DOSEN PENGAJAR
YUNIARTI FIHARTINI SE.SMI
ROSLINA SE.SMI
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
TEORI :
Desshinta Yoningtyas (1411021028)
Rachmawati Ramadhan (1411021084)
KASUS:
Feri (1411021042)
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikm Wr. Wb.
Alhamdulillah dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt
yang maha pengasih dan penyayang yang telah memberikan rahmat, hidayah dan
inayahnya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini
tentang
“ PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MANAJEMEN ”.
Makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan
kepada kami dalam rangka pengembangan dasar yang berkaitan dengan keputusan
manajemen. Selain itu tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk
menambah wawasan tentang pengetahuan keputusan manajemen secaradetail.
Sehingga besar harapan kami, makalah yang kami sajikan dapat menjadi
konstribusi positif bagi pengembang wawasan pembaca.
Akhirnya kami menyadari dalam penulisan makalah ini jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami menerima
kritik dan saran agar penyusunan makalah selanjutnya menjadi lebih. Semoga
laporan ini memberi manfaat bagi banyak pihak. Amiin.
Wassalamu’alikum Wr. Wb.
Bandar Lampung , 30 September 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................... iii
DAFTAR ISI........................................................................................ v
BAB I 1.1 PENDAHULUAN ........................................................... 1
1.1
Latar belakang................................................................... 2
1.2
Rumusan masalah.............................................................. 2
1.3
Tujuan penulis....................................................................
BAB II ISI Pengambilan keputusan dalam manajemen...............
- Jenis- jenis keputusan dan masalah........................................... 3
- Model pengambilan keputusan................................................. 4
- Langkah- langkah dalam mengambil keputusan....................... 5
- Kerangka kerja keputusan pribadi............................................ 6
- Mengapa manajer mengambil keputusan salah......................... 7
- Pengambilan keputusan kelompok yang inovasi....................... 8
BAB III STUDI KASUS..................................................................
1. Kasus Kekecewaan Pelenggan Perusahaan Apple
Terhadap Penurunan
Harga Iphone ................................... 9
2.
DAFTAR PUSTAKA............................................................ 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Sebagian besar dari kita membuat keputusan secara otomatis tanpa
menyadari bahwa orang-orang memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam mengambil
keputusan, yang mereka bawa kedalam posisi masing-masing dalam sebuah
manajemen. Seorang manajer baru biasanya menerapkan perilaku yang berbeda dalam
mengambil keputusan dibandingkan dengan eksekutif berpengalaman. Seorang
manajer baru seringkali memulai dengan menerapkan perilaku yang
terang-terangan, tegas, dan berkesan memerintah tetapi secara bertahap berubah
menjadi lebih terbuka, dengan sudut pandang yang lebih beragam, dan interaksi
yang lebih sering dengan pegawai lainnya seiring makin tinggi jabatannya.
1.2
Rumusan Masalah
- Menjelaskan mengapa pengambilan keputusan adalah bagian yang penting dari manajemen yang baik
- Membahas perbedaan antara keputusan terprogram dan tidak terprogram, serta karakteristik keputusan dengan kepastian dan ketidakpastian
- Menggambarkan model ideal dan rasional dalam pengambilan keputusan dan model politik dalam pengambilan keputusan
- Menjelaskan proses bagaimana seorang manajer seharusnya mengambil keputusan dalam dunia kerja nyata
- Mengenali enam langkah dalam pengambilan keputusan dalam manajemen
- Menggambarkan empat gaya pengambilan keputusan pribadi yang dilakukan oleh manajer, dan menjelaskan kecenderungan-kecenderungan yang membuat manajer mengambil keputusan yang salah
- Mengenali dan menjelaskan teknik-teknik dalam pengambilan keputusan kelompok yang inovati
BAB II
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MANAJEMEN
JENIS-JENIS KEPUTUSAN DAN
MASALAHNYA
Sebuah keputusan (decision)
merupakan pilihan yang dibuat dari alternatif-alternatif yang ada. Pengambilan keputusan (decision making) adalah proses dalam mengenali masalah-masalah dan
peluang-peluang untuk kemudian dipecahkan. Pengambilan keputusan mengharuskan
adanya usaha baik sebelum ataupun sesudah dibuatnya pilihan yang nyata.
Keputusan yang Terprogram dan Tidak Terprogram
Keputusan-keputusan dalam manajemen biasanya dibagi kedalam dua
kategori : yang terprogram dan yang tidak terprogram. Keputusan yang terprogram (programmed
decision) berada dalam situasi yang telah sering muncul hingga
aturan-aturan dalam mengambil keputusan bisa dibuat dan diterapkan. Keputusan
yang terprogram dibuat untuk menjawab persoalan-persoalan organisasi yang kerap
kali terjadi.
Keputusan tidak terprogram (nonprogrammed decision)
diambil untuk menjawab situasi yang unik, sulit dikenali dan sangat tidak
terstruktur, serta membawa konsekuensi penting bagi organisasi. Sebagian besar
keputusan tidak terprogram berkaitan dengan perencanaan strategis karena
tingkat ketidakjelasannya yang tinggi dan keputusan-keputusan yang harus
diambil pun rumit.
Menghadapi Kejelasan dan Ketidakjelasan
Satu perbedaan utama antara keputusan terprogram dan keputusan tidak
terprogram ada dalam kaitannya dengan tingkat kejelasan dan ketidakjelasan yang
harus ditangani manajer dalam mengambil keputusan. Dalam dunia yang sempurna,
manajer akan memiliki semua informasi yang diperlukan untuk mengambil
keputusan. Namun pada kenyataannya, beberapa hal berada diluar pengetahuannya; karenanya
beberapa keputusan akan gagal memecahkan masalah tertentu atau gagal
mendapatkan hasil yang dikehendaki. Manajer akan mencoba mendapatkan informasi
tentang alternatif-alternatif dalam mengambil keputusan yang akan mengurangi
tingkat ketidakjelasan.
Setiap situasi saat pengambilan keputusan dapat diatur dalam sebuah
skala sesuai dengan ketersediaan informasi dan kemungkinan akan kegagalan.
Empat posisi dalam skala tersebut adalah kejelasan, risiko, ketidakjelasan, dan
ambiguitas. Sementara keputusan yang terprogram dapat dibuat dalam situasi yang
melibatkan kejelasan, sebagian besar situasi yang harus ditangani manajer
setiap hari terdiri atas setidaknya tingkat ketidakjelasan dan mengharuskan
adanya pengambilan keputusan yang tidak terprogram.
Kejelasan Kejelasan (certainty), artinya semua informasi yang
diperlukan oleh pihak pengambil keputusan telah tersedia secara menyeluruh.
Manajer mengetahui informasi tentang kondisi operasional, biaya dan
ketidakleluasaan sumber daya, dan setiap tindakan dan hasil yang mungkin
didapat.
Risiko Risiko (risk) artinya adalah
bahwa sebuah keputusan harus memiliki tujuan-tujuan yang jelas dan informasi
yang baik selalu tersedia, tetapi hasilnya di masa depan yang berhubungan
dengan setiap alternatif belumlah pasti. Namun, informasi yang cukup selalu
tersedia bagi kemungkinan diperkirakannya hasil yang sukses untuk setiap
alternatif. Analisi statistic dapat digunakan untuk menghitung kemungkinan
untuk mengalami kegagalan dan
keberhasilan. Pengukuran risiko akan mencegah peristiwa-peristiwa di masa depan
yang dapat menggagalkan alternative solusi yang di ambil.
Ketidakpastian
ketidakpastian (uncertainty),
artinya adalah bahwa manajer mengetahui tujuan mana yang ingin dicapainya,
tetapi informasi tentang alternatif-alternatif dan peristiwa di masa depan
tidaklah lengkap. Faktor-faktor yang
mungkin akan memengaruhi sebuah keputusan, seperti masalah harga, biaya
produksi, volume, dan suku bunga di masa yang akan dating, adalah persoalan
yang sulit untuk dianalisis dan diperkirakan.
Ambiguitas dan Konflik
Ambiguitas (ambiguity)
sekiranya adalah situasi paling sulit dalam pengambilan keputusan. Ambiguitas
berarti bahwa tujuan-tujuan yang akan dicapai atau permasalahan-permasalahan
yang hendak dipecahkan tidak jelas, alternatif-alternatif sangatlah sulit ditentukan, dan informasi
mengenai hasilnya nanti tidaklah tersedia
Situasi yang benar-benar ambigu dapat menciptkan apa yang terkadang
disebut dengan masalah keputusan yang
gagal. Keputusan yang gagal adalah keputusan yang mendatangkan konflik dan
bukan mencapai tujuan serta alternatif keputusan, membuat keadaan yang tidak
stabil, tidak memiliki informasi dan link yang jelas di antara unsur-unsur
penting dalam mengambil keputusan.
MODEL PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
Model yang Ideal dan Rasional
Model klasik (classical model) dalam
pengambilan keputusan didasarkan pada asumsi ekonomi rasional dan keyakinan
manajer tentang seperti apakah seharusnya pengambilan keputusan yang ideal itu.
Model klasik ini telah muncul dalam literature manaemen karena manajer
diharapkan untuk mengambil keputusan yang pantas secara ekonomi dan demi
kepentingan ekonomi perusahaan. Empat asumsi yang menggaris bawahi model ini
adalah sebagai berikut.
1. Pengambil
keputusan bekerja untuk mencapai tujuan-tujuan yang sudah diketahui dan
disepakati. Masalah-masalah harus dirumuskan dan ditentukan dengan tepat.
- Pengambil keputusan bekerja keras dalam kondisi ketidakpastian, dengan mengumpulkan informasi yang lengkap. Semua alternatif dan hasil yang mungkin didapatkan harus diperhitungkan.
- kriteria untuk mengevaluasi pilihan alternatif harus diketahui. Pengambil keputusan memilih alternative yang akan memaksimalkan laba bagi organisasi.
- Pengambil keputusan adalah orang yang rasional dan menggunakan logika untuk menetapkan nilai-nilai, membuat pilihan, mengevaluasi alternatif, dan mengambil keputusan yang akan memaksmalkan pencapaian tujuan organisasi.
Model klasik dalam mengambil keputusan dianggap sebagai model yang
normatif, yang berarti bahwa model ini menentukan bagaimana seorang pengambil
keputusan seharusnya mengambil keputusan. Model ini tidak benar-benar
menggambarkan bagaimana cara manajer mengambil keputusan, seperti dengan
memberikan panduan dalam mendapatkan keluaran yang ideal bagi perusahaan.
Pendekatan yang ideal dan rasional yang ada dalam model klasik ini sering kali
tidak mampu dilakukan oleh orang-orang di organisasi, tetapi model ini memiliki
nilai karena model ini membantu pengambil keputusan untuk lebih rasional dan
tidak sepenuhnya mengandalkan pilihan pribadi dalam mengambil keputusan. Model
klasik ini paling berguna jika diterapkan untuk keputusan terprogram dan untuk
keputusan-keputusan dengan kepastian dan risiko yang jelas dimana terdapat
informasi yang berhubungan dan kemungkinan-kemungkinan pun dapat
diperhitungkan.
Bagaimanakah Sebenarnya Manajer Mengambil Keputusan
Pendekatan lain yang digunakan dalam pengambilan keputusan, yang
disebut sebagai model administratif
(administrative model), dianggap
bersifat deskriptif (descriptive), yang artinya model ini menggambarkan
bagaimana manajer benar-benar melakukan pengambilan keputusan dalam situasi
yang kompleks, dan bukannya mendikte bagaimana manajer seharusnya mengambil
keputusan berdasarkan teori ideal. Model administrative mengenali keterbatasan
yang dimiliki manusia dan lingkungan yang memengaruhi tingkat rasionalitas
manajer dalam proses pengambilan keputusan. Dalam situasi situasi yang sulit,
seperti situasi yang dicirkan oleh pengambilan keputusan yang tidak terprogram,
ketidakpastian, dan ambiguitas, manajer biasanya tidak mampu membuat keputusan
yang rasional secara ekonomi bahkan jika sebenarnya ia menginginkan.
Rasional yang Terbatas dan Pemuasan, model administrtif dalam
pengambilan keputusan didasarkan pada karya Herbert A. Simon. Simon mengajukan
dua konsep yang dapat berperan dalam membentuk model administratif:
rasionalitas yang terbatas dan pemuasan. Rasionalitas yang terbatas (bounded
rationality) konsep bahwa manusia memiliki waktu dan kemampun kognitif untuk
memproses informasi dalam jumlah yang terbatas yang akan digunakannya dalam
mengambil keputusan. Pemuasan (satisficing) berarti bahwa seorang pengambil
keputusan memilih alternatif solusi pertama yang dapat memuaskan criteria
minimal dalam membuat sebuah keputusan yang baik, meskipun solusi yang lebih
baik bisa jadi akan terpikirkan nanti.
Model administratif mengandalkan asumsi yang berbeda dari
asumsi-asumsi pada model klasik dan model administratif ini berfokus pada
faktor_faktor d organisasi
yang memengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan individu.
Menurut model administratif:
1. Tujuan-tujuan
dari pengambilan keputusan sering kali tidak jelas, bertentangan dan kurang
adanya konsensus di antara para manajer.
- Prosedur rasional tidak selalu digunakan, dan ketika prosedur rasional digunakan, prosedur ini dibatasi hingga menjadi sebuah cara sederhana dalam memandang masalah yang tidak menangkap kompleksitas dari hal-hal yang sebenarnya terjadi dalam organisasi.
- Pencarian untuk menemukan alternatif yang dilakukan oleh manajer bersifat terbatas karena manusia, informasi, dan sumber daya pun bersifat terbatas.
- Sebagian besar manajer akhirnya melakukan pemuasan daripada mencari solusi yang paling baik, sebagian karena maanajer-manajer tersebut memiliki keterbatasan informasi dan sebagian lagi karena mereka hanya memiliki kriteria yang tidak jelas untuk mencari solusi yang paling baik.
Intuisi, aspek lainnya dari pengambilan keputusan dengan model
administratif adalah intuisi. Intuisi (intuition) adalah pemahaman yang cepat terhadap
situasi genting berdasarkan pengalaman di masa lalu tetapi tanpa pemikiran yang
sadar. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi tidaklah sewenang-wenang
atau tidak rasional karena didasarkan pada pengalaman aktif selama
bertahun-tahun yang memungkinkan manajer untuk menentukan solusi dengan cepat
tanpa harus melalui perhitungan yang sangat saksama.
Model Politik
Model pengambilan keputusan yang ketiga ini sangatlah berguna dalam
membuat keputusan yang tidak terprogram ketika situasinya tidak jelas,
informasinya terbatas, dan adanya konflik anatara manajer tentang tujuan yang
akan dicapai atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah koalisi (coalition)
adalah sebuah aliansi tidak resmi di anatara manajer-manajer yang medukung
sebuah tujuan tertentu. Pembangunan koalisi adalah proses pembentukan aliansi
di anatara manajer-manajer. Pembangunan koalisi memberikan kesempatan bagi
manajer-manajer untuk berkontribusi dalam
mengambil keputusan, dengan meningkatkan komitmen mereka pada
alternatif yang akhirnya mereka pilih. Model politik sangatlah mewakili
lingkungan politik yang asli dimana sebagian besar manajer dan para pengambil
keputusan bekerja. Keputusan adalah sesuatu yang kompleks dan melibatkan banyak
orang, informasi sering kali ambigu, dan ketidaksepakatan serta konflik di
setiap masalah dan juga solusi adalah hal yang biasa ada. Model politik dimulai
dengan empat asumsi dasar:
1. Organisasi
terdiri dari kelompok-kelompok dengan kepentingan, tujuan, dan nilai-nilai yang
beragam. Para manajer biasanya tidak sepakat
dalam menentukan prioritas masalah dan mungkin tidak mengerti atau memiliki
tujuan dan kepentingan yang sama dengan sesama manajer lain.
- Informasi sering kali ambigu dan tidak lengkap. Usaha untuk mengambil keputusan dengan rasional terbatasi oleh komplesitas banyak hal dan juga batasan-batasan yang dtang dari diri sendiri ataupun organisasi.
- Para manajer tidak memiliiki waktu, sumber daya, atau kapasitas mental untuk mengenali semua dimensi masalah dan memproses semua informasi yang relevan. Manajer saling berbincang satu sama lain dan bertukar pikiran guna mengumpulkan informasi dan mengurangi ambiguitas.
- Manaajer terlibat dalam perdebatan untuk memutuskan tujuan-tujuan dan mendiskusikan alternatif-alternatifnya. Keputusan adalah hasil tawar-menawar dan diskusi di antara anggota-anggota koalisi.
Ciri-ciri Model Pengambilan Keputusan Klasik, Administratif, dan
Politik
Model Klasik
|
Model Administratif
|
Model Politik
|
Permasalahan dan
tujuan yang jelas
|
Permasalahan dan
tujuan yang tidak jelas
|
Tujuan yang
banyak dan bertentangan
|
Kondisi dengan
kepastian
|
Kondisi dengan
ketidakpastian
|
Kondisi dengan
ketidakpastian/ambiguitas
|
Informasi yang
lengkap akan alternatif dan keluarannya
|
Informasi yang
terbatas akan alternatif dan keluarannya
|
Sudut pandang
yang tidak konsisten, informasi yang ambigu
|
Pilihan rasional
oleh individu untuk memaksimalkan keluaran
|
Pilihan pemuasan
untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan intuisi
|
Tawar-menawar
dan diskusi diantara anggota-anggota koalisi
|
LANGKAH-LANGKAH DALAM
MENGAMBIL KEPUTUSAN
Pengenalan Syarat-syarat
Sebuah Keputusan
Manajer menghadapi syarat-syarat dalam mengambil sebuah
keputusan dalam bentuk masalah maupun
peluang. Sebuah masalah (problem) muncul ketika pencapaian organisasi kurang
dari tujuan yang telah ditentukan. Ada
beberapa aspek dari kinerja bisnis yang tidak memuaskan. Sebuah peluang
(opportunity) muncul ketika manajer melihat pencapaian yang potensial yang
melebihi tujuan organisasi saat itu. Manajer melihat kemungkinan untuk
meningkatkan kinerja di atas kinerja kerja yang selama ini telah dilakukan.
Kesadaran akan masalah dan peluang merupakan langkah awal dalam rangkaian dan
menuntut adanya pengamatan terhadap lingkungan internal dan eksternal akan
persoalan-persoalan yang pantas diperhatikan oleh para eksekutif.
2)
DIAGNOSIS DAN ANALISIS SEBAB-AKIBAT
Diagnosis adalah langkah dalam proses
pengambilan keputusan di mana menejer nganalisis faktor-faktor sebab akibat
penting yang berhubungan dengan situasi penting.
Kepner dan Tregoe, ang melakukan penelitian ekstensif tentang penganbilan keputusan yang dilakukan manejer, menyarankan bahwa manejer menanyakan serangkaian pertanyaan untuk menspesifikasikan sebab-sebab penting. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan membantu mengenali apa yanh sebenarnya terjadi dan mengapa.
3) Pengembangan Alternatif
Tahap berikutnya adalah membuat solusi alternatif yang akan menjawab kebutuhan yang ada dan memperbaiki sebab-sebab yang mendasarinya. Untuk keputusan yang terprogram, alternatif-alternatif dapat dengan mudah dikenali dan bahkan biasanya sudah tersedia dalam peraturan dan prosedur organisasi.
Bagi keputusan-keputusan yang dibuat di bawah kondisi dengan ketidakpastian yang tinggi, manejer hanya dapat mengembangkan satu atau dua solusi yang akan bisa jadi pemuasan dalam mengatasi masalah. Namun, penelitian menunjukkan bahwa membatasi pencarian alternatif merupakan sebab utama gagalnya pengambilan keputusan di organisasi.
4) Pemilihan Alternatif yang Dikehendaki
Setelah beberapa alternatif berhasil di kembangkan, organisasi harus memilih satu alternatif. Pilihan keputusan adalah seleksi dari arah tindakan alternatif yang paling menjanjikan. Yang yerbaik adalah yang solusinya paling sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai keseluruhan organisasi, serta mencapai hasil yang dikehendaki dengan menggunakan sumber daya paling sedikit. Manejer mencoba menyeleksi pilihan dengan resiko dan ketidakpastian paling sedikit. Dikarenakan beberapa resiko selalu ada dalam keputusan yang tidak terprogram, manejer mencoba untuk mengukur prospek-prospek menuju sukses. Manejer dapat mengandalkan intuisi dan pengalaman untuk memperkirakan jika suatu arah tindakan sekiranya akan berhasil
Kepner dan Tregoe, ang melakukan penelitian ekstensif tentang penganbilan keputusan yang dilakukan manejer, menyarankan bahwa manejer menanyakan serangkaian pertanyaan untuk menspesifikasikan sebab-sebab penting. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan membantu mengenali apa yanh sebenarnya terjadi dan mengapa.
3) Pengembangan Alternatif
Tahap berikutnya adalah membuat solusi alternatif yang akan menjawab kebutuhan yang ada dan memperbaiki sebab-sebab yang mendasarinya. Untuk keputusan yang terprogram, alternatif-alternatif dapat dengan mudah dikenali dan bahkan biasanya sudah tersedia dalam peraturan dan prosedur organisasi.
Bagi keputusan-keputusan yang dibuat di bawah kondisi dengan ketidakpastian yang tinggi, manejer hanya dapat mengembangkan satu atau dua solusi yang akan bisa jadi pemuasan dalam mengatasi masalah. Namun, penelitian menunjukkan bahwa membatasi pencarian alternatif merupakan sebab utama gagalnya pengambilan keputusan di organisasi.
4) Pemilihan Alternatif yang Dikehendaki
Setelah beberapa alternatif berhasil di kembangkan, organisasi harus memilih satu alternatif. Pilihan keputusan adalah seleksi dari arah tindakan alternatif yang paling menjanjikan. Yang yerbaik adalah yang solusinya paling sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai keseluruhan organisasi, serta mencapai hasil yang dikehendaki dengan menggunakan sumber daya paling sedikit. Manejer mencoba menyeleksi pilihan dengan resiko dan ketidakpastian paling sedikit. Dikarenakan beberapa resiko selalu ada dalam keputusan yang tidak terprogram, manejer mencoba untuk mengukur prospek-prospek menuju sukses. Manejer dapat mengandalkan intuisi dan pengalaman untuk memperkirakan jika suatu arah tindakan sekiranya akan berhasil
5)
Penerapan Alternatif Terpilih
Tahap penerapan (implementation) adalah tahap di mana kemampuan manejerial, administratif, dan persuasif yang dimiliki seorang manejer akan digunakan untuk menjamin bahwa alternatif terpilih akan dijalankan. Keahlian dalam berkomunokasi, memotifasi, dan memimpin harus digunakan untuk mewujudkan keputisan ini dan menggerakkan para pegawai untuk lebih berkomitmen.
6) Evaluasi dan Umpan Balik
Pada tahap evaluasi, yang merupakan bagian proses pengambilan keputusan, para pengambil keputusan akan mendapatkan informasi tentang seberapa baiknya mereka menerapkan keputusan yang telah mereka ambil dan apakah penerapan ini efektif dalam mencapai tujuan mereka. Umpan balik adlah hal yang penting karena pengambilan keputusan adalah proses yang berkwlanjutan dantidak pernah berakhir.
Umpan balik memberikan informasi pada pengambil keputusan yang nantinya bisa membentuk siklus pengambilan keputusan yang baru. Keputusan yang diambil bisa saja gagal, karena manejer dapat menciptakan analisis permasalahan yang baru, mengevaluasi alternatif-alternatif, dan menyeleksi alternatif yang baru.
Tahap penerapan (implementation) adalah tahap di mana kemampuan manejerial, administratif, dan persuasif yang dimiliki seorang manejer akan digunakan untuk menjamin bahwa alternatif terpilih akan dijalankan. Keahlian dalam berkomunokasi, memotifasi, dan memimpin harus digunakan untuk mewujudkan keputisan ini dan menggerakkan para pegawai untuk lebih berkomitmen.
6) Evaluasi dan Umpan Balik
Pada tahap evaluasi, yang merupakan bagian proses pengambilan keputusan, para pengambil keputusan akan mendapatkan informasi tentang seberapa baiknya mereka menerapkan keputusan yang telah mereka ambil dan apakah penerapan ini efektif dalam mencapai tujuan mereka. Umpan balik adlah hal yang penting karena pengambilan keputusan adalah proses yang berkwlanjutan dantidak pernah berakhir.
Umpan balik memberikan informasi pada pengambil keputusan yang nantinya bisa membentuk siklus pengambilan keputusan yang baru. Keputusan yang diambil bisa saja gagal, karena manejer dapat menciptakan analisis permasalahan yang baru, mengevaluasi alternatif-alternatif, dan menyeleksi alternatif yang baru.
D.
KERANGKA KERJA KEPUTUSAN PRIBADI
Bagaimanapun, tidak semua manejer membuat keputusan dengan cara yang sama. Bahkan, perbedaan yang signifikan membedakan cara-cara yang digunakan manejer dalam melakukan pendekatan terhadap masalah dan mengambil keputusan terkait masalah tersebut. Perbedaan ini dapat dijelaskan dengan konsep gaya pengambilan keputusan (decision styles). Gaya pribadi pengambilan keputusan mengacu pada perbedaan di antara orang-orang yang berhubungan dengan cara mereka mengevaluasi masalah, pengembangan macam alternatif, dan membuat pilihan.
Empat gaya pengambilan keputusan :
Bagaimanapun, tidak semua manejer membuat keputusan dengan cara yang sama. Bahkan, perbedaan yang signifikan membedakan cara-cara yang digunakan manejer dalam melakukan pendekatan terhadap masalah dan mengambil keputusan terkait masalah tersebut. Perbedaan ini dapat dijelaskan dengan konsep gaya pengambilan keputusan (decision styles). Gaya pribadi pengambilan keputusan mengacu pada perbedaan di antara orang-orang yang berhubungan dengan cara mereka mengevaluasi masalah, pengembangan macam alternatif, dan membuat pilihan.
Empat gaya pengambilan keputusan :
a) Gaya direktif, digunakan oleh orang-orang yang lebih memilih solusi masalah yang
sederhana dan jelas. Maneger yang menggunakan gaya ini seringkali mengambil keputusan
dengan cepat, ia tidak mau beruruaan dengan banyak informasi san mungkin hanya
memperkirakan satu atau dua alternatif.
b) manejer dengan gaya
analisis sering mempertimbangkan solusi yang
kompleks bedasarkan data sebanyak mungkin yang dapat mereka kumpulkan.
Orang-orang seperti ini mempertimbangkan dengan hati-hati. Meraka mencari
keputusan terbaik yang mungkin ada berdasarkan informasi yang tersedia.
3) orang-orang yang
cenderung ke arah gaya
konseptual juga senang memperhatikan sejumlah besar informasi. Manejer yang
menggunakan cara ini selalu mempertimbangkan alternatif yang banyak ,
mengandalkan informasi baik dari orang-orang ataupun dari sistem, dan senang
menyelesaikan masalah dengan kreatif.
4. Gaya perilaku, adalah gaya yang digunakan oleh
manejer yang memiliki perhatian mendalam terhadap orang lain sebagai individu.
Orang dengan gaya
perilaku biasanya berhubungan dengan perkembangan pribadi orang lain dan dapat
membuat keputusan yang dapat membantu orang lain mencapai tujuan mereka.
MENGAPA MANAJER MENGAMBIL
KEPUTUSAN YANG SALAH?
Manajer dihadapkan pada tuntutan untuk selalu membuat keputusan,
mulai dari untuk menyelesaikan masalah kecil hingga menerapkan perubahan
strategi besar. Bahkan seorang manajer terbaik pun akan melakukan kesalahan.
Namun manajer dapat meningkatkan persentasinya dalam membuat keputusan yang
tepat dengan memahami beberapa factor
yang menyebabkannya membuat keputusan yang tidak tepat. Sebagian besar
keputusan yang tidak tepat adalah kesalahan penilaian yang berasal dari
kapasitas pikiran manusia yang terbatas dan dalam keberatsebelahan alami yang
diperlihatkan manajer selama proses pengambilan keputusan. Dengan menyadari
enam keberatsebelahan di bawah ini, manajer terbantu dalam membuat pilihan
lebih seksama.
1. Terpengaruh oleh kesan
pertama. Ketika sedang mempertimbangkan sebuah
keputusan, pikiran seringkali memberikan bobot yang tidak sesuai terhadap
informasi pertama yang diterimanya. Kesan, statistic, atau perhitungan pertama
ini bertindak sebagai jangkar bagi pemikiran dan penilaian kita selanjutnya.
- Membenarkan keputusan-keputusan yang lalu. Banyak manajer yang jatuh kedalam jebakan dengan membuat pilihan yang membenarkan keputusan-keputusannya yang lalu, bahkan jika keputusan-keputusan tersebut tidak lagi sah.
- Melihat apa yang ingin dilihat. Orang-orang seringkali mencari informasi yang mendukung insting dan sudut pandang yang mereka percaya dan menghindari informasi yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Keberatsebelahan ini akan selalu memengaruhi arah manajer dalam mencari informasi, juga bagaimana manajer tersebut mengartikan informasi yang ia temukan.
- Mempertahankan status quo. Manajer mungkin mendasarkan keputusannya pada apa yang telah berhasil di masa lalu dan gagal mengeksplorasi pilihan-pilihan baru, menggali informasi tambahan, atau menyelidiki teknologi-teknologi baru.
- Terpengaruh oleh kerangka masalah. Respons jkeputusan manajer dapat dipengaruhi oleh sekadar bagaimana masalah itu disampaikan dengan kata-kata.
- Terlalu percaya diri. Sebagian besar orang memandang terlalu tinggi terhadap kemampuannya dalam memperkirakan hasil yang tidak pasti. Sebelum mengambil keputusan, manajer memiliki ekspektasi yang tidak nyata akan kemampuannya untuk memahami risiko dan membuat pilihan yang tepat.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
KELOMPOK YANG INOVATIF
Kemampuan untuk membuat keputusan dengan cepat, baik, dan
berkualitas tinggi di atas dasar tertentu merupakan keahlian yang penting dalam
organisasi yang bergerak cepat saat ini. Dalam banyak industry, tingkat
perubahan persaingan dan perubahan teknologi sangatlah besar sehingga
peluang-peluang juga berlalu cepat, informasi yang jelas dan lengkap jarang
tersedia, dan harga yang harus dibayar karena lambatnya mengambil keputusan
adalah hilangnya bisnis atau jatuhnya perusahaan.
Mulailah dengan Curah Gagasan
Curah gagasan (brainstorming) mengharuskan adanya sekelompok orang
yang berkumpul secara langsung untuk memberikan alternatif-alternatif dengan
cakupan yang sangat luas secara spontan untuk melakukan pengambilan keputusan.
Kunci untuk melakukan curah gagasan yang efektif adalah bahwa setiap orang
dapat mengembangkan ide milik orang lain, semua ide dapat diterima, meskipun
ide tersebut kedengaran gila, serta kritik dan evaluasi tidaklah boleh
disertakan. Tujuan dari curah gagasan adalah untuk mengumpulkan ide sebanyak
mungkin.
Sebuah pendekatan baru-baru ini, yaitu pendekatan brainstorming
elektronik, memanfaatkan pendekatan kelompok sekaligus menghilangkan beberapa
kekurangannya. Curah gagasan elektronik (electronic brainstorming), yang
terkadang disebut brainwriting, mempersatukan orang-orang dalam sebuah kelompok
interaktif melalui jaringan computer.
Teribat dalam Perdebatan yang Sengit
Kunci yang penting dalam membuat keputusan yang lebih baik adalah dengan
melakukan perdebatan yang sengit mengenai permasalahan yang ada. Manajer yang
baik mengakui bahwa konflik yang bersifat membangun yang berdasarkan pada
pemikiran yang beragam dapat memfokuskan suatu masalah, membuat ide menjadi
jelasm memicu pemikiran kreatif, menciptakan pemahaman terhadap masalah dan
menciptakan alternative-alternatif, secara meningkatkan kualitas keputusan yang
akan
di ambil. Perdebatan yang sengit dapat dipicu dengan bebrapa cara.
Salah satu caranya adalah dengan meyakinkan diri bahwa suatu kelompok itu
memiliki perbedaan usia dan jenis kelamin, bidang keahlian, tingkatan hierarki,
dan pengalaman kerja. Sebagian dari anggota kelompok bertugas sebagai pengacara
jahat (devil’s advocate), yaitu pihak yang berperan sebagai pihak yang meregukan
suatu perkiraan atau penegasan yang dibuat oleh kelompok tersebut. Pihak yang
menjadi pengacara jahat dapat membuat kelompoknya berpikir ulang mengenai
pendekatan yang di pakainya dalam menyelesaikan masalah dan menghindarkan
kelompoknya dari ketergesaan dalam menyimpulkan sesuatu. Pendekatan yang
lainnya adalah dengan membuat para anggota kelompok mengembangkan alternative
sebanyak mungkin dan mendorong orang-orang untuk menyampaikan ide yang tidak
mereka
kehendaki dengan tujuan untuk memancing perdebatan. Namun, cara lain
untuk mendorong terjadinya konflik yang bersifat membangun adalah dengan
menggunakan teknik yang disebut balas-membalas (point-counterpoint), yang
memecah kelompok menjadi dua subkelompok dan memberikan tanggung jawab yang berbeda
dan seringkali bertentangan pada kedua subkelompok tersebut. Kedua subkelompok
tersebut kemudian mengembangkan dan bertukar pikiran serta membahas dan
memperdebatkan berbagai pilihan hingga mereka sampai pada hingga
mereka sampai pada pemahaman dan rekomendasi bersama.
Hindari Groupthink
Groupthink adalah kecenderungan anggota kelompok untuk tidak
mengutarakan opini-opini yang bertentangan. Ketika para anggota kelompok jatuh
kedalam groupthink, hasrat untuk selalu harmonis mengalahkan pertimbangan untuk
mendapatkan keputusan yang berkualitas. Anggota kelompok lebih mementingkan
menjaga persatuan daripada meragukan permasalahan dan alternative secara
realistis. Para anggota kelompok menyaring
opini pribadinya dan segan member kritik pada opini orang lain.
Tahu Kapan Harus Gagal
Dalam lingkungan yang bergerak cepat, manajer yang baik akan berani
mengambil risiko dan belajar dari kesalahan, tetapi manajer yang baik juga
tidak ragu untuk menghentikan hal yang tidak akan berhasil. Penelitian telah
menemukan bahwa manajer dan organisasi sering kali terus memberikan waktu dan
uang untuk sesuatu yang sudah terbukti akan gagal. Kecenderungan ini dianggap
sebagai komitmen ekskalasi (escalating commitment).
Stadi kasus
Kasus Kekecewaan Pelenggan Perusahaan
Apple Terhadap Penurunan Harga Iphone
Pada tanggal 5
Septembe 2007, Steve Jobs, CEO Perusahaan Apple melakukan praktek diskriminasi
harga sebagai strategi pemasarannya yaitu menurunkan harga product iPhone
mereka yang sangat sukses sejumlah $200 dari harga semula sebesar $599 yang
merupakan harga perkenalan yang sudah sejak dua bulan. Tak perlu
dibicarakan,
dia menerima email yang sangat banyak dari para pelanggan yang kecewa dan
marah. Dua hari kemudian, Steve Jobs menawarkan $100 kredit yang dapat di
gunakan di toko Apple dan online store kepada para pelanggan yang sudah
membayar harga penuh. Apakah keputusan untuk mengurangi $200 dan sikap untuk
melakukannya tepat dari sudut pandang etika?
Seandainya
pihak management Apple melakukan sniff test sebelum mengambil
keputusan mungkin mereka memiliki kesimpulan bahwa ibu mreka tidak akan bangga
atau nyaman dengan keputusan tersebut. Sama halnya, mungkin mereka akan sadar
bahwa pengurangan harga juga bertentangan dengan kode etik pelayanan pelanggan
Apple.
Jika Apple
hanya melihat dari sisi pemegang saham dalam mengambil keputusan tersebut,
mereka akan sadar selain pelanggan awal yang terkena imbas, perusahaan Apple
sendiri ternoda dan itu bisa juga berimbas terhadap pelanggan lain yang mereka
coba untuk dekati. Sebagai tambahan, para pekerja Apple yang mana banyak
diantara
mereka sudah
tergoda oleh reputasi Apple yang kuat yang selalu menyediakan solusi yang
inovatif dengan standar tinggi akan dipertanyakan oleh company mothers, yang
mana akan melemahkan komitmen dan kesetiaan mereka.
Seandainya
pihak perusahan Apple sudah menerapkan philosophi etika traditional mereka akan
mengetahui hal hal berikut.
1. Konsekuensialisme
Dari sisi
pandang keuntungan, Apple mengharapkan lebih dari sekedar pengimbangan
dari $200 pengurangan harga per unit in margin dan mendapatkan jumlah penjualan
yang besar. Jika hanya untukk iPhone saja mungkin cara ini sudah tepat,
tapi Apple juga memiliki banyak produk lain yang juga akan dibeli oleh
pelanggan mereka yang juga bisa terkenda dampak negatifnya. Dan juga melihat
keputusan tersebut sebagai kesempatan untuk pengurangan harga dari harga awal
yang tinggi. Sikap GOUGING sudah
bisa di tebak yang mana akan merusak nilai proposisi apple secara keseluruhan
dan juga penjualan produk selain iPhone akan
terpengaruh
sebagai dampak dari keputusan tersebut. Secara umum, pihak management
mungkin yakin dengan keputusan penggabungan untuk penjualan iPhone dan
produk lainnya.
2. Tugas, Hak dan Justice Para excecutive Apple mempunyai tugas untuk mendapatkan keuntungan selama hal tersebut
tidak melanggar hukum. Dalam kasus ini, para pembeli awal iPhone memiliki hak
secara legal untuk menuntut perusahaan dengan alasan perlakuan yang tidak
adil. Namun, aksi individual akan lebih sedikit dari pada class action.
Dampak dari ketidakadilan pengurangan harga dapat berupa tekanan buruk yang
signifikan.
3. Kualitas Bagus yang Diharapkan
Dalam pikiran
pelanggan dan pekerja pada perusahaan Apple, Jobs mempunyai image secara teknis
sebagai jenius yang berpandangan jauh ke depan yang terarah untuk menyediakan
nilai yang hebat bagi stakeholder. Penurunan harga $200 tidak sesuai dengan
harapan mereka pada Jobs dan Apple.
Apple
seharusnya juga menggunakan pertanyaan “Tucker
Framework” yang dikembangkan dan dimodifikasi untuk menguji penurunan harga
$200. Jika begitu adanya, jawabannya adalah sebagai berikut:
- Apakah hal ini menguntungkan? Hasilnya tidak jelas apakah menguntungkan atau tidak.
- Apakah hal ini legal? Mungkin, kecuali perlindungan konsumen tidak disinggung.
- Apakah hal ini adil? Tidak menurut beberapa pelanggan dan pekerja.
- Apakah hal ini benar? Tidak menurut beberapa eksekutif, pekerja, dan pelanggan potensial.
- Apakah hal ini mendemonstrasikan kualitas bagus yang diharapkan? Tidak seperti yang didiskusikan sebelumnya.
- Pertanyaan opsional: Apakah ini berkelanjutan? Isu dampak terhadap lingkungan tidak dilibatkan dalam keputusan ini, tapi akan berdampak
- negative dan signifikan jangka menengah dan jangka yang lebih panjang. Sangat tidak bijak untuk mengulang keputusan atau mengabaikan dampak negatif di masa depan yang berpengaruh terhadap reputasi.
Sewajarnya,
Apple harus mempertimbangkan praktek diskriminasi harga sebagai strategi
pemasaran sebagai ketidakadilan dan ketidakbijakan tanpa adanya mitigasi bagi
pembeli awal iPhone. Apakah pemberian kredit $100 memadai? Dalam peristiwa
apapun, Jobs dapat menghindari tekanan negatif dan kerusakan pada reputasinya
dan
Apple, jika
Apple telah menggunaka EDM untuk menganalisa keputusan sebelum bertindak.
Hal ini harus
menjadi catatan bahwa meskipun potongan harga yang disebutkan pada kasus ini
tidak jarang dan dianggap tidak umum sebagai masalah etika serius, mereka
mempunyai aspek etis yang bisa dinilai menggunakan pendekatan EDM. Mereka merepresentasikan
risiko yang dapat melemahkan reputasi eksekutif dan perusahaan yang terlibat.
REVIEW/
tinjauan :
Dalam
pengambilan keputusan, eksekutif maupun CEO suatu perusahaan perlu
mempertimbangkan pendekatan etis pengambilan keputusan yaitu:
Consequences,
Utility
Duty, Rights,
Justice
Virtue
Expectations
Jika dijabarkan
ketiganya, dapat dikatakan pertimbangan-pertimbangan dari ketiga pendekatan
antara lain:
1. Well-offness/ Consequentialism :
Keputusan yang kan dibuat harus
menghasilkan keuntungan lebih dari biaya yang dikeluarkan. Dalam kasus Apple,
tidak jelas apakah keputusan pengurangan harga menghasilkan keuntungan yang
lebih besar dari biaya yang dikeluarkan atau sebaliknya.
2. Rights, Duty/ Deontology
Keputusan yang
akan dibuat seharusnya tidak menyinggung hak daripada stakeholder termasuk
pembuat keputusan. Menurut perusahaan, perusahaan telah membuat keputusan yang
benar. Akan tetapi ada pihak-pihak yang merasa mereka tidak diperlakukan dengan
adil dan bijak atas keputusan yang dibuat perusahaan yakni pelanggan awal yang
membeli produk perusahaan tersebut dengan harga tinggi.
3. Fairness/ Justice
Pembagian
keuntungan dan beban harus adil. Menurut beberapa pelanggan dan pekerja, ada
ketidakadilan dalam keputusan yang diambil oleh perusahaan.
4. Virtue Expectations/ Virtue Ethics
Motivasi
keputusan harus merefleksikan kualitas bagus yang diharapkan stakeholder. Bayak
pelanggan merasa kecewa dengan keputusan ini. Artinya, keputusan yang diambil
sama sekali tidak merefleksikan kualitas bagus yang diharapkan.
Empat
pertimbangan di atas harus memuaskan orang yang terkena dampak keputusan
tersebut agar keputusan dapat dipertimbangkan sebagai keputusan yang etis.
Namun, jika
dilihat dari kasus perusahaan Apple yang dikaitkan dengan pertimbangan di atas,
lebih banyak dampak negatif yang dirasakan dari keputusan tersebut. Artinya,
keputusan yang diambil oleh perusahaan Apple belum cukup etis.
Jika dilihat dari pendekatan tradisional dengan 5
pertanyaan, yakni:
- Apakah hal ini menguntungkan? Hasilnya tidak jelas apakah menguntungkan atau tidak seperti yang didiskusikan sebelumnya.
- Apakah hal ini legal? Mungkin, kecuali perlindungan konsumen tidak disinggung.
- Apakah hal ini adil? Tidak menurut beberapa pelanggan dan pekerja.
- Apakah hal ini benar? Tidak menurut beberapa eksekutif, pekerja, dan pelanggan potensial.
- Apakah hal ini mendemonstrasikan kualitas bagus yang diharapkan? Tidak seperti yang didiskusikan sebelumnya.
- Pertanyaan opsional: Apakah ini berkelanjutan? Isu dampak terhadap lingkungan tidak dilibatkan dalam keputusan ini, tapi akan berdampak negative dan signifikan jangka menengah dan jangka yang lebih panjang.
- Sangat tidak bijak untuk mengulang keputusan atau mengabaikan dampak negatif di masa depan yang berpengaruh terhadap reputasi.
Menurut teori,
jika terdapat lebih dari satu respon negative ketika lima pertanyaan tersebut diajukan, pe,buat
keputusan seharusnya merevisi kembali keputusan yang akan diambil untuk
menghapus dampak-dampak negative yang akan timbul. Jika revisi keputusan
berhasil dan mengarah kea rah positif, maka keputusan yang diambil pun menjadi
keputusan yang etis,
Jika dilihat
dari kasus perusahaan Apple, terdapat lebih dari satu respon negative atas
pertanyaan yang diajukan. Dapat disimpulkan bahwa keputusan yang diambil oleh Apple
bukanlah suatu keputusan yang etis.
DAFTAR PUSTAKA
Daft
.Richard L 2010, Era Baru Manajemen
Stiven Robin, Salemba empat.Jakarta


