18.14
Asal Usul Bani Umayyah Nama Umayyah merujuk pada seorang Quraisy di masa Jahiliyah. Dia adalah Umayyah bin Abdus Syam bin Abdi Man...
Bani Umayyah
Bani Umayyah
Bani Umayyah
by
Unknown
18.14
Asal Usul Bani Umayyah
Pada masa Muhammad diangkat sebagai Rasul Allah, Bani Umayyah merupakan
keluarga kaya, terdidik dan berpengaruh. Salah satu dari mereka adalah pemimpin
Kaum Quraisy Mekkah. Dia adalah Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Kecintaannya
kepada harta dan kekuasaan membuat dia dan keluarganya tidak mau mengakui kebenaran
Islam sebagai ajaran yang mulia. Oleh karena itu, Abu Sufyan tidak mau tunduk
terhadap ajakan Rasulullah SAW, bahkan terus memusuhi. Aktivitas dakwah Rasulullah
SAW yang
dianggapnya akan mengubah keadaan sosial, ekonomi, dan politik Mekkah, tentu
merugikan para orang kaya, termasuk Bani Umayyah. Untuk itu,
berbagai cara dilakukan guna menggagalkan gerakan reformasi yang dibangun
Rasulullah SAW tersebut. Sampai-sampai, cara-cara kekerasan (perang) pun mereka
lakukan. Tercatat beberapa perang besar (Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang
Khandaq) pasca hijrah, melibatkan kepemimpinan Abu Sufyan.
Abu Sufyan dan keluarga, akhirnya masuk Islam dengan terpaksa pada saat
berpuluh-puluh ribu kaum Muslimin mengepung Mekkah dari segala penjuru. Walapun
banyak sahabat tidak suka terhadap masuk Islamnya keluarga Abu Sufyan,
Rasulullah SAW tetap menghormati perubahan sikapnya. Kesalahan-kesalahannya
diampuni, bahkan Muawiyah putra Abu Sufyan diangkat sebagai sekretaris beliau
dan saudara perempuannya, Ummu Habibah diperistri oleh Beliau. Setelah beberapa
tahun bergabung sebagai kaum Muslimin, keluarga terdidik dan berpengaruh ini
ikut membesarkan Islam. Di masa Abu Bakar Sidiq, keluarga Abu Sufyan dan Bani
Umayyah merasa rendah diri karena kelas mereka berada di bawah kaum Muhajirin
dan Ansar. Mereka tahu diri bahwa perjuangan mereka belum apa-apa dibanding
dengan kedua kaum di atas. Apalagi di masa dahulu, mereka memusuhi perjuangan
Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, mereka maklum ketika
Khalifah Abu Bakar menyatakan di depan umum bahwa keluarga besar Bani Umayyah
harus ikut berjuang membela Islam termasuk di medan perang, bila ingin
setingkat dengan kaum Muhajirin dan Ansar. Beberapa peperangan yang terjadi di
masa Abu Bakar ini anggota Bani Umayyah ikut serta dibarisan kaum Muslimin.
Bahkan, Yazid bin Abu Sufyan menjadi salah satu panglima untuk memimpin pasukan
ke Syiria melawan Bizantium.
Kemajuan Islam di masa Daulah Umayyah meliputi
berbagai bidang, yaitu politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, seni dan
budaya. Di antaranya yang paling spektakuler adalah bertambahnya pemeluk Agama
Islam secara cepat dan meluas. Semakin banyaknya jumlah kaum Muslimin ini
terkait erat dengan makin luasnya wilayah pemerintahan Islam pada waktu itu.
Pemerintah memang tidak memaksakan penduduk setempat untuk masuk Islam,
melainkan mereka sendiri yang dengan rela hati tertarik masuk Islam. Akibat
dari makin banyaknya orang masuk agama Islam tersebut maka pemerintah dengan
gencar membuat program pembangunan Masjid di berbagai tempat sebagai pusat
kegiatan kaum Muslimin. Pada masa Khalifah Abdul Malik, masjid-masjid didirikan
di berbagai kota besar. Selain itu, beliau juga memperbaiki kembali tiga Masjid
utama umat Islam, yaitu Masjidil Haram (Mekkah), Masjidil Aqsa (Yerusalem) dan
Masjid Nabawi (Madinah). Al-Walid, Khalifah setelah Abdul Malik yang ahli
Arsitektur, mengembangkan Masjid sebagai sebuah bangunan yang indah. Menara
Masjid yang sekarang ada dimana-mana itu pada mulanya merupakan gagasan
Al-Walid ini. Perhatian pada Masjid ini juga dilakukan oleh Khalifah-Khalifah
Bani Umayyah setelahnya.
Perkembangan lain yang menggembirakan adalah makin meluasnya pendidikan Agama
Islam. Sebagai ajaran baru, Islam sungguh menarik minat penduduk untuk
mempelajarinya. Masjid dan tempat tinggal ulama merupakan tempat yang utama
untuk belajar agama. Bagi orang dewasa, biasanya mereka belajar tafsir
Al-Quran, hadist, dan sejarah Nabi Muhammad SAW. Selain itu, filsafat juga
memiliki penggemar yang tidak sedikit. Adapun untuk anak-anak, diajarkan baca
tulis Arab dan hafalan Al-Quran dan Hadist. Pada masa itu masyarakat sangat
antusias dalam usahanya untuk memahami Islam secara sempurna. Jika pelajaran Al-Quran,
hadist, dan sejarah dipelajari karena memang ilmu yang pokok untuk memahami
ajaran Islam, maka filsafat dipelajari sebagai alat berdebat dengan orang-orang
Yahudi dan Nasrani yang waktu itu suka berdebat menggunakan ilmu filsafat.
Sedangkan ilmu-ilmu lain seperti ilmu alam, matematika, dan ilmu social belum
berkembang. Ilmu-ilmu yang terakhir ini muncul dan berkembang denga baik pada
masa dinasti Bani Abbasiyah maupun Bani Umayyah Spanyol.
Bidang seni dan budaya pada masa itu juga mengalami perkembangan yang maju.Karena ajaran Islam lahir untuk menghapuskan perbuatan syirik yang menyembahberhala, maka seni patung dan seni lukis binatang maupun lukis manusia tidakberkembang. Akan tetapi, seni kaligrafi, seni sastra, seni suara, senibangunan, dan seni ukir berkembang cukup baik. Di masa ini sudah banyakbangunan bergaya kombinasi, seperti kombinasi Romawi-Arab maupun Persia-Arab.Apalagi, bangsa Romawi dan Persia sudah memiliki tradisi berkesenian yangtinggi. Khususnya dalam bidang seni lukis, seni patung maupun seni arsitekturbangunan. Contoh dari perkembangan seni bangunan ini, antara lain adalahberdirinya Masjid Damaskus yang dindingnya penuh dengan ukiran halus dandihiasi dengan aneka warna-warni batu-batuan yang sangat indah. Perlu diketahuibahwa untuk membangun Masjid ini, Khalifah Walid mendatangkan 12.000 orang ahlibangunan dari Romawi. Tetapi di antara kemajuan-kemajuan yang terjadi pada masaDaulah Bani Umayyah tersebut, prestasi yang paling penting danberpengaruh hingga zaman sekarang adalah luasnya wilayah Islam. Dengan wilayahyang sedemikian luas itu ajaran Islam menjadi cepat dikenal oleh bangsa-bangsalain, tidak saja bangsa Arab.