Moris Berman, 63 tahun, ahli sejarah kebudayaan kelahiran New York, yang memperoleh Ph D dari Johns Hopkins University, menulis buku Dark Ages America: The Final Phase of Empire (Norton, 2006), yang meramalkan imperium Amerika segera akan rubuh. Ia mendeskripsikan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak oleh peperangan, menderita karena kematian spiritual dan dengan intensif mengeskpor nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia dengan menggunakan senjata. Republik yang berubah menjadi imperium itu berada di dalam zaman kegelapan baru dan menuju rubuh sebagaimana dialami Kekaisaran Romawi
Apa yang tulis oleh Moris Berman tampaknya semakin menunjukkan kebenarannya. Pertama, AS adalah perabadaban emosial yang rusak oleh peperangan. Ya, memang perang tidak bisa dilepaskan dari negara adi daya ini. Bisa hampir dipastikan di mana ada konflik, di mana ada perang, kemungkinan di situ ada Amerika . Negara ini memang pecandu perang dengan berbagai alasan.
Jamil Salmi dalam violence
and democatic society mencatat negara Paman Sam ini antara tahun 1945 sampai
2001 saja sudah melakukan 218 kali intervensi terhadap negara lain. Amerika
juga merupakan otak kudeta berdarah di berbagai negara. Genocide atas nama
demokrasi dan perang melawan terorisme juga telah menimbulkan korban sipil yang
sangat besar di Irak dan Afghansitan. Pasca pendudukan AS, korban rakyat sipil
Irak hampir mencapai angka 1 juta orang.
Negara ini memang haus darah
dan mesin pembunuh. John Pike dari www.GlobalSecurity.org, sebuah grup riset,
tentara Amerika menghamburkan 250.000 peluru untuk menembak mati tiap seorang
gerilyawan. Biaya perang demikian besar. Staf Partai Demokrat di Kongres
menghitung dari 2002 sampai 2008, perang yang lebih panjang dibanding Perang
Dunia kedua itu, menghabiskan 1,3 trilyun dollar
Menurut Salmi AS juga
merupakan pendukung pemerintah refresif di berbagai negara. Mendukung
pemerintahan Syah Reza Pahlevi di Iran yang dikenal diktator, raja-raja Arab
yang refresif, termasuk Suharto di masa orde Baru. Pasca perang dingin negara
ini mendukung Musharaf penguasa diktator Pakistan yang kemudian dilengserkan
oleh rakyatnya , Husni Mubarak di Mesir, atau Karimov di Uzbekistan. Jangan
dilupakan negara ini merupakan pendukung setia rezim teroris Israel yang hingga
kini secara sistematis membunuh kaum muslim di Palestina.
Negara ini juga memang
mengalami krisis spritual yang akut. Kapitalisme dengan sistem sekulernya telah
mengerdilkan agama sekedar urusan ritual, moralitas, dan spritual. Sementara
dalam aspek sosial, politik, dan kenegaraan, agama dicampakkan. Kehidupan
sosial dan politik pun menjadi buas, rakus, dan kering karena tidak diatur
agama. Masyarakat pun menganggap agama tidak lagi menjadi begitu penting dalam
kehidupan mereka. Meskipun tentu saja banyak diantara mereka yang masih
beragama. Sebab mereka tidak melihat agama sebagai solusi praktis dalam
persoalan sosial politik mereka.
Implikasi dari pencampakan
agama ini , masyarakat AS mengalami kerusakan pranata sosial yang akut.
Tingginya tingkat kriminalitas, stress, pornografi , aborsi dan pelacuran
menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari negara kapitalis ini. Menurut studi
yang dilakukan oleh National Victim center pada tahun 1992, 1,3 wanita yang
berumur 18 tahun keatas di USA diperkosa dengan paksa setiap menit; 78 wanita
per jam; 1.871 wanita per hari, atau 683,000 korban per tahun. Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperkirakan, jumlah pengidap
virus tersebut mencapai 1,1 juta orang. . Sangat mengerikan!
Seperti kata Berman negara
adi daya ini juga intensif mengekspor nilai palsunya dengan ancaman sejata.
Atas nama HAM, Demokrasi,liberalisme, pasar bebas dan perang melawan terorisme
mereka melakukan apa saja termasuk menjajah Irak dan Afghanistan. Di sisi lain
ide-ide yang mereka usung penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan.
Mereka mengatakan penegakan
HAM berlaku sama bagi setiap umat manusia. Di sisi lain, negara Paman Sam ini
merupakan pelanggar HAM nomor wahid di dunia. Berdasarkan HAM seharusnya
seseorang baru bisa ditahan kalau setelah ada dakwaan yang jelas dan didampingi
pengacara. Tapi lihatlah apa yang dilakukan AS, puluhan ribu orang ditahan
tanpa ada dakwaan yang jelas, tanpa bukti dan tidak didampingi pengacara.
Mereka dijeblokan dan disiksa dalam penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan
penjara-penjara di negara-negara diktator lainnya yang mendukung AS.
Kisah memilukan seorang
muslimah Pakistan , DR Aafia Siddiqui mencerminkan peradaban busuk negara
kapitalis. Wanita yang dikenal ahli genetik dan biologi jaringan saraf ini hilang
bersama ketiga anaknya saat pulang ke Pakistan. Banyak yang menduga dia diculik
dan diserahkan otoritas Pakistan ke FBI.
Sekarang Aafia Siddiqui
menghadapi proses pengadilan politik di AS atas nama perang melawan terorisme.
Wanita dengan berat badan 45 kg saat dinterogasi ditembak dadanya. Wanita yang
lemah dan renta ini , berdasarkan cerita versi AS merebut senjata perwira AS
yang menahannya. Rehman direktur HAM Pakistan mengatakan cerita pemerintah AS
ini merupakan menjadi kebohongan terbesar di abad ke 21. Mereka bicara demokrasi harus
ditegakkan lewat dukungan rakyat dan tanpa kekerasaan (non violance). Tapi
lihatlah di Irak dan Afghanistan, demokrasi dipaksakan di negara dengan
senjata. Mereka bicara bahwa setiap rakyat berhak mengekspresikan keinginan
mereka, namun AS dengan berbagai cara menghalangi upaya kaum muslim di dunia
untuk menerapkan syariah dalam kehidupan negara dan politik mereka.
Negara-negara Barat dengan tudingan teroris menggunakan penguasa-penguasa
negeri muslim yang merupakan kaki tangan mereka untuk meredam, menghalangi,
hingga menyiksa siapapun yang ingin memperjuangkans syariah Islam.
Lonceng kematian ini pun
semakin kuat terdengar, dengan krisis keuangan yang dialami oleh AS dan
negara-negara Eropa saat ini. Lehman Brothers, salah satu perusahaan investasi
bank AS terbesar ini akhirnya dinyatakan Inilah akhir nasib suatu bank besar
dan tertua yang berdiri di negara bagian Alabama tahun 1844 dan jatuh begitu
saja– padahal di tahun 2007 Lehman masih melaporkan jumlah penjualan sebesar 57
bilyun dolar dan di bulan Maret lalu masih sempat dinyatakan oleh majalah
Business Week sebagai salah satu dari 50 perusahaan papan atas di tahun 2008.
Namun kini, Lehman bernilai tidak lebih dari cuma 2 bilyun dolar saja.Efek
domino dari krisis ini pun menjalar ke bidang lain. Pasar saham dunia
terguncang. Krisis ekonomi globalpun diambang pintu.
Ekonomi Kapitalisme tengah
tenggelam dalam kehancurannya. Kehancuran ekonomi kapitalisme tidak bisa
dibendung lagi. Meskipun masih ada yang menyakini AS akan mampu bertahan.
Ekonom dan profesor di University of Texas, James Galbraith meyakini
perekonomian AS akan mampu bertahan menghadapi hantaman krisis ini karena
posisi mata uang dollar masih cukup kuat. Sementara Gerald Friedman, ekonom,
profesor di University of Massachussets ragu mengatakan bahwa krisis ekonomi AS
adalah tanda-tanda berakhirnya sistem ekonomi kapitalis. Meski demikian ia
mengakui AS telah mengalami krisis finansial yang sangat serius dan jika salah
menanganinya akan menyebabkan resesi yang cukup serius bahkan depresi.
Namun yang jelas, krisis ini
akan terus membesar. Krisis ini juga kembali membuktikan bahwa sistem
kapitalisme sangat rapuh yang dikenal dengan The Bubble Economy . Ekonomi
kapitalisme bagaikan balon yang terus membesar namun sangat rapuh. Hizbut
Tahrir dalam bookletnya yang berjudul Sebab-sebab Kegoncangan Pasar Modal
Menurut Hukum Islam, telah menjelaskan pangkal kerapuhan dari sistem ekonomi
ini ada tiga : sistem perseroan terbatas (PT), sistem perbankan ribawi, dan
sistem uang kertas inkorvertibel (flat money).
Sistem diatas telah
menumbuhsuburkan ekonomi non riil yang nilai transaksinya jauh lebih besar dari
ekonomi riil. Terjadi pula kesenjangan dan penumpukan modal pada segelintir
orang. Majalah “The Economist” dalam analisisnya terhadap krisis
menggarisbawahi pandangan tersebut:” penumpukan kekayaan dan bencana adalah
bagian dari sistem keuangan Barat”
Sistem kapitalis dibangun
atas dasar kerakusan. Ideologi materialisme yang hanya mementingkan kekayaan
telah membuat masyarakat terutama pemilik modal besar menjadi rakus. Tidak
pernah puas terhadap produksi yang mereka hasilkan dan tidak pernah puas
terhadap prilaku konsumtif mereka. Ironisnya, mereka melanggar prinsip ekonomi
mereka sendiri yang mengatakan negara tidak boleh campur tangan. Lewat Bailout
, pemerintah Bush justru mengeluarkan dana 700 milyar US dollar untuk membantu
perusahaan AS yang akan ambruk.
Terakhir, menarik apa yang
dikatakan Gerald Friedman tentang apakah krisis ini akan menghancurkan sistem
kapitalisme. “Dan yang lebih penting lagi, sebuah sistem kapitalis atau sistem
sosial apapun hanya bisa dihancurkan oleh sistem yang berlawanan yang didukung
oleh munculnya kelas-kelas dalam perekonomian,” jawab Friedman. Ya memang benar
sistem kapitalis tidak akan hancur kalau tidak ada sistem yang berlawanan yang
menjadi alternative yang menentangnya . Bagi kita sistem yang berlawanan itu,
yang akan menghancurkan kapitalisme adalah sistem Khilafah yang akan menerapkan
ekonomi syariah. Semoga.
Referensi:Zonaekis.com
sumber : hizbut-tahrir.or.id
Oleh: Farid Wadjdi


