampur sama sekali, baru saja ditemukan
oleh ahli lautan. Karena gaya fisika yang disebut dengan “tegangan permukaan”,
perairan di lautan yang saling berdekatan tidak akan bercampur. Karena
disebabkan oleh perbedaan kekentalan air tersebut, tegangan permukaan mencegah
kedua lautan tersebut saling bercampur, seolah ada dinding tipis di antara
mereka.
Yang menarik, di masa
ketika manusia tidak mempunyai pengetahuan fisika, tegangan permukaan atau ahli
lautan, pengetahuan ini telah diwahyukan di dalam Al Qur'an.
Bentuk Bumi yang
Bulat
Pengetahuan astronomi (ilmu tentang benda langit) pada
saat Al Qur'an diwahyukan memandang dunia dengan cara berbeda. Beberapa orang
menganggap bahwa bumi ini datar, meskipun ada yang menganggap sebaliknya.
Tetapi kenyataan bahwa bumi itu bulat tidaklah diketahui oleh semua orang. Akan
tetapi, dari ayat Al Qur'an bisa dipahami secara tidak langsung, bahwa bentuk
bumi adalah bulat. Ayat yang sesuai tentang ini berbunyi:
Dia menciptakan langit dan bumi
dengan tujuan yang benar. Dia menutupkan (takwir)malam atas siang dan
menutupkan (takwir)siang atas malam… (QS Az-Zumar: 5)
Kata berbahasa Arab ”takwir” diterjemahkan dengan
”menutupkan” dalam ayat di atas. Dalam Bahasa Indonesia, kata ini berarti
melilitkan sesuatu pada benda lain, hingga terlipat seperti kain yang
digulung”. Siang dan malam yang saling melilit ini hanya bisa terjadi jika bumi
itu bulat. Tetapi, seperti disebutkan di atas, orang-orang Arab yang hidup
1.400 tahun yang lalu beranggapan bahwa bumi itu datar. Ini berarti bahwa
bulatnya bumi diberitahukan secara tidak langsung dalam Al Qur'an, yang
diwahyukan pada abad ketujuh. Hal ini karena Allah mengajarkan kebenaran kepada
umat manusia. Persoalan ini, yang disebutkan dalam kitab yang diwahyukan oleh
Allah, baru diperjelas dalam abad-abad setelahnya oleh para ilmuwan.
Karena Al Qur'an adalah perkataan Allah, perkataan yang
paling benarlah yang digunakan untuk menggambarkan alam semesta. Mustahil
seorang manusia mengetahui dan bisa memilih kata-kata tersebut. Karena
Allah-lah yang mengetahui segalanya, Dia bisa menyampaikan kenyataan ini kepada
manusia kapan pun Dia kehendaki.
Sidik Jari
Ketika Al Qur'an
menyatakan bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia kembali
setelah mati, Allah menyuruh kita untuk memperhatikan sidik jari manusia.
Apakah manusia
mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
Sekali-kali tidak, sungguh Kami berkuasa menyusun (kembali) setiap ujung
jemarinya dengan sempurna. (QS Al-Qiyamah: 3-4)
Menghidupkan kembali tubuh manusia yang telah hancur
membusuk adalah sangat mudah bagi Allah. Sekarang, perhatikanlah sidik jarimu.
Sidik jari semua orang berbeda satu sama lain. Jika kalian punya saudara
kembar, sidik jari mereka juga berbeda. Setiap orang yang hidup atau yang
pernah hidup di dunia ini mempunyai bentuk sidik jari yang berbeda. Itulah
mengapa sidik jari itu sama khasnya dengan identitas seorang manusia.
Allah Yang Maha Kuasa bisa menciptakan kita kembali,
hingga perincian terkecilnya. Di sini, kita perlu mencamkan bahwa pentingnya
sidik jari dan bahwa setiap orang memiliki sidik jari yang khas dimilikinya
baru ditemukan di abad kesembilan belas. Tetapi Allah telah menyuruh kita
memperhatikan ujung-ujung jari kita pada 1.400 tahun yang lalu dalam Al Qur'an.
Ada beberapa persoalan lain yang secara ajaib
diterangkan dalam Al Qur'an. Kita hanya akan membahas beberapa di antaranya di
sini. Namun semua ini sudah cukup untuk menjelaskan bahwa Al Qur'an adalah
perkataan Allah. (Untuk informasi lebih lanjut, kalian bisa membaca buku Keajaiban
Al Qur'an karya Harun Yahya.)
Allah memberi tahu kita tentang hal berikut mengenai Al
Qur'an:
Maka apakah mereka tidak
memperhatikan Al Qur'an? Seandainya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah,
tentulah mereka akan menemukan pertentangan yang banyak di dalammya. (QS
An-Nisaa’: 82)
Seperti telah dijelaskan dalam ayat di atas, Al Qur'an
memberikan informasi yang akurat. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, semakin
banyak keajaiban yang diterangkan di dalam Al Qur'an yang terungkap. Keajaiban-keajaiban
Al Qur'an ini membuktikan bahwa Al Qur'an adalah wahyu dari Allah. Di sini,
adalah kewajiban kita untuk mempelajari dan mengamalkan perintah-perintah Al
Qur'an secara seksama.
Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada Al
Qur'an dalam banyak ayat. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang
Kami turunkan, yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kalian
diberi rahmat. (QS
Al-An’aam: 155)
…adalah suatu peringatan, maka barangsiapa
yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. (QS ‘Abasa: 11-12)
SIFAT
APAKAH YANG DIKEHENDAKI
OLEH
ALLAH?
Al Qur'an, yang merupakan petunjuk bagi seluruh umat
manusia, merupakan perkataan Allah. Kita bisa mencapai sifat
yang diridhai oleh Allah dengan membaca ayat-ayat Al Qur'an dan hidup dengan
itu. Ini sangat mudah. Namun, meskipun demikian, sebagian besar manusia
melakukan kesalahan karena menjauhi sifat-sifat yang diridhai oleh Allah. Jika
suatu hari, semua orang di sekitarmu patuh pada keinginan Allah dan mengamalkan
sifat-sifat yang dituntut oleh Allah dari manusia, maka dunia ini akan menjadi
tempat yang lebih baik. Sekarang, mari kita lihat secara singkat tentang hal
ini.
Kita semua tahu bahwa
Allah telah menciptakan manusia. Dengan begitu, Allah-lah Yang Maha Mengetahui
akhlak terpuji dan tercela yang dimiliki manusia. Seseorang mungkin bisa menipu
orang lain, tetapi dia tidak akan pernah menyembunyikan apa pun dari Allah. Hal
ini karena, tidak seperti kita, Allah mengetahui apa yang dipikirkan seseorang.
Oleh sebab itu, seseorang harus selalu ikhlas dan jujur kepada Allah. Salah
satu ayat menyebutkan:
Katakanlah,
”Jika kalian menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kalian
melahirkannya, pasti Allah mengetahuinya.” Allah mengetahui apa pun yang ada di langit dan apa pun yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas
segala sesuatu. (QS Ali-Imran: 29)
Kepunyaan
Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan jika kalian
melahirkan yang ada di dalam hatimu atau kalian menyembunyikannya, niscaya
Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatanmu itu. Maka
Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang di
kehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Baqarah: 284)
Orang yang sadar bahwa
Allah Maha Mendengar segala kata yang ia ucapkan, mengetahui segala tindakan
yang dia perbuat dan setiap pikiran yang melintas di pikirannya, tidak akan
pernah berani melakukan perbuatan jahat, meskipun tidak terlihat oleh orang lain.
Artinya, agar menjadi orang terpuji, kita harus benar-benar beriman pada adanya
Allah dan keesaan-Nya, mengetahui sifat-Nya yang Mahakuasa dan sadar bahwa Dia
Maha Melihat dan Mendengar segala sesuatu. Ini adalah salah satu syarat untuk
mencapai sifat yang dikehendaki Allah dari hamba-hamba-Nya.
Mencintai Allah dan
Percaya kepada-Nya
Kalian tentu menghargai cinta yang ditunjukkan oleh
orang tua kepada kalian, bukan? Kalian juga mencintai mereka. Mereka melindungi
dan mencintai kalian dan memenuhi kebutuhan kalian. Kalian mempercayai mereka.
Jika kalian menghadapi kesulitan, kalian mengetahui bahwa mereka akan selalu
siap membantu kalian.
Pernahkah kalian
memikirkan seberapa besar cinta dan rasa percaya kalian kepada Allah?
Allah memenuhi semua
kebutuhan seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Berkat kasih sayangnya yang tak
terbatas, kita hidup di dunia ini dalam damai dan menikmati karunia yang tak
terbatas.
Allah telah menciptakan matahari sehingga kita bisa
hidup di bumi. Allah juga telah menciptakan sayur-sayuran, buah-buahan, dan
hewan untuk kita. Kita punya nasi, susu, daging, dan berbagai sayuran dan
buah-buahan lezat karena Allah telah menciptakan itu semua untuk kita.
Allah telah menciptakan hujan sehingga kita bisa
memiliki air yang segar untuk diminum. Allah telah menciptakan lautan, tempat
air asin yang selalu tersedia. Tanpa hujan, tidak akan pernah ada air atau air
garam di bumi. Air itu sangat penting untuk kita. Seperti yang kalian ketahui,
manusia tidak bisa bertahan hidup tanpa air selama beberapa hari.
Allah memberi kita sistem kekebalan dalam tubuh kita
untuk melindungi kita dari penyakit. Berkat sistem kekebalan ini, kita tidak
mati karena makhluk-makhluk kecil (virus atau bakteri) yang menyebabkan flu.
Di samping semua ini, Allah membuat jantung kita terus
berdetak tanpa henti sepanjang hidup. Jika jantung kita memerlukan istirahat
selama jangka waktu tertentu, seperti halnya mesin, kita pasti akan mati.
Tetapi jantung kita berdetak tanpa henti selama berpuluh tahun tanpa istirahat
sehingga kita tetap hidup.
Allah telah menciptakan mata untuk melihat, telinga
untuk mendengar, hidung untuk mencium, dan lidah untuk mengecap. Semua ini baru
sedikit dari nikmat yang Allah berikan untuk kita. Kita tidak bisa menghitung
semua nikmat yang Allah berikan untuk kita. Dalam satu ayat, Allah, Yang Maha
Penyayang kepada kita, menyampaikan kepada kita hal berikut ini:
Dan
Dia telah memberikan untukmu keperluanmu dari segala yang kalian mohon
kepadanya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat
kalian memperkirakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan mengingkari
nikmat Allah. (QS Ibrahim: 34)
Seperti yang kalian telah pahami dalam Al Qur'an, tidak
bersyukur atas nikmat-nikmat ini, melupakan bahwa seluruh nikmat itu berasal
dari Allah, dan tidak bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia berikan
bagi kita, adalah perilaku yang tercela. Allah tidak mencintai orang-orang yang
tidak bersyukur.
Sebagai balasan atas nikmat-Nya, Allah hanya
menginginkan agara kita mencintai-Nya, bersyukur kepada-Nya, yakni berterima
kasih kepada-Nya. Perintah-Nya difirmankan dalam ayat sebagai berikut:
Dan Allah
mengeluarkan kamu dari rahim ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu hal
pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu
bersyukur. (QS an-Nahl: 78)
Maka makanlah yang
halal dan baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah
nikmat Allah, jika memang hanya kepada-Nya saja kamu menyembah. (QS
an-Nahl: 114)
Dan Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian:
pendengaran, penglihatan, dan hati. Amat sedikit kamu bersyukur. (QS
Al-Mu’minun: 78)
Dalam ayat lainnya,
difirmankan bahwa orang-orang yang beriman mencintai Allah di atas
segala-galanya:
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan Allah. Mereka mencintainya seperti mereka mencintai Allah.
Adapun orang-orang beriman sangatlah cinta kepada Allah. Dan seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu adalah milik Allah semuanya, dan bahwa Allah
amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS Al-Baqarah: 165)
Allah melindungi dan
memelihara ibu dan ayah kalian serta semua orang lain. Kita semua butuh Allah.
Baik orang tua kita maupun kita sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan kita.
Untuk itu, kita harus mencintai Allah dan percaya kepada-Nya.
Mencintai Allah lebih dari
siapa pun dan di atas segalanya, percaya kepada-Nya dan mengakui bahwa Dia
telah memberi kita segalanya merupakan ciri utama sifat yang diridhai Allah.
Bagaimana
Kita Bersikap pada Orang Lain
Allah melarang manusia bersikap sombong, berbohong,
memperolok-olok orang lain dan angkuh. Jujur dan rendah hati adalah sifat-sifat
yang diridhai oleh Allah.
Dalam kehidupannya, manusia sering dipengaruhi oleh
orang-orang di lingkungannya. Jika mereka menyakiti teman-temannya, mungkin ia
telah mendapat pengaruh jelek dari lingkungannya itu. Tetapi, seseorang yang
beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Allah selalu melihatnya tidak pernah
meninggalkan jalan yang benar, meskipun keadaan memaksanya untuk melakukan itu.
Dia menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang tidak jujur dan sesat.
Allah mencintai orang yang sabar. Istilah ”kesabaran”
dalam Al Qur'an tidak hanya berarti sabar menghadapi musibah, melainkan juga
berarti sabar di setiap saat dalam kehidupan. Kesabaran seseorang yang beriman
tidak berubah karena orang lain atau suatu kejadian. Misalnya, orang yang tidak
begitu takut kepada Allah mungkin akan berlaku baik pada seseorang yang bisa
memberinya keuntungan, tetapi tidak bisa selalu menunjukkan sikap terpuji ini.
Begitu ia merasa bahwa kepentingannya diganggu, dia mungkin saja tiba-tiba
berubah. Namun, orang yang beriman dengan seksama menghindari melakukan
perbuatan tercela. Dia menunjukkan sikap yang baik kepada setiap orang dan
beriktikad baik untuk tetap melakukan itu, apa pun keadaannya atau bagaimanapun
sikap orang lain kepadanya. Meskipun ia marah, ia berhasil mengendalikan
dirinya dan menunjukkan kesabaran.
Dalam satu ayat, Allah memerintahkan manusia untuk
berlomba-lomba dalam kesabaran:
“Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan
tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah
supaya kalian beruntung. (QS Ali-Imran: 200)
Kesabaran orang-orang yang disebutkan dalam Al Qur'an
adalah teladan buat kita. Seperti yang kalian ketahui, penderitaan Nabi Ayub AS
berlangsung sangat lama. Tetapi hamba Allah yang mulia ini menunjukkan kesabaran
dan berdoa kepada Allah. Allah menjawab doanya dan menunjukkan jalan keluar
kepadanya.
Nabi Nuh AS menunjukkan kesabarannya ketika orang-orang
menertawakannya karena bahtera yang dibangunnya. Ia tetap tenang dan menasihati
mereka. Semua ini adalah contoh yang luar biasa mengenai kesabaran yang
ditunjukkan oleh orang-orang mulia. Allah berfirman dalam banyak ayat bahwa Dia
mencintai hamba-hamba-Nya yang sabar.
Sebaliknya, Allah tidak mencintai orang-orang sombong
yang suka membanggakan diri. Tidak semua orang menikmati keberuntungan harta
benda yang sama di dunia ini. Ada orang yang mempunyai rumah dan mobil yang
indah, sedangkan orang lain tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi, yang penting
adalah bahwa kita bisa berlaku benar. Misalnya, menganggap bahwa seseorang
lebih baik dari orang lain karena ia punya paakaian yang lebih bagus merupakan
sikap yang tidak disukai oleh Allah. Hal ini karena Allah memerintahkan kita
untuk menilai manusia atas dasar keimanan mereka, bukan penampilan mereka.
Bagi Allah, yang menentukan kelebihan seseorang bukanlah
kekayaan, kekuasaan, kecantikan, atau kekuatannya. Allah menilai manusia
menurut takwa (rasa takut kepada Allah) mereka, cinta yang mereka rasakan
terhadap-Nya, ketaatan mereka, dan keteguhan hati mereka untuk hidup
berdasarkan nilai-nilai Al Qur'an. Inilah ukuran penilaian kelebihan seseorang
dalam pandangan Allah.
Qarun adalah orang yang sangat kaya. Ia begitu kaya
sehingga kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang.
Orang-orang bodoh di sekelilingnya berkhayal ingin menjadi Qarun dan ingin
memiliki apa yang dimiliki oleh Qarun. Tetapi Qarun adalah orang yang sombong
dan sangat angkuh, yang tidak patuh kepada Allah. Ia mengingkari bahwa Allah
telah memberinya seluruh kekayaannya itu. Karena itu, Allah menimpakan azab
yang pedih untuk Qarun: Ia dan seluruh harta bendanya lenyap dalam satu malam
saja. Melihat azab yang pedih itu, orang-orang yang pernah berkhayal ingin
menjadi Qarun merasa bahagia tidak menjadi Qarun. Mereka semua mengakui bahwa
ini adalah hukuman dari Allah.
Qarun dijadikan sebagai contoh dalam Al Qur'an sebagai
berikut:
Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa. Ia melakukan kezaliman
terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta
yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat.
(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu berbangga,
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”
(QS Al-Qasas: 76)
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya
dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia,
”Semoga kita mempunyai (harta) seperti yang telah diberikan kepada Qarun.
Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Berkatalah orang-orang yang
dianugerahi ilmu, ”Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik
bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan pahala itu tidak
diperoleh, kecuali oleh-orang-orang yang sabar.
Maka kami benamkan Qarun beserta
rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang
menolongnya dari azab Allah. Dan ia tidak dapat membela diri.
Dan orang-orang yang kemarin
bercita-cita mendapat kedudukan Qarun pun berkata, ”Sungguh, memang benar Allah
melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan
menyempitkannya. Seandainya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita,
tentu Dia telah membenamkan kita juga. Sungguh benarlah, tidak beruntung
orang-orang yang mengingkari nikmat Allah.” (QS Al-Qashash: 79-82)
Al Qur'an memberi tahu
kita bahwa menyebarkan gosip dan bergunjing termasuk perilaku yang juga tidak
disukai oleh Allah. Mencari-cari kesalahan seseorang, bergunjing, dan
menjadikan orang lain sasaran tertawaan adalah perilaku yang harus selalu
dihindari oleh orang-orang yang takut kepada Allah. Dalam Al Qur'an Allah
melarang menyebarkan gosip dan bergunjing. Ayat yang menyebutkan ini berbunyi:
Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah banyak berprasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang
lain, dan janganlah kalian saling bergunjing satu sama lain. Adakah di antara kalian yang suka memakan daging saudaraanya yang sudah
mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha penyayang. (QS Al-Hujurat: 12)
Juga bisa dilihat dari
ayat tersebut, Allah mengatakan kepada kita dalam Al Qur'an bahwa bergunjing
sama menjijikkan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah mati.
Allah menyuruh kita untuk berbuat baik dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Kehidupan adalah kesempatan yang dikaruniakan oleh Allah
untuk mengikuti jalan-Nya yang benar. Saat ini, sebagian besar manusia tidak
sadar tentang hal ini. Bukannya mematuhi perintah dan anjuran Allah, mereka
justru mencari petunjuk lain. Karena terpengaruh oleh film-film yang mereka
tonton atau lagu-lagu yang mereka dengarkan, mereka menganut ajaran-ajaran yang
salah. Misalnya, para pemuda yang menonton tokoh kejam dan tak kenal kasihan
dalam sebuah film sering mencoba untuk menirunya, setelah mereka meninggalkan
bioskop.
Akan tetapi, seseorang
yang bijaksana dan jujur selalu menunjukkan sifat yang diridhai oleh Allah.
Para nabi adalah manusia yang harus kita teladani langkahnya. Sifat-sifat yang
harus kita miliki adalah sifat-sifat yang diridhai oleh Allah. Sifat ini
meliputi pengasih, pemaaf, rendah hati, sederhana, sabar, dan taat kepada Allah
dan rasul-Nya. Seseorang yang menjalankan ajaran mulia ini tidak terpengaruh
untuk ikut-ikutan dalam pertengkaran. Ia justru melerainya dan menunjukkan
sikap tenggang rasa. Al Qur'an memerintahkan kita untuk hormat dan patuh kepada
orang tua, bukan malah durhaka dan melawan mereka. Dalam Al Qur'an, Allah
menegaskan pentingnya hormat kepada kedua orang tua:
Dan
Tuhanmu telah memerintahkan supaya jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah
kalian berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kalian mengatakan kepada keduanya
perkataan, ”Ah!” Dan janganlah kalian membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan
penuh rasa sayang, dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua
sebagaimana mereka telah mendidik aku sewaktu kecil.”(QS Al-Israa: 23-24)
Patuh kepada kedua orang tua,
tidak menyakiti mereka walau sekecil apa pun dengan mengatakan, “Ah,” dan
selalu sayang dan lemah-lembut terhadap mereka adalah sifat-sifat penting yang
dituntut oleh Allah dari kita. Menunjukkan sifat-sifat ini akan mendatangkan
cinta Allah kepada kita dan menjadikan kita lebih bahagia dan damai dalam hidup
sehari-hari.
Kita hanya bisa menunjukkan sifat yang terpuji dalam Al
Qur'an bila kita hidup menurut Islam. Orang-orang yang tak beriman hampir tidak
mampu menjalankan nilai-nilai mulia ini. Kamu harus menghindar dari menjadi
orang seperti itu dan selalu mencamkan ayat yang berbunyi, “Apakah kalian mengira kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi
Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang
sabar?”(QS Ali-Imran: 142). Jangan
pernah lupa bahwa Allah akan lebih mencintai kalian dan memberikan nikmat-Nya
yang lebih banyak kepada kalian jika kalian sabar, rendah hati, rela berkorban,
dermawan, dan jika kalian berlaku baik.
BERIBADAH KEPADA
ALLAH
Allah, Pencipta segalanya dalam diri kalian dan di
sekitar kalian, memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Allah menciptakan kita
dan memerintahkan kita untuk menghormati-Nya dan berlaku baik seperti yang
dituntun dalam Al Qur'an. Yang dituntut oleh Allah dari kita adalah ibadah.
Puasa, sholat, bersyukur kepada Allah, sabar, dan melakukan amal saleh adalah
beberapa bentuk ibadah.
Tetapi sebagian besar orang, meskipun sadar dengan
tanggung jawab mereka, tidak mau menerimanya. Karena kesombongan mereka yang
parah, mereka merasa sulit untuk tunduk kepada Allah. Mereka tidak mau
mendengarkan perkataan Allah karena mereka menganggap diri mereka sangat
penting. Karena tidak mau menerima bahwa Allah telah menciptakan mereka, mereka
berani membangkang kepada Allah. Meskipun Allah-lah yang telah memberi mereka
hati, telinga, kesehatan, dan pendeknya, segala hal di dunia ini, mereka tidak
merasa bersyukur kepada-Nya untuk seluruh karunia ini.
Tetapi orang-orang ini akan merasa sangat menyesal.
Tidak bersyukur dan sombong akan membuat mereka menjalani hidup yang sukar di
dunia dan penyesalan yang dalam di akhirat. Tidak bersyukur (kufur) yang
mereka tunjukkan di dunia ini akan membawa mereka pada api neraka.
Setiap orang yang tidak mau merasakan sesal di kemudian
hari sehingga masuk neraka, pastilah bersyukur kepada Allah. Allah menginginkan
agar kita bersyukur kepada-Nya dan berdoa serta beribadah kepada-Nya, sebagai
bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya untuk kita. Oleh karena itu,
jika kita melihat nikmat yang sempurna dan indah di sekitar kita (yang tidak
akan pernah ada dengan sendirinya), kalian harus mengingat Allah dan merasa
bersyukur kepada-Nya. Janganlah menjadi orang yang tidak mampu memperhatikan
dan menghargai segala nikmat yang diberikan untuk kita.
Dalam Al Qur'an, Allah memerintahkan kita untuk
melakukan berbagai ibadah, selain bersyukur kepada Allah. Melakukan sholat lima
kali sehari, berpuasa pada bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji
(sekali seumur hidup) jika mampu adalah bentuk ibadah yang diwajibkan oleh
Allah atas kita.
Sholat lima waktu
sehari-semalam dan menjaga sholat tersebut sepanjang hidup kita, dalam keluarga
maupun dalam masyarakat membantu kita untuk terus mengingat kelemahan kita
sebagai hamba di depan Allah. Ini adalah bentuk ibadah yang ditunaikan pada
waktu-waktu tertentu. Allah memberi tahu kita dalam Al Qur'an bahwa bentuk
ibadah ini membantu kita untuk menjauhi perbuatan buruk yang tidak disukai oleh
Allah.
Berpuasa juga merupakan bentuk ibadah yang diperintahkan
dalam Al Qur'an. Selama bulan Ramadhan, Allah mewajibkan agar kita tidak makan
dan minum di siang hari. Dengan menunaikan ibadah ini, kita akan menunjukkan
kesabaran untuk tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu.
Membayar zakat, di lain
pihak, merupakan pemberian sebagian harta kita kepada orang miskin dan yang
membutuhkan serta orang lain yang boleh menerimanya. Seperti bentuk ibadah yang
lain, menunaikan zakat sangatlah penting karena menghindari perbuatan jahat dan
menunjukkan sikap rela berkorban adalah sifat yang diridhai oleh Allah. Di
samping itu, membayar zakat memperbaiki hubungan antarmanusia dan menguatkan
jiwa manusia.
Doa
adalah Cara Mendekatkan Diri kepada Allah
Allah mengaskan tentang
sangat pentingnya berdoa. Allah berfirman tentang pentingnya doa dalam ayat
yang menyatakan “…
Tuhanku tidak mengindahkan kamu jika tidak ada ibadahmu…” (QS
Al-Furqan: 77). Seperti yang disebutkan oleh ayat ini, nilai seseorang di
hadapan Allah tergantung kepada doanya. Ini karena seseorang yang berdoa hanya meminta
apa yang dibutuhkannya dari Allah saja. Allah adalah Pemilik segalanya.
Allah menciptakan segala hal yang kita butuhkan.
Misalnya saja, makanan itu penting bagi kehidupan manusia. Allah menciptakan
sayuran, buah, ayam, sapi, dan sebagainya. Allah menciptakan orang tua kalian
dan seluruh orang di sekitar kalian. Allah, Yang Mahakuasa, mengaruniakan untuk
manusia tubuh, kecerdasan, pengetahuan, kekuatan, kesehatan, dan kesempatan
yang mereka nikmati.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Allah menciptakan
segala hal sebagai nikmat untuk kita. Kita ”berhutang” kepada Allah atas
makanan yang kita makan. Demikian pula, kita juga ”berhutang” kepada Allah
karena kemampuan kita untuk memakan makanan ini. Coba pikirkan hal ini
sebentar! Bagaimana kalian bisa mengunyah makanan tanpa gigi? Bagaimana kalian
mencerna makanan itu dalam perut kalian? Adakah gunanya makanan jika kita tidak
punya sistem pencernaan?
Kalian mendapat makanan
atas kehendak Allah. Karena Allah-lah Yang memberikan semua nikmat untuk kita,
hanya kepada Allah-lah kita harus berdoa ketika kita menginginkan sesuatu
terjadi atau ingin memperoleh sesuatu. Akibatnya, kita harus meminta segala hal
dari Allah.
Sebuah contoh akan membuat kalian lebih memahami hal
ini:
Kalian menekan sebuah tombol untuk menghidupkan lampu.
Bisakah kalian mengatakan bahwa tombol itulah yang menciptakan cahaya lampu?
Tentu saja tidak. Tombol hanyalah alat, seperti halnya juga kabel yang
mengantarkan arus listrik. Di dunia ini, Allah menciptakan sebab untuk segala
akibat. Allah menciptakan air. Dalam waduk, air mengalir melalui turbin-turbin
besar, sehingga arus listrik pun tercipta. Kabel mengantarkan arus listrik, dan
akhirnya bola lampu mengubah arus listrik menjadi cahaya. Tetapi, sebenarnya
Allah-lah Yang menciptakan cahaya. Jika Allah menghendaki, Dia bisa menciptakan
arus listrik tanpa sebab-sebab tadi. Tetapi Allah ingin agar kita menggunakan
akal kita untuk berpikir, untuk merenungkan apa yang telah Allah ciptakan, dan
dengan cara ini, agar kita beriman.
Kalian membuka keran ketika menginginkan air. Tetapi,
bisakah kalian berkata bahwa pipa-pipa atau keran itulah yang menyebabkan air
tercipta? Seperti halnya tombol tadi, keran hanyalah alat, bukan sebab.
Inilah pemahaman yang
harus kita miliki, dan ini juga menerangkan mengapa kita perlu berdoa kepada
Allah. Sebabnya adalah karena Allah-lah Yang menciptakan segalanya.
Jika kita buat daftar sebab-sebab kita perlu bersyukur
kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, daftar itu akan menghabiskan jutaan buku.
Oleh karena itulah, orang-orang di sekitarmu yang tidak menganggap penting hal
ini tidak akan pernah menggoyahkan kalian. Ketidakmampuan mereka untuk
menggunakan akal dan pengabaian mereka untuk berpikir dan merenung menyebabkan
mereka mengalami kekeliruan besar.
Allah memberi tahu kita tentang akibat akhir yang akan
diterima oleh orang-orang ini. Pahala dan siksa di akhirat disebabkan oleh cara
kita bertindak di dunia ini dan ada atau tidaknya perjuangan kita untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Setiap orang akan diberi balasan atas
perbuatannya di akhirat.
-
Bagaimana Cara Kita Berdoa?
Memikirkan kekuasaan dan
kebesaran Allah, merasa takut kepada-Nya dan berdoa dengan rendah hati dan
suara yang tidak terdengar oleh orang lain, adalah syarat doa. Allah memberi
tahu kita tentang cara berdoa di dalam Al Qur'an:
Berdoalah
kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang yang melampaui batas. (QS Al-A’raaf: 55)
Berdoa tidaklah terbatas
pada tempat atau waktu tertentu saja. Kita bisa mengingat Allah dan berdoa
kepada-Nya kapan pun. Allah memerintahkan hal berikut ini dalam Al Qur'an:
Yaitu
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan ketika berbaring,
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, “Ya
Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci
Engkau,, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali-Imran: 191)
Ingatlah
kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikankah sholat sebagi penolongmu,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS al-Baqarah:
152-153)
Allah memberi kita contoh doa-doa dalam Al Qur'an.
Beberapa di antara doa-doa para nabi dan orang beriman difirmankan sebagai
berikut:
Nuh berkata, “Ya, Tuhanku.
Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon tentang sesuatu yang
tidak aku ketahui hakikatnya. Dan seandainya Engkau tidak memberi ampun
kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang yang merugi. (QS Hud: 47)
Dan (ingatlah),
ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail
(seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal-amal kami),
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya, Tuhan
kami, jadikanlah kami berdua orang-orang yang tunduk kepada Engkau, dan
(jadikanlah) anak-anak cucu kami umat yang tunduk kepada Engkau, dan
tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan
terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima tobat lagi Maha
Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 127-129)
[Yusuf berkata:] Ya Tuhanku,
sesungguhnya Engkau telah mennganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan, dan
telah mengajarkan kepadaku sebagian tabir mimpi. Ya, Tuhanku, Pencipta langit dan bumi.
Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, dan gabungkanlah aku dengan
orang-orang yang saleh. (QS Yusuf: 101)
[Sulaiman berkata:] “… Ya, Tuhanku,
berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada kedua ibu-bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang
Engkau ridhai. Dan
masuklah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (QS
an-Naml: 19)
Katakanlah,
“Wahai Tuhan Yang mempunyai Kerajaan! Engkau berikan kerajaan kepada orang yang
Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran:
26)
Berkata Musa, “Ya, Tuhanku,
lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan
dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang
pembantu dari keluargaku, yaitu Harun saurdaraku, teguhkanlah dengan dia
kekuatanku dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku supaya kami banyak
bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha
Melihat keadaan kami. (QS Thaha: 25-35)
Yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi seraya berkata, “Ya, Tuhan kami, tidaklah Engkau
ciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka.
Ya, Tuhan kami, sesungguhnya
barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau
hinakan ia. Dan
bagi orang-orang yang zalim tidak ada seorang penolong pun.
Ya, Tuhan kami. Berilah kami apa
yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul engkau.
Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak
pernah menyalahi janji-Mu.”
Maka Tuhan mereka memperkenankan
permohonan mereka dengan berfirman, ”Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal
orang-orang yang beramal di antara kalian, laki-laki maupun perempuan, kalian
adalah setara dalam hal ini...” (QS Al 'Imran: 191-195)
KEMATIAN DAN HIDUP SETELAH MATI
Ada
orang yang menganggap bahwa kematian adalah akhir segalanya. Padahal, kematian
hanyalah jembatan antara kehidupan di dunia dengan hidup di akhirat. Kematian
seolah pintu gerbang kehidupan setelah mati.
Di
seberang pintu gerbang ini, yaitu kehidupan di akhirat, kita akan memasuki
surga atau neraka tergantung pada iman kita yang murni pada keesaan Allah dan
ridha Allah atas amal perbuatan kita di dunia ini.
Kematian
hanyalah akhir dari suatu jangka waktu saja. Kematian sama dengan membunyikan
bel di sekolah, yang menandai berakhirnya ujian. Allah memberi jangka waktu
yang berbeda untuk menguji setiap manusia. Ada yang diberi waktu tiga puluh
tahun, ada pula yang menikmati hidup selama seratus tahun. Seperti halnya Allah
memutuskan tanggal lahir kita, yang merupakan awal ujian kita, Allah memutuskan
pula waktu berakhirnya jangka waktu tersebut. Dengan kata lain, hanya Allah
yang tahu pada umur berapa kalian akan meninggal.
Bagaimana Seharusnya Kita Memikirkan Kematian?
Kematian,
yaitu berakhirnya masa ujian kita di dunia ini, adalah sumber kebahagiaan dan
kenikmatan bagi orang beriman. Kita hampir tidak pernah menyesali orang yang
berhasil melalui ujian, bukan? Merasa berduka karena seseorang meninggal sama
saja lucunya. Mungkin benar kalian kehilangan kerabat dekat atau seseorang yang
kalian cintai. Namun, orang yang beriman mengetahui bahwa kematian pasti
bukanlah perpisahan abadi, dan bahwa seseorang yang meninggal hanya sekadar
menyelesaikan masa ujian di dunia ini. Dia tahu bahwa di akhirat, Allah akan
mengumpulkan kaum Muslimin yang hidup menurut perintah-Nya dan memberi mereka
balasan surga. Dalam hal ini, mereka akan merasakan kebahagiaan besar, bukan
rasa penyesalan.
Allah bisa mengambil jiwa kita kapan pun. Oleh sebab itu,
kita harus berjuang untuk memperoleh ridha Allah.
Kesimpulannya, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah
gerbang yang mengantar kita menuju akhirat. Kehidupan di akhirat adalah
kehidupan sesungguhnya yang akan abadi, dan kita perlu bersiap-siap untuk itu.
Apakah kalian berpikir bahwa seseorang yang menjalani ujian ingin tetap dalam
ujian itu selamanya? Tentu tidak. Dia hanya ingin menjawab pertanyaan dengan
benar, lalu meninggalkan kelas.
Di dunia ini pun, seorang manusia harus berjuang untuk
melalui ujiannya, mendapatkan ridha Allah, dan mencapai surga-Nya.
Dalam
dunia ini, tujuan terpenting manusia haruslah untuk mencintai Allah dan
mendapatkan ridha-Nya. Hal ini karena Allah, Yang Maha Penyayang, mencintai
kita dan melindungi kita di segala waktu. Salah satu ayat Al Qur'an, yang
menyebutkan perkataan salah seorang nabi, berbunyi:
“…Tuhanku adalah Pelindung
segalanya.” (QS
Hud: 57)
Akhirat
Allah
menggambarkan sifat sementara dunia ini dalam banyak ayat Al Qur'an dan
menegaskan bahwa tempat tinggal manusia yang sebenarnya adalah di akhirat.
Manusia yang diuji di dunia ini suatu hari akan diambil melalui kematian,
sehingga memulai kehidupan barunya di akhirat. Inilah hidup tanpa akhir. Di
kehidupan yang abadi, jiwa manusia tidak akan hilang. Allah menciptakan nikmat
yang tak terhingga di dunia ini. Dia menciptakan kehidupan di dunia ini untuk melihat
bagaimana kita berbuat untuk mensyukuri nikmat yang kita peroleh. Sebagai
pahala atau siksa, Allah juga menciptakan surga dan neraka.
Allah memberi tahu kita bagaimana seseorang diberi
balasan di akhirat, di hadapan Allah:
Barangsiapa
membawa amal yang baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya. Dan
barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan
melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak
dianiaya (dirugikan). (QS Al-An’am: 160)
Allah Maha Penyayang kepada manusia. Dia memberi mereka
pahala dengan berlimpah. Tetapi orang yang memperoleh siksa hanyalah dibalas
sesuai dengan kejahatan mereka. Allah tidak menzalimi siapa pun. Manusialah
yang mungkin memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Di dunia ini,
seseorang yang berdosa bisa saja menipu atau menyesatkan orang lain, tetapi di
akhirat, jika dia tidak beriman kepada Allah dan keesaan-Nya, Allah pasti akan
menghukumnya, dan jika dia adalah seorang Muslim, Allah mungkin akan menghukum
atau memaafkannya. Allah Maha Melihat dan Mendengar segalanya, sehingga Dia
membalas segala perbuatan.
Surga dan Neraka
Surga dan neraka adalah dua tempat terpisah. Di kedua
tempat ini manusia akan menghabiskan kehidupannya setelah mati. Al Qur'an-lah
yang memberi kita informasi yang benar tentang kedua tempat ini.
Kamu mungkin pernah pergi ke daerah-daerah yang
pemandangannya indah atau melihat adegan-adegan yang menegangkan dalam film.
Mungkin ada tempat-tempat yang tidak ingin kalian tinggalkan. Surga tidak dapat
dibandingkan keindahannya dengan tempat-tempat apa pun yang kalian sebutkan
itu. Makanan yang dinikmati orang-orang beriman dalam surga jauh lebih lezat
daripada makanan di dunia ini.
Allah, Pencipta segala keindahan di dunia, memberi tahu
kita bahwa Dia menciptakan keindahan yang jauh lebih hebat di surga bagi
orang-orang beriman yang ikhlas.
Kesulitan
di Dunia Ini Membuat Kita
Lebih
Memahami Keindahan Surga
Kita
mengalami berbagai kesulitan di dunia ini. Kita sakit, kita mengalami patah
tangan atau kaki, kita merasa sangat dingin atau panas, perut kita lapar, atau
kulit kita memar, dll. Lihatlah foto orang tua kalian yang masih muda, dan
pikirkanlah tentang wajah mereka sekarang. Kalian akan melihat perbedaan.
Allah khusus menciptakan kelemahan seperti itu bagi
manusia di dunia ini. Tak satu pun kelemahan itu ditemukan di akhirat. Begitu
kelemahan di dunia ini direnungkan, kita bisa mengenal kehebatan surga dengan
baik. Memasuki surga menghapus semua penderitaan. Pikirkanlah hal-hal yang
tidak kalian sukai di dunia ini... Di akhirat, semua itu tidak akan ada lagi.
Surga dihias dengan nikmat-nikmat yang paling disukai
oleh manusia. Segala hal terbaik dari yang kita makan dan minum di dunia ini
ada di surga, dalam bentuk yang sempurna. Manusia tidak pernah merasakan dingin
atau panas di surga. Mereka tidak pernah sakit, takut, berduka, atau menjadi
tua. Kalian tidak akan menemukan orang jahat di sana. Ini karena orang jahat,
yaitu orang yang tidak percaya pada Allah dan mengingkari-Nya, akan tinggal di
neraka, tempat yang pantas buat mereka. Orang-orang di surga berbicara dengan
lemah lembut satu sama lain. Mereka tidak pernah mengumpat, marah, berteriak,
atau saling menyakiti. Seluruh orang baik yang mempunyai keimanan sejati atas
keesaan Allah, dan orang yang beramal demi ridha Allah, sehingga pantas
mendapat surga, akan berada di sana, berkumpul sebagai teman selamanya.
Dari
Al Qur'an kita tahu bahwa hal-hal luar biasa terdapat dalam surga: kediaman
yang luar biasa, taman-taman yang teduh, dan sungai yang mengalir menambah
sukacita penghuni surga. Memang, apa yang telah kita gambarkan di atas belumlah
cukup untuk melukiskan nikmatnya surga. Keindahan surga berada di luar khayalan
kita.
Dalam
Al Qur'an, Allah memberi tahu kita bahwa dalam surga, manusia akan mendapatkan
lebih dari yang mereka pikirkan. Pikirkanlah sesuatu yang kamu ingin miliki
atau tempat yang ingin kalian kunjungi. Dengan kehendak Allah, kalian akan
mendapatkan semua itu dalam sekejap. Dalam satu ayat, Allah menyatakan bahwa:
…. Kalian akan memperoleh di
dalamnya apa yang kalian minta. (QS Fussilat: 31)
Beberapa ayat dalam Al Qur'an yang menceritakan
keindahan surga adalah sebagai berikut:
Perumpamaan surga yang dijanjikan
kepada orang-orang yang bertakwa: Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang
tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah
rasanya, sungai-sungai khamar arak yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan
sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala
macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka… (QS Muhammad: 15)
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh,
sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam
surga, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya.
Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (QS Al-'Ankabut: 58)
(Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di
dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang emas, serta dengan
mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. (QS Fatir: 33)
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang
dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat
yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh
buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka minta. (QS Ya Sin: 55-57)
Di antara pohon
bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun (buahnya), dan
naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang
banyak, yang tidak pernah berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya,
dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (QS Al-Waqi'ah: 28-34)
Allah juga memberi tahu kita bahwa orang-orang yang
pantas mendapatkan surga akan tinggal di dalamnya selamanya:
Dan orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal saleh, kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri
seseorang melainkan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni
surga. Mereka kekal di dalamnya. (QS Al-A’raaf: 42)
Pada dasarnya, seorang yang beriman akan memperoleh
kesenangan karena mendapatkan ridha Allah. Mengetahui dan merasakan hal ini
adalah kesenangan terbesar yang kita rasakan di dunia.
Siksa
Neraka Akan Abadi Selamanya
Orang yang durhaka kepada Allah dan menolak mengakui
adanya Allah juga akan diberi balasan karena apa yang mereka lakukan itu.
Mereka tidak mengakui Allah dan tidak percaya bahwa Allah-lah Yang telah
menciptakan segalanya, dan mereka bersikap sombong, tidak mampu melakukan
ibadah yang diperintahkan kepada mereka, sehingga mereka membangkang di dunia
ini. Karena semua ini, mereka akan disiksa dalam neraka.
Beberapa orang melakukan berbagai kejahatan di dunia ini.
Ketika tidak ada orang yang melihat mereka, mereka mungkin tidak akan dihukum.
Tetapi orang-orang ini tidak tahu bahwa Allah melihat mereka setiap waktu, dan
Allah bahkan mengetahui pikiran mereka.
Setiap orang akan diberi balasan atas perbuatan baik
maupun jahat yang mereka lakukan. Allah memiliki keadilan tak terbatas, dan
dalam ayat-ayat Al Qur'an, Allah memberikan kabar gembira, bahwa bahkan
perbuatan sekecil apa pun akan diberi balasan yang berlipat ganda. Allah juga
memberi tahu kita bahwa manusia akan diberi pahala jika mereka menyesal dan
memohon ampun kepada-Nya. Akan tetapi, Allah mengancam orang-orang yang tidak
beriman kepada-Nya, tidak mau mematuhi perintah dalam Al Qur'an, dan berpikir
bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian.
Neraka adalah ganjaran untuk orang-orang berdosa, dan
orang-orang yang melakukan kesalahan karena durhaka kepada Allah. Allah
menggambarkan keadaan orang-orang ini dalam Al Qur'an sebagai berikut:
(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai
permainan dan olok-olok, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada
hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan
mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat
Kami. (QS Al-A'raf: 51)
Di neraka, siksa yang mengerikan, yang tidak bisa
dibandingkan dengan rasa sakit seperti apa pun di dunia ini, telah menunggu
penghuni neraka. Neraka adalah tempat yang penuh dengan api, rasa sakit, putus
asa, dan ketidakbahagiaan. Penghuni neraka berdoa kepada Allah dan memohon
dikeluarkan dari neraka. Tetapi, begitu telah berada di neraka, sudah terlambat
untuk merasa sesal atau sedih. Telah dibahas di depan tentang penyesalan yang
dirasakan oleh Firaun. Allah memberi manusia kesempatan hingga saat
kematiannya. Tetapi, begitu ia meninggal dan memulai kehidupan di akhirat, rasa
sesal tidak akan lagi berguna.
Penghuni
neraka menjalani kehidupan yang jauh lebih buruk daripada kehidupan binatang.
Satu-satunya makanan yang mereka temui hanyalah buah dari duri pahit dan pohon
Zaqqum. Mereka meminum darah dan nanah. Dengan kulit mengelupas, daging
terbakar, dan darah berceceran di mana-mana, mereka menjalani kehidupan yang
menghinakan. Dengan tangan-tangan terikat pada leher mereka, mereka dimasukkan
ke tengah-tengah api. Bahkan, kehidupan seperti ini akan tetap abadi.
Banyak orang yang percaya bahwa neraka hanyalah tempat
sementara, dan bahwa ketika mereka telah disiksa karena kesalahan mereka, mereka
akan memasuki surga. Benar atau tidaknya hal ini hanyalah diketahui oleh Allah,
Yang memberi tahu kita tentang hal berikut ini dalam Al Qur'an:
Mereka berada di dalam neraka yang tertutup rapat. (QS
Al-Balad: 20)
Hal itu adalah karena mereka mengaku, “Kami tidak akan
disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari yang bisa dihitung.”
Mereka teperdaya dalam agama mereka karena apa yang selalu mereka ada-adakan.
(QS Ali Imran: 24)
Akan tetapi, yang harus dilakukan oleh seorang Muslim yang mengatahui
kesalahannya dan perbuatannya yang keliru adalah menyesali semua itu, berdoa,
dan memohon pengampunan dari Allah. Dalam Al Qur'an, Allah memberi tahu kita
bahwa Allah mengampuni segala dosa asalkan kita bertobat. Ayat yang
menyatakannya adalah sebagai berikut:
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap
diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha
Penyayang. (QS Az-Zumar: 53)
Manusia perlu mengetahui
kesalahannya dan meminta pengampunan dari Allah untuk menghindari sesal yang
tak berkesudahan di akhirat, dan untuk menyelamatkan diri mereka dari siksa
yang tak tertahankan di neraka.
Referensi : Harun Yahya




