Pernahkah anda
memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah
diciptakan dari sebuah ketiadaan?
Pernahkan anda
berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh
dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?
Pernahkan anda
memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda,
mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak
mampu melihatnya?
Pernahkan anda
berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon
dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus
daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?
Pernahkan anda
berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda
sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata
dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan
segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?
Pernahkan anda
berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi
semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan,
kesehatan dan kekuatan anda?
Pernahkan anda
memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan
datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?
Jika demikian,
pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan
dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka
jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di
akhirat?
Manusia adalah
makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir.Namun sayang, kebanyakan mereka
tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya.Bahkan
pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.
Sebenarnya, setiap
orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak
menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta
yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di
hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan
berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari
bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya
semaksimal mungkin.
Buku ini ditulis
dengan tujuan mengajak manusia "berpikir sebagaimana mestinya" dan
mengarahkan mereka untuk "berpikir sebagaimana mestinya".Seseorang
yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah
kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan
mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia.
Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana
dinyatakan dalam Al-Qur'an:
"Dan Kami tidak
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan
bermain-main.Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)
"Maka apakah
kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja),
dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu’minuun,
23:115)
Oleh karena itu, yang
paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang
ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia
lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai
selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui
kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung
jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah
terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia
akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:
"Dan pada hari
itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan
tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.Dia mengatakan, "Alangkah
baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini."
(QS. Al-Fajr, 89:23-24)
Padahal Allah telah
memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk
kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita
renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai
bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh
manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan
merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:
"Dan mengapa
mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan
langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan
yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara
manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya."(QS. Ar-Ruum, 30: 8)
Berpikir Secara Mendalam
Banyak yang beranggapan bahwa untuk "berpikir secara mendalam",
seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri
di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada.
Sungguh, mereka telah menganggap "berpikir secara mendalam" sebagai
sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan
ini hanyalah untuk kalangan "filosof".
Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan
manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa
Al-Qur'an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah
supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29).
Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara
ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam
akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung
arti "ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam
kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan". Kelalaian manusia yang
tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan
tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan
hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka.
Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk
dalam golongan orang-orang yang lalai:
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan
rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 205)
"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika
segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak
(pula) beriman." (QS. Maryam, 19: 39)
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara
sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang
menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa
orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa
berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam
kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan
menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman
kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan
aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini
sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya,
jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka
apakah kamu tidak ingat?"
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya
'Arsy yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka
apakah kamu tidak bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala
sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari
(adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau
demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan
sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta." (QS.
Al-Mu’minuun, 23: 84-90)
Berpikir dapat membebaskan seseorang daribelenggu sihir
Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, "…maka dari jalan
manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai
makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh.
Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah
lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak
melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang
benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran
yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk
memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu
melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan
masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama
ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah
menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.
Pengaruh sihir yang
bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:
Dibawah permukaan
bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi
sangatlah tipis.Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah
sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti
bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah
telapak kaki kita!
Setiap orang
mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu
yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini
dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis
artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka
di universitas tidak juga memikirkannya.
Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini.
Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal
sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di
sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah
kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah
tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan
berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung
meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah
diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang
mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang
angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar
dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat
berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin
meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.
Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di
tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan
berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang
sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan
nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah
sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia
tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim
keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak
menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan
segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya
dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna
dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.
Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan
contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi
contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana "kondisi
lalai" dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan
kemampuan akalnya.
Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat
cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan
pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia
tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang
terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya
sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera
menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini
membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang
mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim
panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus,
tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan
dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya,
daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka
memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.
Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah
itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal.
Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka,
tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena
hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya
alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah
sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan
merenung.
Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara
berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat
kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana
yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur'an :
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka
Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu
pada hari itu amat tajam." (QS. Qaaf, 50: 22)
Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau
berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari
alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di
akhirat.
Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara
sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan
melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata
sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta
melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam
kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar
kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri
dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan
memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun
akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.
Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun
Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus.
Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya,
ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri
pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang.
Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang
berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang
berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan
orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara
mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang
ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis,
bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat
sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit
mendalam, ia akan teringat bahwa:
Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya
berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan
dan ke Maha Besaran Allah.
Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat
tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak
seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang
jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap
individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang
membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap
manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan,
bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya,
menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia.
Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia
tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di
kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun.
Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun
dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini,
seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika kita
semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia
bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini?
Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk
kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan
seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"
Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang
berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia
pikirkan.
Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang
terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang anda pikirkan
saat ini?", maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala
sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan
banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga "berpikir"
hal-hal yang "bermakna", "penuh hikmah" dan
"penting" setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat
tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan
dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil
pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali
‘Imraan, 3: 190-191).
Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah
mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari
ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.
Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkandiri kepada Allah
Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan
kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif.
Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik
dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada
fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia
merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki
Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya
bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna.
Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan
akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan
orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada
Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal
serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk
mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir
yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.
Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan
perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat,
masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari
apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang
hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an :
"Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan
menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang
yang kembali (kepada Allah)." (QS. Ghaafir, 40: 13).
Hal-hal Yang Hendaknya
Dipikirkan
Sejak awal, kami telah menekankan pentingnya berpikir, manfaat-manfaatnya
bagi manusia dan sarana yang membedakan manusia dari makhluk lain. Kami telah menyebutkan
pula sebab-sebab yang menghalangi manusia dari berpikir. Semua ini mempunyai
tujuan utama mendorong manusia untuk berpikir dan membantu mereka mengetahui
tujuan penciptaan dirinya; serta agar manusia mengagungkan ilmu dan kekuasaan
Allah yang tak terbatas.
Di halaman-halaman berikutnya, kami akan mencoba menjelaskan bagaimana
orang yang beriman kepada Allah berpikir tentang segala sesuatu yang
dijumpainya sepanjang hari dan mendapatkan pelajaran dari peristiwa-peristiwa
yang ia saksikan; bagaimana ia seharusnya bersyukur dan menjadi semakin dekat
kepada Allah setelah menyaksikan keindahan dan ilmu Allah di segala sesuatu.
Sudah pasti apa yang disebutkan di sini hanya mencakup sebagian kecil dari
kapasitas berpikir seorang manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk setiap
saat (dan bukan setiap jam, menit atau detik, tapi satuan waktu yang lebih
kecil dari itu, yakni setiap saat) dalam hidupnya. Ruang lingkup berpikir
manusia sedemikian luasnya sehingga tidak mungkin untuk dibatasi. Oleh karena
itu, uraian di bawah ini bertujuan untuk sekedar membukakan pintu bagi mereka
yang belum menggunakan sarana berpikir mereka sebagaimana mestinya.
Perlu diingat bahwa hanya mereka yang berpikir secara mendalam lah yang
mampu memahami dan berada pada posisi lebih baik dibandingkan makhluk lain.
Mereka yang tidak dapat melihat keajaiban dari peristiwa-peristiwa di
sekitarnya dan tidak dapat memanfaatkan akal mereka untuk bepikir adalah
sebagaimana diceritakan dalam firman Allah berikut:
"Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah
seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain
panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu)
mereka tidak mengerti." (QS. Al-Baqarah, 2: 171)
"… Mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang
lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 179)
"Atau apakah
kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu
tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
jalannya (dari binatang ternak itu)." (QS. Al-Furqaan, 25: 44)
Hanya mereka yang mau
berpikir yang mampu melihat dan kemudian memahami tanda-tanda kebesaran Allah,
serta keajaiban dari obyek dan peristiwa-peristiwa yang Allah ciptakan.Mereka
mampu mengambil sebuah kesimpulan berharga dari setiap hal, besar ataupun
kecil, yang mereka saksikan di sekeliling mereka.
Ketika seseorang
bangun dari tidurnya di pagi hari…
Tidak diperlukan
kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir.Bahkan bagi orang yang
baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali hal-hal yang
dapat mendorongnya berpikir.
Terpampang sebuah
hari yang panjang dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari pembaringannya
di pagi hari.Sebuah hari dimana rasa capai atau kantuk seakan telah sirna.Ia
siap untuk memulai harinya. Ketika berpikir akan hal
ini, ia teringat sebuah firman Allah:
"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur
untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." (QS. Al-Furqaan, 25:
47)
Setelah membasuh muka
dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga dan berada dalam kesadarannya secara
penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir tentang berbagai
persoalan yang bermanfaat untuknya. Banyak hal lain yang lebih penting untuk
dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa yang dipunyainya untuk sarapan
pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari rumah. Dan pertama kali ia harus
memikirkan tentang hal yang lebih penting ini.
Pertama-tama, bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah sebuah
keajaiban yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali
sewaktu tidur, namun di keesokan harinya ia kembali lagi kepada kesadaran dan
kepribadiannya. Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas, berbicara dan melihat.
Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan
kembali seperti sediakala di pagi harinya. Tidak pula ia mengalami musibah
apapun malam itu. Misalnya, kealpaan tetangga yang tinggal di sebelah rumah
dapat menyebabkan kebocoran gas yang dapat meledak dan membangunkannya malam
itu. Sebuah bencana alam yang dapat merenggut nyawanya dapat saja terjadi di
daerah tempat tinggalnya.
Ia mungkin saja mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai contoh, bisa
saja ia bangun tidur dengan rasa sakit yang luar biasa pada ginjal atau
kepalanya. Namun tak satupun ini terjadi dan ia bangun tidur dalam keadaan
selamat dan sehat. Memikirkan yang demikian mendorongnya untuk berterima kasih
kepada Allah atas kasih sayang dan penjagaan yang diberikan-Nya.
Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa
Allah kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya
untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih baik di akhirat.
Ingat akan semua ini, maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan
waktu di hari itu dengan cara yang diridhai Allah. Sebelum segala sesuatu yang
lain, seseorang pertama kali hendaknya merencanakan dan sibuk memikirkan
hal-hal semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan keridhaan Allah adalah dengan
memohon kepada Allah agar memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi
Sulaiman adalah tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman:
"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang
telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk
mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu
ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh" (QS. An-Naml, 27 : 19)
Bagaimana kelemahan
manusia mendorong
seseorang untuk berpikir?
Tubuh manusia yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat
mendorong manusia untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan
menggosok gigi. Sadar akan hal ini, ia pun merenungkan tentang
kelemahan-kelemahannya yang lain. Keharusannya untuk mandi setiap hari,
penampilannya yang akan terlihat mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh
kulit ari, dan ketidakmampuannya menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya
adalah bukti-bukti tentang kelemahan dirinya.
Bagi orang yang telah berusia lanjut, bayangan dirinya di dalam cermin
dapat memunculkan beragam pikiran dalam benaknya. Ketika menginjak usia dua
dekade dari masa hidupnya, tanda-tanda proses penuaan telah terlihat di
wajahya. Di usia yang ketigapuluhan, lipatan-lipatan kulit mulai kelihatan di
bawah kelopak mata dan di sekitar mulutnya, kulitnya tidak lagi mulus
sebagaimana sebelumnya, perubahan bentuk fisik terlihat di sebagian besar
tubuhnya. Ketika memasuki usia yang semakin senja, rambutnya memutih dan
tangannya menjadi rapuh.
Bagi orang yang berpikir tentang hal ini, usia senja adalah peristiwa yang
paling nyata yang menunjukkan sifat fana dari kehidupan dunia dan mencegahnya
dari kecintaan dan kerakusan akan dunia. Orang yang memasuki usia tua memahami
bahwa detik-detik menuju kematian telah dekat. Jasadnya mengalami proses
penuaan dan sedang dalam proses meninggalkan dunia ini. Tubuhnya sedikit demi
sedikit mulai melemah kendatipun ruhnya tidaklah berubah menjadi tua. Sebagian
besar manusia sangat terpukau oleh ketampanan atau merasa rendah dikarenakan
keburukan wajah mereka semasa masih muda. Pada umumnya, manusia yang dahulunya
berwajah tampan ataupun cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu
berwajah tidak menarik merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan
adalah bukti nyata yang menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau
keburukan penampilan seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika
yang dinilai dan dibalas oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang
diperlihatkan seseorang kepada Allah.
Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa
satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala
ketidaksempurnaan adalah Allah, dan iapun mengagungkan kebesaran Allah. Allah
menciptakan setiap kelemahan manusia dengan sebuah tujuan ataupun makna.
Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada
kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam
kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan
mendambakan agar Allah menciptakan dirinya di akhirat kelak bebas dari segala
kelemahan.
Segala kelemahan manusia mengingatkan akan satu hal yang menarik untuk
direnungkan: tanaman mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah yang hitam
ternyata memiliki bau yang demikian harum. Sebaliknya, bau yang sangat tidak
sedap muncul dari orang yang tidak merawat tubuhnya. Khususnya bagi mereka yang
sombong dan membanggakan diri, ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka
pikirkan dan ambil pelajaran darinya.
Bagaimana beberapa karakteristik tubuh manusia
membuat anda berpikir?
Ketika melihat diri sendiri di dalam cermin, seseorang berpikir tentang
berbagai hal yang sebelumnya tak pernah muncul dalam benaknya. Sebagai contoh:
bulu mata, alis, tulang belulang dan gigi-giginya tidak tumbuh memanjang terus
menerus. Dengan kata lain, di bagian tubuh dimana pertumbuhan anggota badan
yang terus menerus akan menjadi sesuatu yang menyusahkan dan menghalangi
pandangannya, maka anggota tubuh tersebut berhenti tumbuh. Sebaliknya, rambut
yang kelihatan indah jika tumbuh memanjang, tidak berhenti tumbuh. Disamping
itu, ada keseimbangan yang sempurna dalam pertumbuhan tulang-belulang. Misalnya
tulang anggota bagian atas tidak akan tumbuh memanjang begitu saja sehingga
menyebabkan badan kelihatan lebih pendek. Semua tulang ini berhenti pada saat
tertentu seakan-akan tiap-tiap tulang tersebut tahu seberapa panjang mereka
harus tumbuh.
Sudah barang tentu, semua yang telah disebutkan di sini terjadi akibat dari
reaksi-reaksi fisika dan kimia yang terjadi dalam tubuh. Orang yang merenungkan
hal ini akan juga bertanya-tanya bagaimana reaksi-reaksi ini terjadi. Siapa
yang memasukkan hormon-hormon dan enzim-enzim yang bertanggung jawab atas
pertumbuhan ke dalam tubuh sesuai dengan dosis yang dibutuhkan? Dan siapakah
yang mengontrol kadar dan waktu sekresi dari hormon dan enzim tersebut?
Tidak dapat dipungkiri bahwa mustahil untuk mengatakan bahwa ini semua
terjadi secara kebetulan. Tidaklah mungkin sel-sel atau atom-atom pembentuk
manusia yang tidak mempunyai kesadaran tersebut melakukan hal yang demikian
dengan sendirinya. Ini adalah bukti bahwa fenomena tersebut terjadi karena
kekuasaan Allah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Ketika dalam perjalanan…
Setelah bangun tidur dan bersiap-siap di pagi hari, orang-orang kemudian
berangkat ke kantor, sekolah atau melakukan pekerjaan mereka di luar rumah.
Bagi orang yang beriman, keberangkatan ini adalah awal dari melakukan amal
kebaikan yang mendatangkan ridha Allah. Ketika meninggalkan rumah dan bepergian
ke luar, seseorang akan menjumpai banyak hal yang dapat ia pikirkan, misalnya
ribuan manusia, kendaraan, pohon, besar dan kecil, dan beragam hal yang
terdapat di banyak tempat. Dalam hal ini, pandangan orang yang beriman sudah
jelas, yakni bahwa ia berusaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin manfaat dari
yang ia jumpai di sekelilingnya. Ia memikirkan tentang sebab-sebab dari peristiwa-peristiwa
yang ada. Karena apa yang sedang ia saksikan terjadi dengan pengetahuan dan
kehendak Allah, maka pasti ada sebuah makna di balik peristiwa atau pemandanga
itu. Karena Allah lah yang memampukannya untuk pergi ke luar rumah serta
meletakkan semua pemandangan ini di depan matanya, maka sudah pasti dari
pemandangan-pemandangan tersebut ada yang mesti dilihat dan dipikirkan. Sejak
bangun tidur, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya umur satu hari
lagi di dunia yang dapat digunakannya sebagai modal untuk mendapatkan pahala
dari Allah. Kini, ia tengah memulai perjalanan yang dapat mendatangkan pahala
baginya. Menyadari hal ini, ia teringat akan firman Allah: "Dan Kami
jadikan siang untuk mencari penghidupan", (QS. An-Naba’, 78 :11). Berpedomankan
ayat tersebut, ia membuat rencana tentang bagaimana menghabiskan waktunya di
siang hari dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak hanya bermanfaat
untuk orang lain akan tetapi juga mendatangkan ridha Allah.
Ketika berada dalam mobilnya atau di atas kendaraan apapun dengan pola
pikir yang demikian, ia pun kembali bersyukur kepada Allah. Tidak menjadi
masalah, betapapun jauhnya jarak perjalanan yang harus ia tempuh, ia masih
memiliki sarana untuk pergi ke sana. Untuk memudahkan manusia, Allah telah
menciptakan beragam sarana transportasi untuk membantu manusia dalam melakukan
perjalanan. Bahkan kemajuan teknologi saat sekarang telah menyediakan sarana
transportasi baru berupa mobil, kereta api, pesawat terbang, kapal laut,
helikopter, bus…Ketika merenungkan hal ini, seseorang akan kembali teringat:
Allah lah yang telah menciptakan teknologi untuk membantu manusia.
Setiap hari, para ilmuwan membuat penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi
baru yang dapat memudahkan hidup kita. Mereka menghasilkan ini semua melalui
sarana yang diciptakan Allah di bumi. Seseorang yang memikirkan tentang masalah
tersebut akan menikmati perjalanannya sambil bersyukur kepada Allah atas
kemudahan yang diberikan kepadanya.
Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, ia menyaksikan tumpukan sampah
dengan bau yang tak sedap, tempat-tempat kumuh di sepanjang jalan. Hal ini
menimbulkan beragam pikiran dalam benaknya:
Ketika masih berada di dunia, Allah telah memberikan informasi kepada kita
yang membantu kita memperoleh gambaran tentang surga dan neraka; atau
mengira-ngira keadaan kedua tempat ini dengan menggunakan perbandingan.
Tumpukan sampah, bau yang tidak sedap dan daerah-daerah kumuh dapat menimbulkan
stres atau tekanan dalam jiwa seseorang. Tak seorangpun ingin tinggal di tempat
tersebut. Keadaan ini mengingatkan seseorang tentang neraka dan ayat-ayat yang
mengisahkan neraka. Di banyak ayat-ayat Al-Qur'an Allah telah menceritakan
segala sesuatu yang tidak menyenangkan, gelap serta menjijikkan tentang neraka:
Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih, dan
dalam naungan asap yang hitam.
Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. (QS. Al-Waaqi’ah, 56:41-44)
"Dan apabila
mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu,
mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka):
"Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah
kebinasaan yang banyak" (QS. Al-Furqaan, 25:13-14)
Dengan memikirkan
ayat-ayat di atas, orang tersebut berdoa agar Allah menjauhkannya dari siksa
neraka dan mengampuni segala kesalahannya.
Sebaliknya, seseorang
yang tidak menggunakan cara berpikir yang demikian akan menghabiskan waktunya
dengan menggerutu, kesal dan selalu mencari kambing hitam dari setiap
permasalahan. Ia marah sekali kepada orang-orang yang menumpuk sampah tersebut
dan pihak pemerintahan daerah setempat yang terlambat untuk mengumpulkan dan
membuangnya. Sepanjang hari pikirannya disibukkan dengan hal-hal seperti: jalan
raya yang penuh dengan lubang; orang-orang yang menyebabkan lalu lintas macet;
badannya yang basah kuyup kehujanan akibat ulah badan meteorologi yang salah
dalam memperkirakan cuaca; cemoohan kasar dari bossnya, dan lain sebagainya. Namun,
pikiran yang sia-sia ini tidaklah bermanfaat dalam kehidupan akhiratnya nanti.
Seseorang mungkin berhenti sejenak kemudian berpikir apakah ia seharusnya
menghiraukan banyak hal. Sungguh, banyak orang mengatakan bahwa alasan utama
yang mencegah mereka dari berpikir adalah segala kesibukan yang mengharuskan
mereka bekerja keras terus-menerus di dunia.Mereka berdalih bahwa mereka tidak
mampu berpikir karena sibuk dengan masalah pangan, perumahan dan kesehatan.Akan tetapi ini hanyalah sekedar alasan untuk mengelak. Tanggung jawab dan
kondisi tersebut tidak ada hubungannya dengan berpikir sebagaimana yang
dikehendaki di sini. Seseorang yang berusaha untuk berpikir dalam rangka
mencari ridha Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Ia akan melihat bahwa,
seiring dengan bergantinya hari, beragam persoalan yang biasanya menjadi
masalah baginya satu demi satu terselesaikan; hingga ia dapat meluangkan waktu
untuk berpikir dan berpikir lagi. Hanya orang-orang yang beriman sajalah yang
sadar, paham dan mengalami hal yang demikian.
Bagaimana dunia yang
berwarna-warni mendorong
seseorang berpikir?
Masih dalam
perjalanannya, ia terus berusaha melihat keajaiban dari ayat-ayat ataupun
ciptaan Allah di sekitarnya, dan memuji Allah ketika memikirkan ini semua. Ketika
melihat ke luar melalui jendela mobilnya, ia menyaksikan dunia yang penuh
dengan beragam warna. Lalu ia pun berpikir: "Bagaimana segala sesuatu akan
terlihat seandainya dunia ini tidak berwarna?"
Lihatlah
gambar-gambar di bawah dan anda pun mulai berpikir.Apakah kenikmatan yang kita
rasakan dari memandang laut, pegunungan atau bunga yang tidak berwarna
sebanding dengan sebagaimana yang anda lihat sekarang?Apakah pemandangan
langit, buah, kupu-kupu, pakaian dan wajah-wajah manusia sebagaimana yang terlihat
oleh anda sekarang memberikan kepuasan?Adalah nikmat dari Tuhan bahwa kita
hidup di sebuah dunia yang cerah ceria dan memiliki beragam warna.Setiap warna
yang kita lihat di alam, keseimbangan yang sempurna dari warna-warna makhluk
hidup, semuanya adalah tanda-tanda tentang karya cipta dan seni khas Allah yang
tak tertandingi.Beragam warna dari bunga atau burung; dan keharmonisan atau
corak yang anggun antara warna-warna yang ada; bahwa tak satupun warna di alam
ini yang mengganggu penglihatan kita; warna lautan, langit, pohon-pohon yang
demikian serasi sehingga menimbulkan kedamaian dan tidak melelahkan mata kita,
semua ini menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah. Dengan merenungkan beberapa
fenomena tersebut, seseorang akan paham bahwa setiap sesuatu yang ia lihat di
sekelilingnya adalah hasil dari ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas dan
absolut. Setelah sadar akan segala nikmat yang Allah anugerahkan ini, ia pun
menjadi hamba yang takut kepada Allah dan memohon perlindungan kepada-Nya agar
tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak bersyukur. Dalam
Al-Qur'an, Allah mengisahkan fenomena warna-warna, dan berfirman bahwa hanya
mereka yang memiliki pengetahuan, yakni mereka yang menyelami lebih jauh dengan
berpikir dan menarik kesimpulan serta pelajaran dari fenomena ini lah yang
memiliki rasa takut kepada Allah:
"Tidakkah kamu
melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan
hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya.Dan di antara gunung-gunung
itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula)
yang hitam pekat.Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang
melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan
jenisnya).Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama.Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS.
Faathir, 35: 27-28).
Bagaimana sebuah
mobil jenazah yang melintas di
jalan mendorong
seseorang untuk berpikir?
Seseorang yang sedang
bergegas menuju ke suatu tempat secara tiba-tiba berpapasan dengan mobil
jenazah.Sungguh ini adalah kesempatan yang baik untuk berhenti sejenak dan
menenangkan diri. Pemandangan yang ia temui mengingatkannya akan kematian.
Suatu hari ia juga akan berada di mobil jenazah itu. Tiada keraguan tentang
terhadapnya, tak peduli seberapa besar usaha untuk menghindarinya, cepat atau
lambat kematian pasti akan datang menghampirinya. Tak peduli apakah ia sedang
berada di tempat tidurnya, ketika dalam perjalanan, atau ketika berlibur, ia
pasti akan meninggalkan dunia ini. Kematian adalah kenyataan yang tidak dapat
dihindari.
Di saat yang demikian, seorang mukmin teringat akan ayat Allah berikut:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada
Kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal
yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang
tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal
di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,
(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya." (QS. Al-Ankabuut,
29: 57-59).
Keyakinan seseorang bahwa jasadnya akan juga dimasukkan dalam peti mati,
ditimbun tanah oleh kerabatnya, namanya akan diukir diatas kuburan, akan
menghilangkan kecintaannya kepada dunia. Seseorang yang dengan ikhlas dan
secara sadar berpikir tentang hal ini paham bahwa tidaklah masuk akal untuk
mengklaim kepemilikan tubuh yang suatu hari akan membusuk di dalam tanah.
Dalam ayat di atas, Allah memberikan kabar gembira berupa surga setelah
kematian kepada mereka yang sabar dan bertawakal kepada Allah. Oleh karenanya,
dengan berpikir bahwa suatu hari ia akan mati, seorang mukmin akan berusaha
menjalani hidup dengan akhlaq yang baik sebagaimana yang diperintahkan Allah
untuk meraih surga. Setiap saat ia teringat akan dekatnya kematian, tekadnya
untuk mendapatkan surga semakin menguat dan mendorongnya untuk senantiasa
berusaha bertingkah laku sesuai dengan akhlaqnya yang semakin lama semakin
baik.
Sebaliknya, orang-orang yang condong memikirkan hal-hal yang lain, dan
menghabiskan hidup dengan angan-angan kosong, tidak berpikir bahwa suatu hari
hal yang sama pasti akan menimpa mereka meskipun mereka berpapasan dengan mobil
jenazah, setiap hari melewati kuburan atau bahkan salah satu orang yang paling
dicintai meninggal dunia di samping mereka sendiri.
Di siang hari…
Ketika menyaksikan segala peristiwa yang ditemuinya sepanjang hari, orang
beriman selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah dan berusaha untuk
memahami makna-makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Ia menanggapi setiap kebaikan ataupun malapetaka sebagai sesuatu yang
memiliki kebaikan sebagaimana dikehendaki Allah. Di mana saja ia berada, di
sekolah, di tempat kerja ataupun di pasar, dan dengan berprasangka dan berpikir
bahwa Allahlah yang menciptakan setiap sesuatu, ia selalu berusaha memahami
keindahan-keindahan dan makna tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa yang
diciptakan-Nya untuk kemudian menjalani hidup dengan mematuhi ayat-ayat Allah.
Sikap orang mukmin ini digambarkan dalam Al-Qur'an:
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh
jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari)
membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan
penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya
Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari
apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada
mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya
tanpabatas." (QS. An-Nuur, 24: 37-38)
Bagaimana orang berpikir ketika menghadapi
kesulitan-kesulitan yang ditemuinya dalam pekerjaan?
Manusia mungkin menghadapi berbagai macam kesulitan selama satu hari penuh.
Namun apapun kesulitan tersebut, hendaklah ia berkeyakinan kepada Allah dan
berpikir bahwa "Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita kerjakan dan
pikirkan dalam hidup di dunia. Ini adalah kenyataan yang sangat penting yang
seharusnya tidak pernah kita lupakan sekejap pun. Oleh karenanya, ketika
menemui kesulitan dalam setiap hal yang kita lakukan atau pikirkan, sehingga
tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita hendaknya selalu ingat bahwa semua
kesulitan ini telah dihadapkan oleh Allah kepada kita untuk menguji perbuatan
kita."
Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak seseorang ini berlaku untuk semua
peristiwa, besar atau kecil, yang ia jumpai sepanjang hari. Sebagai contoh,
seseorang membayar lebih tanpa sengaja akibat salah pengertian atau
kecerobohan; sebuah file yang telah diselesaikan dalam waktu berjam-jam dengan
menggunakan komputer dapat hilang begitu saja akibat terputusnya aliran
listrik; seorang pelajar gagal dalam ujian universitas meskipun ia telah
belajar secara sungguh-sungguh; seseorang terpaksa menghabiskan harinya
menunggu dalam antrian untuk mendapatkan pekerjaan akibat birokrasi yang
terlalu rumit; dokumen yang hilang dapat menjadi masalah yang menyebabkan pekerjaan
seseorang tidak karuan; seseorang ketinggalan pesawat, atau bus ketika hendak
pergi ke suatu tujuan yang mesti dihadirinya seawal mungkin…Ada banyak sekali
peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang dalam hidup yang dianggapnya
merupakan sebuah kesulitan atau "masalah".
Ketika mengalami semua peristiwa tersebut, orang yang beriman akan berpikir
dan ingat bahwa Allah menguji perilaku dan kesabarannya; sehingga tidaklah
masuk akal bagi orang yang yakin bahwa ia akan mati dan mempertanggung jawabkan
perbuatannya di akhirat terpengaruh dengan hal-hal serupa dan menghabiskan
waktunya dengan perasaan takut dan khawatir akan hal tersebut. Ia paham bahwa
ada sebuah kebaikan di balik semua peristiwa ini. Ia tak pernah
mengatakan "Aduh" terhadap kejadian apapun. Ia berdoa kepada Allah
untuk memudahkan pekerjaan-pekerjaannya dan menjadikan segala sesuatunya
sebagai kebaikan.
Ketika kesulitan
tersebut telah berlalu dengan datangnya kemudahan, ia berpikir bahwa ini adalah
jawaban dari doanya kepada Allah, Allah mendengarkan dan, kemudian, mengabulkan
doa-doanya. Pada akhirnya ia pun bersyukur kepada Allah.
Ketika menjalani hari
dengan prinsip berpikir seperti ini, maka seseorang tak akan pernah putus
harapan, merasa khawatir, menyesal ataupun menderita terhadap apapun yang
dialaminya. Ia tahu bahwa Allah telah menciptakan semua ini untuk sebuah
kebaikan dan keberkahan. Tidak hanya itu, ia berpikir yang demikian tidak hanya
ketika terjadi peristiwa-peristiwa besar yang menimpanya, namun juga di semua
hal yang rumit, besar ataupun kecil, yang ia jumpai dalam kehidupan
sehari-hari.
Coba pikirkan, ada
orang yang tidak mendapati urusannya yang penting terselesaikan sebagaimana
yang ia kehendaki. Ataupun orang yang ketika hampir saja meraih tujuan,
dihadapkan pada sebuah masalah yang serius.Orang ini mendadak menjadi sangat kecewa, merasa khawatir dan tertekan.
Pendek kata, dirinya dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk. Sebaliknya,
seseorang yag berpikir bahwa ada sesuatu kebaikan pada semua hal, akan berusaha
menemukan makna-makna tersembunyi yang Allah tunjukkan padanya melalui
peristiwa tersebut. Ia berpikir bahwa mungkin Allah telah melakukan ini semua
untuk memberinya peringatan agar lebih berhati-hati dan serius dalam menangani
masalah. Dengan demikian, ia pun kembali melakukan persiapan-persiapan yang
lebih matang, serta bersyukur kepada Allah sambil mengatakan "mungkin ini
membantu mencegah timbulnya malapetaka yang lebih besar lagi".
Seseorang yang ketinggalan bus ketika hendak menuju suatu tempat, berpikir:
"mungkin keterlambatan dan ketertinggalan saya dari bus tersebut telah
menyelamatkan saya dari kecelakaan atau bahaya yang lain". Ia berpikir
lagi: "mungkin masih banyak lagi hikmah-hikmah tersembunyi yang
serupa". Banyak sekali contoh-contoh semisal yang dapat ditemukan dalam
kehidupan manusia. Yang paling penting adalah rencana-rencana seseorang tidak
harus selalu terlaksana sesuai dengan yang ia kehendaki. Secara mendadak ia
mungkin mendapati dirinya berada dalam situasi yang sangat berbeda dari apa
yang ia rencanakan. Dalam kondisi yang demikian, seseorang yang berkepribadian
dan berperilaku secara tenang serta senantiasa mencari kebaikan dari sebuah
peristiwa akan memperoleh keberuntungan. Hal ini dikarenakan Allah berfirman
dalam ayat-Nya:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 2:
216)
Sebagaimana firman
Allah di atas, kita tidak mengetahui tetapi Allah mengetahui. Karena itu, hanya
Allahlah yang mengetahui apa yang baik dan yang tidak baik untuk kita. Segala
yang menimpa manusia hanyalah agar manusia mengambil Allah Yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang sebagai tempat mengadu dan meminta pertolongan, serta
menyerahkan diri kepada Allah sepenuhnya.
Hal-hal yang terpikirkan ketika sedang mengerjakan
sesuatu…
Manakala sedang mengerjakan sesuatu, seharusnya seseorang tidak membiarkan
akalnya kosong, akan tetapi senantiasa memikirkan segala sesuatu yang baik.
Otak manusia memiliki kemampuan untuk berpikir lebih dari satu hal pada saat
yang bersamaan. Seseorang yang sedang mengendarai mobil, membersihkan rumah,
bekerja mencari nafkah, berjalan di jalan raya, pada saat yang sama dapat
berpikir hal-hal yang baik.
Ketika membersihkan rumah, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya
sarana seperti air dan detergen. Sadar bahwa Allah menyukai kebersihan dan
orang yang membersihkan diri, ia memandang pekerjaan yang sedang ia lakukan
sebagai bentuk ibadah sehingga dengan melakukan hal tersebut ia mengharapkan
ridha Allah. Di samping itu, ia merasa bahagia karena telah mempersiapkan
tempat yang nyaman untuk orang lain dengan membersihkan tempat tinggalnya.
Seseorang yang tengah mengerjakan sesuatu, terus-menerus berdoa kepada
Allah dan memohon agar dimudahkan dalam pekerjaannya karena yakin bahwa ia
tidak dapat melakukan suatu pekerjaan dengan baik tanpa pertolongan Allah. Kita
mengetahui di dalam Al-Qur'an bahwa para Nabi memberikan contoh kepada kita dengan
terus menerus menghadapkan diri mereka kepada Allah dalam kesendirian, dan
selalu mengingat Allah ketika mengerjakan sesuatu. Diantara contoh ini adalah Nabi Musa. Beliau menolong dua orang wanita yang
ditemuinya dalam perjalanan. Setelah membantu memberikan minum untuk binatang
gembalaan mereka, beliau berdoa kepada Allah:
"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di
sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di
belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).
Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat
begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya),
sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". Maka Musa
memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke
tempat yang teduh lalu berdo’a: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat
memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qashas, 28:
23-24)
Contoh lain yang kita
temui dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah ini adalah Nabi Ibrahim dan
Nabi Isma’il. Allah menceritakan bahwa kedua Nabi ini memikirkan kemaslahatan
orang-orang mukmin yang lain pada saat keduanya sedang melaksanakan suatu
pekerjaan. Mereka berdoa kepada-Nya sehubungan dengan pekerjaan yang sedang
mereka lakukan:
"Dan (ingatlah),
ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail
(seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami),
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan
kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan
(jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan
tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah
taubat kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan
mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (QS.
Al-Baqarah, 2: 127-129)
Memikirkan Ayat-Ayat
Al-Qur’an
Al-Qur'an adalah kitab terakhir yang Allah turunkan bagi semua manusia.
Setiap orang yang hidup di bumi wajib mempelajari Al-Qur'an dan melaksanakan
perintah-perintahnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mempelajari ataupun
melaksanakan apa yang Allah perintahkan dalam Al-Qur'an kendatipun mereka
menerimanya sebagai sebuah kitab yang diwahyukan. Ini adalah akibat dari belum
memikirkan tentang Al-Qur'an tetapi sekedar mengetahui dari informasi yang
didapat dari sana sini. Sebaliknya, bagi orang yang berpikir, Al-Qur'an
memiliki kedudukan dan peranan yang sangat besar dalam kehidupannya.
Pertama-tama, orang yang "berpikir" ingin mengetahui tentang
Pencipta yang telah menciptakan dirinya dan jagad raya di mana ia tinggal dari
ketiadaan, yang telah memberinya kehidupan ketika dirinya belum berwujud, dan
yang telah menganugerahkan kepadanya nikmat dan keindahan yang tak terhitung
jumlahnya; dan ia pun mempelajari tentang bentuk-bentuk perbuatan yang diridhai
Allah. Al-Qur'an, yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya, adalah petunjuk yang
memberikan jawaban atas pertanyaan manusia di atas. Dengan alasan ini, manusia
perlu mengetahui kitab Allah yang diturunkan untuknya sebagai petunjuk yang
dengannya ia membedakan yang baik dari yang buruk, merenungkan setiap ayatnya
dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan dengan cara yang paling tepat dan
diridhai.
Allah berfirman tentang tujuan diturunkannya Al-Qur'an untuk manusia:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29)
"Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah
peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran
daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya
kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita)
bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun."(QS. Al-Muddatstsir, 74: 54-56)
Banyak orang membaca Al-Qur'an, namun yang penting adalah sebagaimana yang
Allah nyatakan dalam ayat-Nya yakni merenungkan tiap ayat Al-Qur'an, mengambil
pelajaran dari ayat tersebut dan memperbaiki perilaku seseorang sesuai dengan
pelajaran yang terkandung di dalamnya. Orang yang membaca ayat: "Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6), misalnya,
akan merenungkan ayat ini: ia paham bahwa Allah menciptakan kemudahan disamping
setiap kesulitan, karena itu yang ia harus lakukan ketika menemui sebuah
kesulitan adalah percaya penuh kepada Allah dan menantikan kemudahan yang akan
datang kemudian. Dengan janji Allah ini, ia melihat bahwa putus harapan atau
menjadi panik di saat munculnya kesulitan adalah sebuah tanda dari lemahnya
iman. Setelah membaca dan merenungkan ayat di atas, perilakunya selalu sejalan
dengan ayat tersebut sepanjang hidupnya.
Dalam Al-Qur'an, Allah mengisahkan beberapa pelajaran dari kehidupan para
nabi dan rasul yang hidup di masa lampau agar manusia dapat melihat bagaimana
perilaku, pembicaraan dan kehidupan manusia yang diridhai Allah, dan menjadikan
mereka sebagai panutan. Allah berfirman dalam beberapa ayat-Nya bahwa manusia
hendaknya memikirkan dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah para rasul
tersebut:
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Yuusuf, 12: 111)
"Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami
mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mu'jizat yang nyata." (QS.
Adz-Dzaariyaat, 51: 38)
"Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami
jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia." (QS. Al-Ankabuut, 29: 15)
Dalam Al-Qur'an, disebutkan beberapa ciri bangsa-bangsa kuno, akhlaq serta
bencana-bencana yang menimpa mereka. Adalah sebuah kesalahan yang besar untuk
memahami ayat-ayat ini hanya sebagai peristiwa sejarah dengan berbagai
peristiwa yang menimpa mereka. Sebab, sebagaimana di semua ayat yang lain,
Allah mengisahkan kehidupan bangsa-bangsa di masa lampau untuk kita renungkan
dan ambil pelajaran dari berbagai bencana yang menimpa bangsa-bangsa ini
sebagai pedoman dalam memperbaiki perilaku kita:
"Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu.
Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54: 51)
"Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan
paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang
yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai
pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah
dahsyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil
pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54: 13-17)
Allah telah menurunkan Al-Qur'an untuk semua manusia sebagai petunjuk. Oleh
karena itu, memikirkan setiap ayat Al-Qur'an dan menjalani hidup sesuai
Al-Qur'an dengan mengambil pelajaran dan peringatan dari setiap ayatnya adalah
satu-satunya cara untuk mendapatkan keridhaan, kasih sayang dan surga Allah.
Tentang apakah di dalam Al-Qur'an
Allah
mengajak manusia untuk berpikir?
"Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an), agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka memikirkan." (QS. An-Nahl, 16:
44)
Sebagaimana dalam ayat di atas, di banyak ayat-Nya yang lain, Allah
mengajak manusia untuk merenung. Memikirkan tentang apa-apa yang Allah
perintahkan kita untuk berpikir, dan melihat makna tersembunyi dan keajaiban
ciptaa-Nya adalah salah satu bentuk ibadah. Setiap hal yang kita renungkan akan
membantu kita untuk lebih mengetahui dan mengakui akan Kekuasaan,
Kebijaksanaan, Ilmu, Seni dan sifat-sifat Allah yang lain.
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan penciptaan
dirinya
sendiri
"Dan berkata
manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan
dibangkitkan menjadi hidup kembali?" Dan tidakkah manusia itu memikirkan
bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama
sekali?" (QS. Maryam, 19: 66-67)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan tentang
penciptaan
alam semesta
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera
yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan." (QS. Al-Baqarah, 2: 164)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan sifat
kehidupan dunia yang
sementara
"Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu
tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak.
hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula)
perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya,
tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami
jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir." (QS. Yuunus, 10: 24)
"Apakah ada
salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan,
kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang
masih kecil-kecil.Maka kebun itu ditiup
angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (QS. Al-Baqarah, 2:
266)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan
nikmat-nikmat yang mereka miliki
"Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan
gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua
buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan,
dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang
tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian
tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang
berpikir." (QS. Ar-Ra‘d, 13: 3-4)
Allah mengajak manusia untuk berpikir bahwa
seluruh alam semesta telah diciptakan untuk manusia
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di
bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
berpikir." (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun,
korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia
menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang
itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),
dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan
berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan
Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu
perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan
supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama
kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat
petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan
bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang
menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka
mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl, 16: 11-17)
Allah mengajak manusia untuk memikirkan tentang
dirinya sendiri
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri
mereka?" (QS. Ar-Ruum, 30: 8)
Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang
akhlaq yang baik
"Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan
timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan
sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku
adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat." (QS.
Al-An‘aam, 6: 152)
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat
mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl, 16: 90)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." (QS. An-Nuur,
24: 27)
Allah mengajak manusia ntuk berpikir tentang akhirat,
hari kiamat dan hari penghisaban.
"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan
(dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau
kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan
kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada
hamba-hamba-Nya."(QS. Aali ‘Imraan, 3:
30)
"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang
mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.
Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada
mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri
akhirat." (QS. Shaad, 38: 45-46)
"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu)
kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang
tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila
Kiamat sudah datang?" (QS. Muhammad, 47: 18)
Allah mengajak manusia untuk memikirkan makhluk
hidup yang Dia ciptakan
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di
bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin
manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan
tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke
luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat
yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS.
An-Nahl, 16: 68-69)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan adzab
yang
dapat secara tiba-tiba menimpanya
"Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang
kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu
orang-orang yang benar!" (QS. Al-An‘aam, 6: 40)
"Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan
serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya
kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan
tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS. Al-An‘aam,
6: 46)
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan
sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah)
selain dari orang yang dzalim?" (QS. Al-An‘aam, 6: 47)
"Dan tidaklah
mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua
kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil
pelajaran?" (QS. Yuunus, 10: 50)
"Dan tidaklah
mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua
kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil
pelajaran?" (QS. At-Taubah, 9: 126)
"Dan
sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami
binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia
dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat." (QS. Al-Qashas, 28: 43)
"Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu.
Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54: 51)
"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan
(mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya
mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-A‘raaf, 7: 130)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan tentang
Al-Qur'an
"Maka apakah
mereka tidak memperhatikan Al Qur'an?Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari
sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya."(QS. An-Nisaa’, 4: 82)
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah
telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang
mereka dahulu?" (QS. Al-Mu’minuun, 23: 68)
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29)
"Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu supaya
mereka mendapat pelajaran." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 58)
"Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah
peringatan.Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran
daripadanya (Al Qur’an)." (QS.
Al-Muddatstsir, 56: 54-55)
"Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami
telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman,
agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi
mereka.". (QS. Thaahaa, 20: 113)
Rasul-rasul Allah mengajak umatnya yang kurang
dalam hal pemahaman untuk berpikir
"Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah
ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku
mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa
yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan
yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS.
Al-An‘aam, 6: 50)
"Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak
membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk
kepadaku". Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan
yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki
sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan
Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil
pelajaran (daripadanya) ?" (QS. Al-An‘aam, 6: 80)
Allah mengajak manusia berpikir untuk melawan
pengaruh syaitan
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka
ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga
mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang
kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak
henti-hentinya (menyesatkan)." (QS. Al-A‘raaf, 7: 200-202)
Perintah Allah untuk mengarahkan orang yang diberi
penjelasan tentang ajaran agama agar berpikir secara mendalam
"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan
janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada
Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua
kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau
takut". (QS. Thaahaa, 20: 42-44)
Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang
kematian dan mimpi
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang
telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu
yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir." (QS. Az-Zumar, 39: 42)



